Penetapan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional berakar pada penghormatan terhadap Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, sekaligus penegasan bahwa pendidikan adalah jalan pembebasan, pemanusiaan, dan pembentukan karakter bangsa.
Tema resmi Hardiknas 2026“Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Tema ini menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam peningkatan mutu pendidikan, menempatkan pendidikan sebagai proses keteladanan, penguatan semangat, dan pemberian dorongan untuk bertumbuh. Pandangan ini tetap relevan ketika dunia pendidikan menghadapi tantangan baru seperti ketimpangan mutu, perubahan teknologi, dan tuntutan kompetensi abad ke-21.
Pedoman Hardiknas 2026 yang dikeluarkan Kemendikdasmen menunjukkan bahwa arah peringatan tahun ini tidak berhenti pada upacara, melainkan menegaskan agenda transformasi melalui revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, dan peningkatan kesejahteraan guru. Tiga arah ini penting karena menggambarkan bahwa pendidikan bermutu tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, tetapi juga oleh kualitas ekosistemnya. Sekolah memerlukan sarana yang layak, guru memerlukan dukungan profesional, dan peserta didik memerlukan pengalaman belajar yang sesuai dengan konteks sosialnya. Dengan demikian, Hardiknas semestinya dipahami sebagai ajakan untuk bergerak dari simbol ke pembenahan nyata.
Ternate sebagai Ruang Pendidikan yang Khas
Ternate memiliki karakter wilayah kepulauan yang membuat persoalan pendidikan tidak selalu sama dengan kota-kota besar di pusat pertumbuhan nasional. Data referensi Kemendikdasmen menunjukkan bahwa satuan pendidikan dasar di Kota Ternate tersebar di delapan kecamatan, yakni Pulau Ternate, Ternate Selatan, Ternate Utara, Moti, Pulau Batang Dua, Ternate Tengah, Pulau Hiri, dan Ternate Barat. Sebaran ini memperlihatkan bahwa penyelenggaraan pendidikan di Ternate berhadapan dengan realitas geografis yang menuntut tata kelola berbeda, terutama pada wilayah pulau yang aksesnya lebih terbatas dibanding pusat kota.
Distribusi sekolah dasar dan menengah pertama juga menunjukkan adanya perbedaan kepadatan layanan antarwilayah. Ternate Tengah memiliki 22 SD sederajat dan 3 SMP sederajat, sedangkan Pulau Hiri memiliki 4 SD dan 1 SMP; Pulau Batang Dua memiliki 4 SD dan 2 SMP; dan Moti memiliki 6 SD serta 3 SMP.Perbedaan ini memperlihatkan bahwa pemerataan pendidikan tidak cukup dibicarakan pada tingkat kota secara agregat, tetapi harus dilihat hingga ke pulau dan kecamatan. Dalam konteks kepulauan, jarak, transportasi, cuaca, dan keterhubungan layanan menjadi faktor yang sangat menentukan keberlanjutan proses belajar.
Selain faktor geografis, Ternate juga memiliki identitas sejarah dan budaya yang kuat sebagai bekas pusat kesultanan dan simpul peradaban rempah. Realitas ini memberi peluang besar bagi pengembangan pendidikan yang tidak tercerabut dari lingkungan sosialnya. Sekolah di Ternate dapat menjadikan sejarah lokal, nilai adat, bahasa, dan kearifan maritim sebagai sumber belajar yang memperkaya kurikulum nasional. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan formal, tetapi juga menanamkan identitas, kebanggaan lokal, dan tanggung jawab kebangsaan.
Tantangan Nyata Pendidikan di Ternate
Di tengah arus modernisasi, tradisi bukan penghambat pendidikan, melainkan fondasi nilai yang dapat memperkuat proses pembelajaran. Gagasan Ki Hadjar Dewantara sendiri menempatkan pendidikan sebagai proses pembudayaan, yaitu upaya menuntun tumbuh kembang anak agar selaras dengan nilai hidup masyarakatnya.Karena itu, pendidikan di Ternate perlu memberi ruang bagi kearifan lokal sebagai sumber makna, karakter, dan identitas peserta didik.
Tradisi di Ternate dapat diintegrasikan dalam pendidikan melalui berbagai bentuk. Pertama, sejarah lokal dapat dihadirkan dalam pembelajaran untuk membangun kesadaran historis peserta didik tentang peran Ternate dalam perjalanan bangsa. Kedua, nilai gotong royong, penghormatan kepada orang tua dan guru, serta etika hidup bermasyarakat dapat diposisikan sebagai basis pendidikan karakter. Ketiga, potensi budaya maritim dan lingkungan kepulauan dapat dijadikan konteks pembelajaran sains, geografi, bahasa, dan proyek lintas disiplin. Pendekatan seperti ini membuat sekolah lebih dekat dengan kehidupan nyata peserta didik.
