Museum AR Wallace Gelar Pameran Budaya, Sambut Rakernas JKPI 2026 di Ternate
Ternate, Kalesang – Pameran budaya bertajuk “Jejak Warisan Alfred Russel Wallace, Megadiversity & Budaya Lokal Maluku Utara” resmi dibuka di Museum Alfred Russel Wallace, kawasan Cagar Budaya Benteng Oranje, Kota Ternate.
Kegiatan yang berlangsung pada 1–5 Juli 2026 ini menjadi bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) 2026 sekaligus langkah awal menyambut Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia (Rakernas JKPI) 2026 yang akan digelar di Kota Ternate pada Agustus mendatang.
Pembukaan pameran dilakukan oleh Ketua Tim Kerja Kemitraan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Maluku Utara, Fauziah Rasid, mewakili Kepala BPK Maluku Utara.
Dalam sambutannya, Fauziah menyampaikan bahwa Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan yang telah berjalan selama empat tahun berhasil mendorong berbagai agenda pelestarian dan pengembangan budaya di Maluku Utara.
Menurutnya, dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program FPK telah membuka ruang bagi para penggiat budaya, baik perseorangan maupun komunitas, untuk menghadirkan berbagai karya dan kegiatan yang memperkuat identitas budaya daerah.
Pameran yang digagas Nur Imaniar Naraya sebagai penerima FPK kategori perseorangan ini menampilkan jejak warisan ilmuwan dan naturalis Alfred Russel Wallace, sekaligus mengangkat kekayaan hayati (megadiversity) serta budaya lokal Maluku Utara yang menjadi bagian penting kawasan Wallacea.
Sementara itu, Kepala Museum Alfred Russel Wallace, Rinto Taib, mengapresiasi konsistensi Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara dalam mendukung pelaksanaan Program FPK, baik bagi individu maupun komunitas budaya.
Menurut Rinto, pameran tersebut menjadi katalis untuk meningkatkan perhatian terhadap objek pemajuan kebudayaan di Maluku Utara, sekaligus memperkuat pengembangan permuseuman di Kota Ternate yang mengusung tema warisan Alfred Russel Wallace.
“Wallace merupakan seorang naturalis yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia melalui penelitian dan karya ilmiahnya yang berangkat dari kekayaan alam Nusantara,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan FPK 2026 juga diyakini akan semakin memperkuat posisi Ternate sebagai destinasi wisata sejarah dan ilmiah (scientific tourism) bertaraf internasional.
Dengan mengangkat perspektif pusaka alam kawasan Wallacea, pameran ini diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan, peneliti, serta memberikan dampak ekonomi bagi pelaku industri kreatif dan UMKM lokal.
Rinto menjelaskan, sebagaimana dicatat Wallace dalam pengamatannya di Kepulauan Nusantara, kawasan ini merupakan salah satu laboratorium alami terbesar di dunia bagi proses evolusi dan menjadi habitat ribuan spesies endemik yang tidak ditemukan di belahan bumi lainnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa penyelenggaraan pameran budaya ini menjadi bagian dari persiapan Kota Ternate sebagai tuan rumah Rakernas JKPI 2026 pada Agustus mendatang.
“Pameran ini menjadi langkah awal dalam mendukung penyelenggaraan pameran budaya yang lebih besar saat Rakernas JKPI nanti, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya dan megadiversity Maluku Utara kepada tamu dari berbagai daerah,” tutup Rinto.
