Dari Warisan ke Penghidupan: Perempuan Tidore Merajut Kembali Tenun yang Nyaris Hilang
TERNATE, Kalesang– Suara keras alat tenun bukan mesin terdengar dari Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore, berada di jalan raya Topo Tiga, Soasio, Kota Tidore Kepulauan. Di balik bunyi kayu yang beradu, sepasang tangan dan kaki perempuan bergerak berulang, menjaga irama kerja.
Di hadapan para pengrajin, benang-benang berwarna-warni tersusun rapi. Sebelum alat tenun mulai digerakkan, motif terlebih dahulu dibangun dengan ketelitian. Setiap susunan benang diperiksa dan diukur menggunakan pita pengukur agar pola yang dihasilkan tetap presisi.
Proses menenun membutuhkan kesabaran. Para pengrajin bekerja hati-hati, memastikan setiap benang berada pada posisi yang tepat. Bagi mereka, menenun Puta Dino bukan sekadar menyusun benang menjadi kain, melainkan merawat sebuah warisan yang sempat hilang 100 tahun silam.
Keunikan lainnya terlihat dari bahan pewarna yang digunakan. Sebagian berasal dari kekayaan alam setempat, seperti pala, cengkeh, daun kayu manis, secang, daun mangga, hingga kulit alpukat. Bahan-bahan tersebut diolah untuk menghasilkan warna alami pada kain tenun.

Anita Gathmir (51 tahun) mengisahkan, proses menemukan kembali tenun Tidore membutuhkan waktu yang cukup panjang. Perjalanan itu bermula pada 2016, ketika ia menggelar lomba menulis tentang Tidore di Jakarta. Para pemenang kemudian diajak berkunjung ke Tidore.
Dari kegiatan tersebut, muncul banyak pertanyaan dalam dirinya. Salah satunya ketika ia melihat masyarakat Tidore menggunakan kain batik dalam upacara adat. Ia kemudian berpikir, sebagai sebuah kerajaan besar, Tidore semestinya memiliki kain tradisional sendiri.
“Harusnya kerajaan besar pasti memiliki kain sendiri,” pikirnya saat itu.
Pencarian pun dimulai sejak 2016 hingga 2017. Anita mulai mengumpulkan data dengan bertanya kepada masyarakat Tidore, terutama mereka yang berusia sekitar 50 tahun. Namun, sebagian besar tidak mengetahui keberadaan tradisi menenun di Tidore.
Akhirnya, pencarian dilakukan bersama beberapa orang lain. Sebagian orang mencari data di Tidore, termasuk di kantor arsip, sementara Anita yang berada di Jakarta menelusuri koleksi di Museum Tekstil dan sejumlah sumber lainnya.
Pencarian itu akhirnya menemukan titik terang. Anita mendapat informasi dari Tidore mengenai arsip dan foto-foto tua. Setelah kembali ke Tidore, ia melihat sejumlah dokumentasi lama yang menampilkan motif kain. Pada foto tersebut tertulis “Tidore Halmahera” dan sumber dokumentasinya berasal dari Leiden, Belanda.
Dokumentasi serupa juga ditemukan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) Jakarta. Foto-foto tersebut juga berasal dari Leiden.
Dari berbagai temuan itu, Anita dan tim mulai membuat kembali kain Tidore, meski saat itu belum mengetahui secara pasti teknik pembuatannya. Mereka terus mengumpulkan informasi dari masyarakat lanjut usia. Dari para tetua berusia sekitar 80 tahun, akhirnya diperoleh cerita bahwa tradisi menenun pernah dilakukan di Gurabati, Tidore.
Pada 2017, Anita semakin yakin bahwa Tidore memang memiliki tradisi dan kain tenun sendiri. Dalam proses pencarian tersebut, ia kemudian bertemu dengan Kepala Bank Indonesia Maluku Utara saat itu berkolaborasi memberikan pelatihan menenun. Dalam sebuah perjalanan, mereka menemukan serpihan-serpihan kayu di Kedaton Tidore.
Setelah diperhatikan dan disusun, kayu-kayu tersebut ternyata merupakan bagian dari alat tenun. Temuan itu semakin memperkuat keyakinannya bahwa budaya menenun memang pernah berkembang di Tidore.