Pentingnya tradisi juga terlihat pada kebutuhan menjaga keseimbangan antara identitas lokal dan tuntutan global. Ketika sekolah terlalu berorientasi pada capaian administratif atau materi yang seragam, peserta didik berisiko kehilangan hubungan dengan realitas sosialnya sendiri.
Sebaliknya, ketika tradisi dijadikan sumber belajar, pendidikan menjadi lebih kontekstual dan bermakna. Hardiknas di Ternate karena itu dapat dibaca sebagai panggilan untuk merawat warisan lokal sambil membuka jalan bagi kompetensi masa depan.
Salah satu tantangan utama pendidikan di Ternate adalah pemerataan akses dan mutu pada wilayah yang tersebar. Sebaran sekolah pada delapan kecamatan menunjukkan bahwa kebutuhan layanan pendidikan tidak dapat diseragamkan, sebab konteks Ternate Tengah tentu berbeda dengan Pulau Hiri, Moti, atau Pulau Batang Dua. Dalam kondisi kepulauan, keberadaan sekolah saja belum cukup; kualitas layanan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan guru, sarana pembelajaran, konektivitas, dan dukungan transportasi.
Data pendidikan penduduk juga menunjukkan pekerjaan rumah yang masih besar. Data Dukcapil 2024 yang dihimpun Databoks menyebutkan bahwa dari 210,84 ribu penduduk Kota Ternate, hanya 11,37 persen yang menamatkan pendidikan tinggi, sementara 22,95 persen tergolong tidak atau belum sekolah, dan 10,3 persen belum tamat SD. Angka ini tidak dapat dibaca secara sederhana sebagai kelemahan individu, melainkan sebagai isyarat bahwa pembangunan pendidikan memerlukan pendekatan yang lebih kuat pada aspek pemerataan kesempatan, keberlanjutan sekolah, dan motivasi melanjutkan pendidikan.
Tantangan berikutnya adalah kualitas pembelajaran. Mutu pendidikan tidak cukup diukur dari hadirnya sekolah dan berlangsungnya upacara Hardiknas, tetapi dari sejauh mana kelas mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, karakter, kreativitas, dan kecakapan hidup. Ketika pembelajaran masih terlalu berpusat pada hafalan atau administrasi, peserta didik tidak memperoleh bekal yang cukup untuk menghadapi perubahan sosial dan ekonomi. Karena itu, transformasi pendidikan di Ternate harus menyentuh jantung proses belajar-mengajar.
Arah Transformasi Pendidikan di Ternate
Transformasi pendidikan di Ternate perlu bergerak dalam kerangka yang berpijak pada konteks lokal dan arah kebijakan nasional. Tema Hardiknas 2026 tentang partisipasi semesta menegaskan bahwa pendidikan bermutu hanya mungkin terwujud ketika pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, dan dunia lain di luar sekolah terlibat secara aktif. Dalam konteks Ternate, partisipasi ini dapat diwujudkan melalui kolaborasi yang menjadikan sekolah sebagai pusat pembelajaran masyarakat, bukan institusi yang terpisah dari lingkungan sosialnya.
Ada beberapa arah transformasi yang layak diprioritaskan.
Pertama, memperkuat pendidikan kontekstual berbasis sejarah, budaya, dan lingkungan kepulauan Ternate. Kedua, memperluas digitalisasi yang disertai pelatihan guru dan pemerataan akses internet pada wilayah yang lebih rentan. Ketiga, memperbaiki kualitas pembelajaran dengan menekankan literasi, numerasi, karakter, dan pembelajaran berbasis proyek yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Keempat, memperkuat transisi pendidikan hingga jenjang lanjut agar semakin banyak anak Ternate tidak berhenti pada pendidikan dasar atau menengah.
Transformasi juga menuntut perubahan cara pandang. Pendidikan tidak boleh dipahami hanya sebagai urusan sekolah, tetapi sebagai tanggung jawab kebudayaan. Ketika keluarga, tokoh masyarakat, lembaga keagamaan, dan pemerintah daerah ikut mendukung budaya belajar, peserta didik akan tumbuh dalam ekosistem yang lebih sehat. Dalam arti ini, Hardiknas di Ternate harus menjadi momen membangun gerakan bersama, bukan sekadar mengenang masa lalu.
