Tenun Tidore dan Jalur Rempah Jadi Magnet Indonesia Timur di Hamburg
Jermana , Kalesang – Kekayaan budaya, sejarah, dan potensi ekonomi Indonesia Timur menjadi daya tarik utama dalam ajang Lange Nacht der Konsulate 2026 yang digelar di Hamburg, Jerman, Kamis (30/4/2026).
Melalui tema “Vibrant Spirit of Indonesia’s Eastern Archipelago”, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg berhasil memperkenalkan pesona Maluku, Maluku Utara, hingga Nusa Tenggara Barat kepada masyarakat Jerman Utara.
Antusiasme pengunjung terlihat sejak awal kegiatan. Area workshop Tenun Tidore yang digelar di aula KJRI Hamburg dipadati warga yang ingin melihat lebih dekat proses pembuatan kain tradisional tersebut. Sebagian bahkan berkesempatan mencoba langsung teknik menenun menggunakan alat tradisional yang dibawa oleh tim Yayasan Ngofa Tidore.
Selain workshop tenun, pengunjung juga disuguhkan berbagai pertunjukan musik dan tari tradisional, presentasi budaya, hingga sajian kuliner khas Indonesia Timur yang memperkaya pengalaman mereka mengenal keberagaman Nusantara.
Perwakilan Pemerintah Kota Hamburg, Dr. Alexander von Vogel selaku State Councillor for Energy at the Authority for Environment, Climate, Energy and Agriculture, hadir mewakili pemerintah setempat. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi atas peran KJRI Hamburg dalam mempererat hubungan Indonesia dan Kota Hamburg.
Ketertarikan Dr. Vogel terhadap budaya Indonesia Timur juga terlihat saat dirinya mencoba langsung proses menenun Tenun Tidore yang diperagakan oleh tim Yayasan Ngofa Tidore.
Kegiatan tersebut tidak hanya menampilkan aspek budaya, tetapi juga memperkenalkan sejarah panjang hubungan Indonesia dan Jerman. Salah satu yang diangkat adalah kisah Markus Mailopu, tokoh asal Maluku yang pernah terlibat dalam ekspedisi ilmiah bersama ilmuwan Jerman dan berkontribusi dalam pengumpulan pengetahuan lokal.
Pengunjung juga diperkenalkan pada tradisi Sasi, sebuah sistem kearifan lokal masyarakat Maluku dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa konsep keberlanjutan telah lama diterapkan oleh masyarakat Indonesia Timur jauh sebelum menjadi isu global.
Narasi mengenai Jalur Rempah turut menjadi bagian penting dalam pameran. Melalui kisah perdagangan pala dan cengkeh, pengunjung diajak memahami peran strategis Maluku sebagai pusat perdagangan dunia pada masa lalu.

Konsul Jenderal RI di Hamburg, Renata Siagian, mengatakan Indonesia Timur memiliki arti penting dalam sejarah global sekaligus menyimpan berbagai potensi yang terus berkembang hingga saat ini.
“Indonesia Timur tidak hanya penting dalam sejarah perdagangan dunia melalui pala dan cengkeh, tetapi juga mencerminkan praktik keberlanjutan yang telah hidup dalam masyarakat selama berabad-abad melalui tradisi seperti Sasi,” ujar Renata.
Menurutnya, kekayaan budaya dan sejarah tersebut menjadi modal penting dalam memperkenalkan Indonesia Timur kepada masyarakat internasional.
Renata menjelaskan bahwa narasi Jalur Rempah yang diangkat dalam kegiatan tersebut juga menggambarkan potensi ekonomi besar yang dimiliki kawasan Indonesia Timur.
“Narasi Jalur Rempah yang kami hadirkan bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang peluang masa depan. Indonesia Timur memiliki sumber daya alam yang besar dan posisi strategis dalam konektivitas maritim yang terus berkembang,” kata Renata.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Jerman, KJRI Hamburg berencana menggelar Forum on Spices pada pertengahan tahun 2026. Forum tersebut akan menjadi wadah promosi rempah-rempah Indonesia sekaligus membuka peluang kerja sama perdagangan yang lebih luas di pasar Jerman.
“Forum on Spices diharapkan dapat memperkuat posisi rempah Indonesia di pasar Jerman sekaligus membuka peluang kerja sama ekonomi yang lebih besar antara kedua negara, khususnya terkait potensi Indonesia Timur,” tambah Renata.
Bagi sebagian besar pengunjung, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama mengenal Indonesia di luar destinasi wisata yang selama ini lebih populer. Tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan besarnya minat terhadap kekayaan budaya dan sejarah kawasan timur Indonesia.
Salah seorang pengunjung mengaku terkesan setelah mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan selama acara.
“Saya tidak menyangka Indonesia Timur begitu luas dan kaya. Dari pameran dan presentasi yang ditampilkan, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang budaya, sejarah, dan tradisi masyarakat di sana,” ungkapnya.
Kegiatan yang berlangsung selama empat jam tersebut berhasil menarik lebih dari 850 pengunjung.
Capaian ini menjadi bukti bahwa diplomasi budaya yang diusung KJRI Hamburg mampu memperkenalkan wajah Indonesia Timur kepada masyarakat internasional sekaligus memperkuat hubungan antara Indonesia dan Jerman melalui jalur budaya, sejarah, dan ekonomi.
