Pagi itu, ia dibangunkan oleh Hana untuk menyantap sarapan pagi yang telah disiapkan. Seperti biasa, nasi ikan masih menjadi favorit lelaki pekerja keras itu.
Hana adalah wanita yang dinikahi lima tahun lalu, namun sampai sekarang mereka belum dikaruniai anak, karena Hana mengidap penyakit di dalam rahim.
Meskipun begitu, ia sangat menyayangi Hana layaknya seorang ibu, karena wanita itu begitu setia, kendati berada dalam kondisi terpuruk sekalipun.
Tepatnya di tahun 2022, bertepatan dengan musim cengkeh. Tentu, itu yang selalu dinantikan. Sebab, panen cengkeh dilakukan setahun sekali. Tanaman itu menjadi harapan mereka berdua.
Hari itu, Raju mulai sibuk menyiapkan peralatan kerjanya sambil memanaskan motor. Di sisi lain, Hana telah menyiapkan makanan untuk bekal Raju pada saat di kebun nantinya.
Beruntung, cuacanya juga sangat cerah pagi itu. Raju mulai menuju ke kebun sembari mengendarai Supra Fit keluaran 2007. Dengan sedikit rintangan pegunungan, Ia mulai sampai pada tempat tujuan.
Setelah sampai, Raju mulai menyiapkan tali. Kemudian perlahan memanjat pohon sembari mengikat tali di tiap-tiap dahan. Itu dilakukan agar pada saat memetik buah cengke bisa lebih mudah dijangkau.
Waktu menunjukan pukul 13:00, tak terasa karung berukuran 25 kilogram itu perlaham mulai penuh dengan buah cengkeh, Ia langsung bergegas turun untuk istirahat sejenak sambil makan siang.
Pada saat makan, cuaca terlihat begitu mendung, hati Raju mulai sedih, namun ia berfikir ini pasti hanya sementara, sebentar lagi pasti akan cerah kembali. Sebab hasil panen belum memenuhi target.
Sambil menikmati masakan buatan Hana, tiba-tiba angin berhembus kencang, awan hitam mulai melebar, ternyata hujan telah turun. Merasa panik, makanan yang baru disantap itu ditutup kembali ke rantang.
Tidak ada cara lain, berteduh adalah langkah paling efektif dibandingkan melanjutkan memetik cengkeh, namun Raju berharap hujan akan secepatnya berhenti sehingga tidak menghambat aktifitas panen.
Rasa kesal mulai menghantuinya. Sebab, sejam lebih hujan belum lagi berhenti. Sementara hasil panennya masi terbilang sedikit. Orang-orang mulai pulang, Raju kemudian memantapkan diri untuk ikut pulang.
Dari kejauhan, Hana telah menunggu di depan rumah sambil tersenyum, Raju dengan basah kuyup bercampur rasa kesal mulai turun dari motor menggenggam sekarung cengkeh dan masuk ke rumah.
Pada malam harinya, Raju dan Hana mulai memisahkan buah cengkeh dari tangkai sembari mendengar lagu favorit tahun 2000an yang dinyanyikan oleh Cahi yang berjudul “bercanda”.
Lagu itu mengingatkan kenangan 15 tahun lalu saat mereka masih duduk dibangku kulia. Waktu itu ia dan Hana berada dalam satu jurusan, yakni pertanian. Di mana, Raju selalu menyanyikan lagu itu ketika sedang marahan dengan Hana.
Malam makin larut, Hana menayakan bekal yang Ia buatkan karena tidak dihabiskan. Namun Raju menjelaskan dengan pelan bahwa, saat makan tiba-tiba hujan mulai turun sehingga tidak sempat dihabiskan.
Sembari mengobrol dan mendengar lantunan musik, sontak Hana mengatakan bahwa perutnya sakit. Ungkapan itu disampaikan dengan tatapan begitu pucat. Raju terlihat takut mendengar itu.
Ia lantas menggendong Hana untuk di bawah ke kamar agar bisa beristrahat, kemudian memberikan segelas air dan beberapa obat yang biasa diminum oleh Hana. Tak lama istrinya itu mulai tertidur.
Di saat Hana sedang tertidur, banyak hal yang dipikirkan oleh Raju. Sebab, keadaan istrinya saat ini mulai memburuk. Untuk itu, Raju berniat untuk mengantarkan istrinya ke dokter pada esok hari.
Saat pagi, Raju terlihat masih tertidur pulas, sementara Hana tengah menyiapakan sarapan serta bekal yang nantinya di bawah oleh Raju ke kebun.
Saat membangunkan, Raju sempat memarahi istrinya itu untuk tidak banyak bergerak, karena sakit yang dialami. Untuk itu, Raju mengurungkan niatnya tidak pergi memetik cengkeh.
Usai sarapan pagi, Raju memanggil Hana untuk mencoba pergi berobat ke dokter, akan tetapi Hana bersikeras tidak mau. Kata Hana, kejadian semalam itu karena ia hanya lupa meminum obat.
“Kamu sebaiknya pergi ke kebun. Karena kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan memetik cengkeh buat kita jual.” Kata Hana dengan nada pelan sembari mengusap pundak Raju.
Meskipun ada rasa kekhawatiran, Raju mulai bergegas ke kebun dan memetik cengkeh seperti biasanya. Lagi-lagi awan terlihat mulai gelap. Meski Raju sudah tahu sebentar lagi bakal turun hujan, ia tetap melanjutkan pekerjaan itu.
Kali ini berbeda, hujan hari itu begitu deras, tetapi hasil panen Raju lebih banyak dari hari kemarin. Melihat itu, Raju pulang dengan wajah gembira, meski pakaiannya terlihat basah kuyup.
Ketika sampai dirumah, Raju enggan melihat wanita yang dicintainya itu berdiri di depan rumah. Ini tidak seperti biasa. Dari situ, Raju mulai dibaluti dengan rasa khawatir.
Benar saja, ketika memasuki ruang tamu rumah, ia dikejutkan dengan sosok istrinya yang telah terkapar tak sadarkan diri sambil mengeluarkan darah dari hidungnya.
Merasa panik, Raju mulai membawa Hana ke Rumah sakit. Sayangnya, nyawa seorang istri yang begitu ia cintai tidak lagi tertolong, meskipun sudah dilakukan perawatan medis oleh dokter.
Ketika melihat istrinya itu, Raju hanya bisa terdiam. Air mata tak lagi tertahankan, hatinya begitu hancur, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Istri yang begitu ia cintai telah pergi meninggalkannya.
Raju begitu menyesal, mengapa sedari awal tidak mengantar istrinya untuk pergi berobat ke dokter. Namun apa daya, Tuhan punya kuasa. Raju hanya bisa paksanakan semuanya.
Semabari memeluk tubuh Hana, Ia menganis sejadi-jadinya. Kesedihan ini, sebelumnya belum pernah terlihat di wajah Raju. Ini kali pertama ia menangsi sambil berteriak sekencang-kencangnya.
“Tuhaaannn. Mengapa begitu cepat kamu mengambil Hana dari sisiku.” Teriak Raju sembari menggenggam kepala Hana.***
