Membaca Realitas
728×90 Ads

AMSI Malut dan BI Edukasi Pelajar Ternate Kenali Hoaks dan Ancaman Digital

TERNATE, Kalesang – Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Maluku Utara berkolaborasi dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Maluku Utara menggelar pelatihan literasi digital yang melibatkan pelajar dan jurnalis. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Maitara KPw BI Malut, Kota Ternate, Rabu (26/8/2026).

Pelatihan menghadirkan dua narasumber, yakni dari AMSI Malut Galim Umabaihi dan KPw BI Malut Paramitha Dahlan.

Empat sekolah turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut, yaitu SMA Negeri 1 Kota Ternate, SMA Negeri 2 Kota Ternate, SMK Negeri 1 Kota Ternate, dan SMA Muhammadiyah Kota Ternate.

Pelatihan dibuka oleh Kepala Perwakilan BI Maluku Utara yang diwakili Asisten Analis KPw BI Malut, Ariyudhi Astrodjojo. Ia mengatakan, perkembangan teknologi yang pesat membuat kemampuan literasi digital menjadi semakin penting, khususnya bagi generasi muda.

Menurutnya, teknologi tidak hanya menjadi sarana untuk memperoleh informasi, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, berkarya, berkomunikasi, dan mengembangkan potensi diri.

“Melalui pelatihan literasi digital ini, kami berharap para pelajar dapat menggunakan teknologi secara cerdas, bijak, dan bertanggung jawab,” ujar Ariyudhi.

Ia mengajak para pelajar membangun kebiasaan memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya. Selain itu, keamanan data pribadi juga perlu menjadi perhatian dalam aktivitas digital.

“Mari kita bersama-sama membangun kebiasaan untuk memeriksa kebenaran informasi, menghindari penyebaran hoaks, menjaga keamanan data pribadi, serta menggunakan media sosial sebagai ruang yang positif dan produktif,” katanya.

Ketua AMSI Maluku Utara, Wendi Wambes, mengatakan AMSI sebagai organisasi media pers memberikan perhatian terhadap perkembangan teknologi digital dan dampaknya terhadap masyarakat.

Menurutnya, pelajar merupakan salah satu kelompok yang rentan terpapar hoaks dan misinformasi karena tingginya intensitas penggunaan internet dan media sosial.

“Karena itu, pelajar juga perlu memahami bagaimana cara membedakan informasi hoaks dan informasi yang benar. Salah satunya melalui pelatihan literasi digital,” jelas Wendi.

Sementara itu, narasumber dari AMSI Malut, Galim Umabaihi, mengatakan generasi saat ini menghadapi tantangan baru seiring pesatnya perkembangan teknologi digital, salah satunya kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

“AI ini adalah sistem komputer yang mampu menjalankan fungsi dan berperilaku menyerupai manusia. Bahkan, telah melampaui kecerdasan manusia dalam berbagai aspek,” jelas Galim.

Ia menyebut sejumlah risiko penggunaan AI bagi pelajar, mulai dari menurunnya kemampuan kognitif, risiko plagiarisme dan persoalan integritas akademik, hingga penyebaran hoaks.

Menurut Galim, penggunaan AI secara berlebihan juga dapat menimbulkan ketergantungan. Selain itu, perkembangan teknologi memungkinkan wajah dan suara seseorang direkayasa atau dikloning sehingga dapat digunakan untuk membuat konten palsu.

“Yang paling berbahaya itu jika penggunaan AI menimbulkan ketergantungan. Kemudian wajah dan suara kita juga bisa di-cloning seolah-olah itu adalah kita, karena data kita sudah banyak tersedia di internet,” katanya.

Karena itu, Galim menilai literasi digital penting diberikan sejak tingkat pelajar agar generasi muda memahami risiko dan bahaya yang muncul dari perkembangan teknologi digital.

Selain membahas literasi digital, pelatihan juga diisi dengan materi mengenai QRIS dan perlindungan konsumen yang disampaikan Paramitha Dahlan dari KPw BI Malut.

Paramitha menjelaskan, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) merupakan standar QR Code pembayaran yang ditetapkan Bank Indonesia untuk memfasilitasi transaksi pembayaran di Indonesia.

QRIS dikembangkan oleh industri sistem pembayaran bersama Bank Indonesia agar transaksi menggunakan QR Code dapat dilakukan secara cepat, mudah, murah, aman, dan andal. Seluruh Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) yang menggunakan QR Code pembayaran wajib menerapkan standar QRIS.

Menurut Paramitha, penggunaan QRIS memberikan kemudahan karena setiap transaksi dapat tercatat secara otomatis sehingga membantu pelaku usaha dalam melakukan pencatatan keuangan.

“Kalau pakai tunai, kadang kita lupa mencatat uang kita digunakan untuk apa dan lainnya. Tetapi kalau dengan QRIS, semuanya tercatat,” jelasnya.

Meski menawarkan kemudahan, Paramitha mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap berbagai ancaman digital, termasuk penipuan online.

Ia menilai generasi Z dan generasi milenial merupakan kelompok yang cukup rentan menjadi korban penipuan online karena memiliki intensitas tinggi dalam menggunakan internet.

“Generasi Z dan generasi milenial memiliki kecepatan dan koneksi langsung dengan internet. Tapi kecepatan tanpa kewaspadaan bisa jadi jebakan,” pungkasnya.

728×90 Ads