TERNATE, Kalesang – Perekonomian Provinsi Maluku Utara mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 29,81 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan IV 2025. Di balik capaian tinggi tersebut, pemerintah mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan dengan memperkuat sektor non-ekstraktif, khususnya pertanian.
Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Maluku Utara, Sakop, dalam media briefing rutin “Torang Pe APBN” edisi Maret 2026 yang digelar secara daring, Selasa (17/3/2026).
Sakop menjelaskan, lonjakan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara masih didorong kuat oleh sektor hilirisasi nikel. Industri pengolahan tercatat tumbuh 50,93 persen, sementara sektor pertambangan dan penggalian meningkat 35,06 persen.
“Perekonomian kita mencatatkan kinerja regional yang tinggi. Namun, kita tidak boleh hanya fokus pada sektor ekstraktif. Sektor pertanian hanya tumbuh 4,93 persen, ini memerlukan perhatian agar ketahanan pangan dan keberlanjutan ekonomi jangka panjang tetap terjaga,” ujarnya.
Meski mencatatkan pertumbuhan tinggi, Sakop menyoroti masih adanya kesenjangan antara capaian makroekonomi dan kondisi riil masyarakat. Beberapa indikator menunjukkan tantangan yang perlu diwaspadai.
Inflasi Maluku Utara tercatat mencapai 5,85 persen, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di angka 4,44 persen. Selain itu, kesejahteraan petani dan nelayan juga mengalami tekanan.
Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat turun menjadi 102,38, sedangkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) ikut melemah ke angka 102,59.
“Dinamika ini menegaskan perlunya diversifikasi struktur ekonomi agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan secara lebih inklusif oleh masyarakat,” tegas Sakop.
Di sisi lain, indikator pembangunan manusia menunjukkan perbaikan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Maluku Utara meningkat menjadi 72,52, sementara angka kemiskinan berhasil ditekan hingga 5,59 persen.
Ketimpangan pengeluaran juga menunjukkan tren positif, tercermin dari Rasio Gini yang berada di angka 0,275. Angka ini mengindikasikan kesenjangan kesejahteraan antarpenduduk mulai menyempit.
Sakop menambahkan, stabilitas makroekonomi daerah tetap terjaga di tengah dinamika global yang dipengaruhi tensi geopolitik, termasuk antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada volatilitas harga komoditas seperti minyak dan emas.
“Ke depan, APBN akan terus hadir sebagai instrumen stabilisator untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ini,” pungkasnya.
Reporter: Nur Imaniar Naraya
Editor : Yunita Kaunar