Makna Hardiknas memiliki resonansi yang khas. Kota ini tidak hanya dikenal sebagai wilayah kepulauan di Maluku Utara, tetapi juga sebagai ruang hidup yang menyimpan warisan sejarah, budaya, dan identitas lokal yang kuat. Pendidikan di Ternate karena itu tidak dapat dilepaskan dari dialog antara tradisi, tantangan geografis kepulauan, perkembangan teknologi, dan agenda transformasi pendidikan nasional. Ternate memiliki modal budaya dan sejarah yang kuat, tetapi juga menghadapi tantangan nyata pada aspek pemerataan layanan, kualitas pembelajaran, dan keberlanjutan pendidikan.
Hardiknas bagi Masa Depan Ternate
Makna terdalam Hardiknas di Ternate terletak pada kemampuannya menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dari masa lalu, Ternate mewarisi tradisi, sejarah, dan identitas yang kaya. Dari masa kini, Ternate menghadapi tantangan akses, mutu, dan digitalisasi pendidikan. Dari masa depan, Ternate memerlukan generasi yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga berkarakter, adaptif, dan bangga terhadap jati dirinya. Ketiga dimensi ini harus dipertemukan dalam kebijakan dan praktik pendidikan sehari-hari.
Jika tradisi dipertahankan tanpa pembaruan, pendidikan akan tertinggal. Jika teknologi diadopsi tanpa akar budaya, pendidikan akan kehilangan arah. Jika transformasi hanya dipahami sebagai pergantian istilah atau program, perubahan tidak akan menyentuh kualitas hidup peserta didik. Karena itu, pendidikan di Ternate membutuhkan keseimbangan: tradisi sebagai fondasi nilai, teknologi sebagai sarana kemajuan, dan transformasi sebagai strategi perbaikan yang berkelanjutan.
Di Ternate, guru memegang peran yang lebih luas daripada sekadar pengajar mata pelajaran. Dalam masyarakat yang memiliki ikatan sosial dan budaya yang kuat, guru juga berfungsi sebagai teladan, penghubung nilai lokal dengan pengetahuan modern, dan penggerak kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan.
Semboyan Ki Hadjar Dewantara tentang keteladanan, pembangun semangat, dan pemberi dorongan menjadi sangat relevan dalam konteks ini. Guru bukan hanya pelaksana kurikulum, tetapi penjaga arah peradaban lokal yang sedang bertransformasi.
Agar peran itu dapat dijalankan dengan baik, guru perlu memperoleh dukungan dalam tiga hal. Pertama, peningkatan kompetensi pedagogik dan literasi digital agar mampu merancang pembelajaran yang kreatif dan kontekstual. Kedua, dukungan sarana serta kebijakan yang tidak membebani guru dengan administrasi berlebihan. Ketiga, penguatan kesejahteraan dan penghargaan profesional agar guru dapat bekerja dengan tenang, fokus, dan bermartabat. Hardiknas semestinya menjadi ruang penghormatan nyata kepada guru, bukan hanya pujian simbolik tahunan.
Penekanan ini sangat tepat karena guru adalah aktor kunci yang menerjemahkan kurikulum, teknologi, dan nilai-nilai pendidikan menjadi pengalaman belajar konkret bagi peserta didik. Tanpa guru yang didukung secara profesional dan manusiawi, berbagai program pendidikan mudah berhenti pada dokumen kebijakan.
Penutup
Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Ternate seharusnya tidak berhenti pada upacara dan slogan. Momentum ini perlu diterjemahkan menjadi refleksi kritis dan langkah nyata untuk membangun pendidikan yang berakar pada tradisi lokal, terbuka pada teknologi, dan bergerak menuju transformasi yang inklusif.
Hardiknas 2 Mei memberi kesempatan untuk menegaskan kembali bahwa pendidikan adalah kerja besar peradaban. Kerja itu harus dimulai dari keberanian membaca kenyataan lokal secara jujur, merawat identitas budaya secara cerdas, dan memanfaatkan teknologi secara bijak.
Dengan cara itu, pendidikan tidak hanya menjadi instrumen mobilitas sosial, tetapi juga jalan untuk membangun Ternate yang lebih adil, berpengetahuan, dan bermartabat.
Peringatan Hardiknas dapat dibaca sebagai ruang perjumpaan antara pelestarian tradisi lokal, pemanfaatan teknologi pembelajaran, dan kebutuhan transformasi pendidikan di Ternate agar lebih inklusif, relevan, dan bermutu. Hardiknas 2 Mei pada akhirnya bukan hanya peringatan atas jasa Ki Hadjar Dewantara, tetapi juga panggilan moral untuk memastikan bahwa setiap anak di Ternate memperoleh pendidikan bermutu, manusiawi, membebaskan dan dapat berkembang lebih relevan dengan kebutuhan zaman. (*)
