Suatu waktu di malam hari, seonggok puisi Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni, menggema setiap telinga manusia. Puisi itu tak sekadar kata-kata, ia berkamuflase dari larik menjadi tumpukan air yang tumpah ruah di bumi manusia. Tak seorang pun yang hendak pergi, kaki mereka kaku, jalanan basah, kepala tak berisi sesuatu apapun tentang ilmu pengetahuan. Hening, hanya suara hujan bulan Juni yang merekah.
Di sebuah jendela kamar, bersila seorang perempuan menanti penghabisan. Ia tak menyukai hujan di malam itu. Dengan wajah yang keluh, tampak tiada ceria sedikit pun yang hendak ia terbitkan. Masih ia menanti di jendela kamar. Pandangannya jauh, ia mencoba menelusuri malam dengan mata rembulan yang dia miliki. Sesaat pada pandangan itu, ia mendapati sebongkah tetesan hujan yang tidak seperti biasa.
“Bukankah itu tak seperti tetasan hujan?” Sebuah pertanyaan bersorak di dalam hatinya.
Tetesan hujan yang ia lihat muncul sekali dalam sesaat. Ia tertegun, lalu berdiri menengok sampai jauh ke bawah jendela. Ia tak menemukan apa-apa, ia menyela hujan. Perempuan itu kembali bersila dan terus-menerus memperhatikan hujan di jendela kamar miliknya.
Sampai pada malam yang gelap, rintikan hujan senantiasa berdering di atap-atap rumah. Bunyi nyaring air hujan membatasi segala percakapan manusia. Tiada sesuatu apapun tentang manusia yang bisa didengar. Ucapan terbatas, suara manusia ditutupi air hujan yang begitu keras. Tetapi manusia bukan berhala buatan kafir Quraisy yang hanya berdiam diri.
Manusia adalah makhluk keras kepala yang menolak tunduk pada sesuatu apapun. Bahkan pada tuhan sekalipun, manusia tiada hendak menunduk. Hingga pada kamar yang didiami perempuan di balik jendela itu terhentak mendengar suara ketukan keras pada pintu kamarnya.
“Mayangsara…, Mayangsara….!”
Perempuan di balik jendela kamar itu bernama Mayangsara. Mulanya Mayangsara belum terhentak oleh ketukan keras di balik pintu kamarnya. Hanya karena ketukan itu berulang-ulang, Mayangsara kemudian sadar dan beranjak dari lamunannya.
“Mayangsara….!!!” Suara manusia di balik pintu itu keras dan nyaring, “Di dalamkah kau sekarang?”
Meski tidak terlalu jelas Mayangsara mendapati suara manusia di balik pintu, namun segera ia menyela karena ketukan pintu yang sungguh keras. Mayangsara berdiri dari duduknya, cepat-cepat menuju arah pintu. Sebelum sampai kepada pintu yang dituju, pada perjalanannya, Mayangsara berusaha mencipta jejak langkah yang singkat.
Pikirannya masih bermuara sebongkah air hujan yang tak biasa ia lihat tadi. Langkah pertama, Mayangsara melangitkan doa. Langkah kedua, usaha mengusir pikiran tentang hujan. Langkah ketiga, mencipta jejak yang pergi bersama kenangan. Langkah keempat, Mayangsara tiba di pintu.
Rupanya tiga jejak langkah Mayangsara mencipta banyak perihal. Bagi Mayangsara, dari ketiga perihal, ia lebih memilih langkah pertama, melangitkan doa-doa mustajab untuk habiskan hujan bulan Juni malam itu.
Sesampainya di pintu, tiada langsung hendak membuka. Mayangsara terlebih dahulu menerangi mata rembulannya. Memperbaiki suasana hati yang jenuh, menyeka sepotong puisi di pelipis, kemudian memegang gagang pintu dengan tangan terpaksa.
Ada apa? suara pertama manusia yang keluar dari Mulut Mayangsara, tegas tapi memelas.
Sesaat pintu terbuka, tubuh seorang laki-laki tegak berdiri di hadapan Mayangsara. Lelaki itu tersenyum takzim melihat keadaan Mayangsara yang memelas. Seperti biasa lelaki itu kemudian berbicara dengan nada yang mengejek.