“Jadi, di Rumah Tenun ada dua jenis teknik tenun, yakni sukit dan ikat,” ujarnya.
Anita sendiri memiliki latar belakang sebagai seniman, khususnya pelukis, sekaligus memiliki keterampilan dalam membuat berbagai karya. Ia juga berasal dari keluarga Kesultanan Tidore. Lahir di Tidore dan banyak menghabiskan waktu di Jakarta, Anita merasa memiliki tanggung jawab untuk melakukan sesuatu bagi daerah asalnya.
Menurutnya, masih banyak hal di Tidore yang perlu diperbaiki dan dikembangkan. Pengalamannya melihat perkembangan daerah lain membuatnya kerap membandingkan kondisi Tidore dengan tempat-tempat tersebut.
“Perbandingan itu yang membuat saya terpancing untuk melakukan sesuatu,” katanya.
Baginya, upaya menemukan kembali tenun Tidore bukan sekadar mencari kain tradisional, tetapi juga bagian dari usaha menghidupkan kembali pengetahuan, keterampilan, dan identitas budaya yang pernah dimiliki masyarakat Tidore.
Upaya tersebut kemudian dilanjutkan melalui rumah produksi Puta Dino yang didirikan Anita Gathmir pada 2018 dan dibantu oleh Bank Indonesia. Rumah produksi tersebut memiliki dua lantai. Lantai pertama digunakan untuk aktivitas menenun, sedangkan lantai kedua menjadi ruang untuk memajang produk Tenun Puta Dino serta berbagai produk turunannya.
Foto-foto lama yang ditemukan menjadi titik awal bagi Anita untuk menghidupkan kembali tenun Tidore yang telah lama menghilang. Berbekal dokumentasi sejarah tersebut, Anita bersama para pengrajin berupaya merevitalisasi motif dan tradisi tenun Tidore yang diperkirakan telah hilang selama ratusan tahun.

Rumah Tenun Puta Dino Kayangan Ngofa Tidore kemudian menjadi ruang tempat pengetahuan itu dirawat. Di sana, perempuan-perempuan pengrajin tidak hanya bekerja menghasilkan kain, tetapi turut meneruskan cerita yang melekat pada setiap motif dan susunan benang.
Nama Puta Dino Kayangan sendiri memiliki makna dalam bahasa daerah Tidore. “Puta” berarti kain, “dino” berarti jahit atau susun, sedangkan “kayangan” bermakna tinggi atau indah. Jika dirangkai, Puta Dino Kayangan dimaknai sebagai kain tenun yang memiliki nilai tinggi dan keindahan.
Dari sebuah penelusuran jejak dokumentasi tersebut lah, jejak tenun Tidore perlahan kembali menemukan jalannya. Benang demi benang disusun, motif dibangun, lalu kain ditenun dikerjakan lewat tangan-tangan perempuan.
Pengrajin Tenun Puta Dino, Risnawati Hi. Ishak yang bergabung sejak tahun 2024, sebelumnya di salah satu perusahan tambang di Maluku Utara itu mengatakan setelah proses revitalisasi yang dilakukan pendiri bersama tim dan terus menelusuri motif-motif lama melalui para orang tua di Tidore.
Upaya tersebut juga mendapat dukungan dari Bank Indonesia Maluku Utara yang mendorong para pengrajin untuk belajar dengan mendatangkan guru dari Jawa, bahkan mengikuti pelatihan secara langsung di daerah tersebut.
“Kami belajar dari dasar. Rata-rata penenun memiliki latar belakang berbeda, baru memulai dan belajar secara otodidak,” kata Risnawati saat ditemui di Rumah Tenun Puta Dino, Jumat (7/8/2026).
Menurut dia, Rumah Tenun Puta Dino kini memiliki sekitar 30 motif yang dikembangkan dari kekayaan budaya Tidore. Beberapa di antaranya adalah motif kalajengking, amo atau sukun, serta barakati yang bermakna diberkati.
Satu kain tenun umumnya berukuran panjang 2,20 meter dan lebar 1,10 meter. Namun, proses menghasilkan selembar kain tidak sederhana. Setelah motif ditentukan dan benang disiapkan, penenun harus bekerja dengan ketelitian dan kesabaran.
“Proses menenun itu proses akhir. Masing-masing pekerja memiliki kecepatan berbeda, ada yang cepat dan ada pula yang lambat. Kalau saya mendapat pesanan dengan motif yang tidak membutuhkan waktu lama, bisa dua hari satu kain. Dalam sebulan bisa menghasilkan enam sampai tujuh kain, bahkan 11 kain,” ujarnya.
Dari Benang hingga Selembar Kain

Lamanya proses produksi juga dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku. Benang masih harus dipesan dari luar Maluku Utara, terutama dari Jawa dan Surabaya, karena Maluku Utara belum memproduksi benang untuk kebutuhan tenun.
“Benang ini dipesan dari luar. Setelah sampai di sini, baru kami mewarnainya sendiri menggunakan warna alam. Proses dari awal hingga menenun membutuhkan waktu sekitar dua bulan,” kata Risnawati.
Menenun, menurut dia, membutuhkan ketenangan dan konsentrasi tinggi. Benang yang putus harus segera disambung agar tidak merusak keseluruhan kain.
“Untuk menenun butuh kesabaran karena sangat sensitif. Kalau benang putus harus disambung, kalau tidak kain bisa rusak. Jadi suasana hati sangat berpengaruh,” ujarnya.
Dari Kain Puta Dino, Hasilkan Ratusan Juta
Rumah Tenun Puta Dino tidak hanya menghasilkan kain tenun. Sisa kain yang tidak terpakai juga diolah menjadi berbagai produk turunan, seperti gelang, kalung, aksesori, hingga produk berbahan bambu. Dalam sebulan, omzet rata-rata mencapai Rp50 juta hingga Rp60 juta.
Harga produk pun beragam. Kain tenun dijual mulai sekitar Rp500 ribu hingga Rp3,5 juta. Syal berada pada kisaran Rp150 ribu hingga Rp600 ribu, sedangkan selendang dibanderol mulai Rp250 ribu hingga Rp1,7 juta, tergantung jenis dan bahan. Sementara itu, pakaian berbahan tenun dijual mulai Rp700 ribu hingga Rp5 juta. Produk aksesori berkisar Rp35 ribu hingga sekitar Rp2 juta.
Pengrajin lainnya, Iswanto Djafar lebih dahulu bergabung sejak tahun 2019 tersebut mengatakan sejumlah motif membutuhkan waktu pengerjaan lebih panjang, terutama motif berukuran besar seperti peta dan burung bidadari.
“Motif besar, misalnya motif peta dan burung bidadari, membutuhkan waktu yang panjang. Tetapi semakin berpengalaman, tentu bisa dikerjakan,” katanya.
Menurut Iswanto, peminat tenun Puta Dino terus berdatangan. Selain kain, syal menjadi salah satu produk yang banyak diminati, termasuk untuk kebutuhan acara penyambutan pejabat.
“Kalau dilihat, pembeli lebih banyak datang dari luar Tidore. Ada dari Ternate, bahkan ada juga yang datang dari luar daerah dan langsung membeli di sini,” pungkas Iswanto.
Risnawati melanjutkan bahwa, produk Puta Dino kini mulai dipasarkan melalui sejumlah pusat penjualan, seperti Swalayan Tara No Ate dan Pakesang. Produk tersebut juga pernah dipasarkan di Jakarta, termasuk Cibubur dan Sarinah. Sementara untuk pasar luar negeri, pemasaran dilakukan melalui platform Etsy.
Perempuan Muda dan Upaya Menjaga Identitas Daerah

Menariknya, keberlangsungan tenun Puta Dino kini banyak ditopang oleh generasi muda. Para pekerja datang dari latar belakang pendidikan dan profesi yang beragam. Ada lulusan ekonomi, teknik, kehutanan, bahkan mereka yang sebelumnya bekerja sebagai guru maupun di bidang kesehatan.
Namun, perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk belajar menenun. Dari sembilan pekerja di Rumah Tenun Puta Dino, hanya satu orang laki-laki. Selebihnya merupakan perempuan, sebagian besar berusia di bawah 30 tahun.
“Pekerja ini semua berasal dari Tidore. Rata-rata perempuan dan hanya satu laki-laki,” kata Risnawati.