Dia terbiasa sedu sedan dengan Mayangsara yang cemberut, wajah yang memelas, dan kerutan di pelipis. Mereka Mayangsara dan lelaki itu saban hari menunjukkan cara bercinta yang dicemburui seluruh anak semesta. Keduanya adalah anak alam yang disetujui untuk saling temu, saling mencumbui, pula saling mengejek jika salah satunya terbenam pada malam.
Kau Mayangsara, hidup dalam mata rembulan. Sungguh kau sudah meredupkan matamu, elokmu, hanya karena hujan malam ini. Ucap lelaki bergurau.
Mayangsara yang sejak tadi mendapati dirinya diejek oleh lelaki itu beralih dan cepat-cepat memotong sejumlah ejekan berikutnya dari mulut laki-laki. Ia mengerti, ucapan dari laki-laki itu adalah muasal dari banyaknya ejekan-ejekan berikutnya.
Mayangsara sudah terbiasa dengan itu, sehingga sebelum lelaki itu melanjutkan ucapannya, Mayangsara telah mendahului searaya berucap, tiada rembulan yang hendak beranjak dariku, Ahmad. Kau Ahmad yang senantiasa merinduiku datang kau ke sini karena rindu, bukan? usai ucapan itu, Mayangsara Nampak legah dengan wajah yang usil.
Pertemuan dua anak manusia yang tiba-tiba. Tak saling hubung, tiada saling sapa, di antara rerintikkan hujan bulan Juni malam itu, kedua anak manusia bertemu untuk mencipta kisah. Tapi bukan kisah romansa, kisah cinta serupa di bumi manusia. Mereka mencipta kata, mencipta puisi, lalu saling menggores tinta pada wujud keabadian alam semesta.
Ahmad, lelaki yang sudah dahulu berada di balik pintu tak langsung diizinkan masuk oleh Mayangsara. Ia disengaja untuk berlama-lama di luar hingga penat serta dingin menyelimutinya. Nampaknya Mayangsara berhasil menjadikan Ahmad sebagai sang perindu. Bagaimana tidak, di waktu semua anak manusia sedang tak hendak berbuat, Ahmad, lelaki itu menembus hujan tanpa takut pada dingin.
Masih pada pertemuan di balik pintu, keduanya terlihat saling menukar senyum. Sesekali sampai pada tawa yang ditahan. Ini adalah pertemuan yang sebenarnya ditunggu oleh kedua orang itu. Masing-masing mereka telah menyediakan ruang untuk bersatu.
Betapapun itu, keduanya masih berjarak pada pertemuan. Mayangsara tak melangsungkan Ahmad untuk menyatu di dirinya. Ahmad yang sejak tadi tidak dibolehkan masuk kemudian lirih berucap, Bukankah seharusnya kita mesti menyatu malam ini? Mengapa kau enggan membolehkanku masuk? Tanya Ahmad.
Mengapa kau harus masuk? Mata kita sudah saling temu. Bukankah itu sudah menyatu? Seraya tersenyum mengejek, Mayangsara kembali menanya.
Sayang , aku rindu kepada mata rembulanmu. Tapi aku sungguh rindu pada temu yang tidak berjarak. Ahmad mendapati tangan Mayangsara yang begitu dingin. syang kepadamu. Hujan ini menunjuk ke luar jendela muasal dari puisi pak Sapardi. Semua anak manusia terlalu gemar dengan puisi itu. Puisi adalah doa. Puisi adalah mantra paling mutakhir. Sebab itu langit restu kepada doa-doa, kepada mantra-mantra.
Sehabis ungkapan itu, Ahmad dan Mayangsara menuju ke dalam relung. Tiada yang mendapati mereka. Hujan semakin keras. Guyurannya seakan mencipta nada. Ahmad dan Mayangsara telah sampai pada kepulangan, yakni pulang pada pertemuan yang dinantikan, pertemuan yang panjang, yang paling hangat, paling mesra, paling puitis dari karya sastra apapun. Sewaktu pertemuan itu, Mayangsara lupa pada sebongkah tetesan air hujan yang dia lihat tadi.
“Mayangsara aku sungguh cinta padamu.” Ucap Ahmad.