Bagi para pekerja, Rumah Tenun Puta Dino tidak hanya menjadi tempat belajar dan bekerja. Kehadirannya juga membuka ruang ekonomi bagi perempuan muda. Selain memperoleh upah pokok, mereka mendapatkan tambahan penghasilan dari pemanfaatan sisa kain, kesempatan mengikuti berbagai kegiatan, perjalanan, hingga bonus.
Risnawati mengatakan tenun Puta Dino memiliki hubungan erat dengan sejarah Kesultanan Tidore. Karena itu, keberadaannya tidak sekadar sebagai produk ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Tidore.
“Tenun ini pernah dipakai di Kesultanan Tidore. Kami berharap Pemerintah Tidore menaruh perhatian lebih kepada kami. Perindakop juga pernah datang ketika ada tamu dari luar. Saya berharap warisan Tidore ini terus berlanjut dan tidak kembali hilang,” kata Risnawati.
Menurut Risnawati, keberadaan generasi muda di Rumah Tenun Puta Dino menjadi sesuatu yang penting karena tradisi menenun di sejumlah daerah umumnya lebih banyak dijalankan oleh generasi tua.
“Karena itu, pekerjaan anak muda adalah memberikan motivasi kepada sesama generasi untuk menjaga semangat dan warisan budaya ini,” ujarnya.
Menembus Pameran Internasional
Upaya menghidupkan kembali tenun Tidore juga mulai membawa Puta Dino keluar dari ruang produksi lokal. Produk tersebut telah mengikuti sejumlah pameran di luar negeri, di antaranya Amerika Serikat pada 2021, Afrika Selatan pada akhir 2022, Maroko dan Jepang pada 2023, serta Jerman pada 2026.
Bagi Risnawati, kesempatan tampil di luar negeri bukan hanya soal memperluas pasar, tetapi juga memperkenalkan tenun Tidore sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
“Saya perdana pada April 2026 mendapat undangan sebagai delegasi budaya di Jerman, sebagai pembicara sekaligus untuk melestarikan budaya tenun. Tenun ini sudah dikenal secara internasional,” beber Risnawati.
Ia mengatakan, pada 2027 dirinya dijadwalkan kembali ke Jerman. Selain itu, terdapat rencana keterlibatan dalam sejumlah kegiatan budaya di beberapa negara.
“Kami bergiliran. Setiap tahun ada undangan dari beberapa negara,” ujar Risnawati.
Pengalaman serupa dirasakan Meianisa Ode. Perempuan yang sebelumnya berprofesi sebagai penenun ini kini dipercaya sebagai Admin Keuangan sekaligus Admin Toko di Rumah Tenun Puta Dino. Ia telah bergabung sejak 2019 dan turut menangani penataan serta display produk.
Selama bergabung, Meianisa juga mendapat kesempatan mengikuti kegiatan budaya di Hamburg, Jerman, atas undangan Kedutaan Besar Jerman dalam sebuah pameran budaya. Dalam kegiatan tersebut, yang diperkenalkan tidak hanya kain tenun Puta Dino, tetapi juga beragam kekayaan budaya dan produk khas Maluku Utara.
“Tidak hanya membawa kain tenun. Ada juga kuliner khas Maluku Utara, produk UMKM, serta workshop tentang alat tenun kecil. Bagaimana orang tertarik datang ke tenun, kami dilibatkan dalam kegiatan. Pengalamannya sangat baik karena banyak hal yang kami dapatkan,” jelas Meianisa.
Puta Dino dan Ruang Ekonomi Perempuan

Meianisa mengapresiasi upaya Rumah Tenun Puta Dino dalam menghidupkan kembali tradisi menenun sekaligus memperkuat identitas budaya Tidore. Menurutnya, semakin banyaknya generasi muda yang bangga mengenakan kain tenun menjadi tanda bahwa warisan budaya tersebut mulai kembali mendapatkan tempat di tengah masyarakat.
“Dengan adanya Rumah Tenun Puta Dino, ini membuka lapangan pekerjaan baru bagi generasi muda, khususnya perempuan. Ada ruang bagi mereka untuk bekerja sekaligus mempertahankan warisan budaya yang sudah lama hilang. Ini juga mendorong perempuan menjadi lebih produktif,” ungkapnya.
Menurut Meianisa, keterlibatan perempuan dalam dunia usaha di Tidore selama ini masih relatif terbatas. Karena itu, dominasi perempuan di Rumah Tenun Puta Dino nilainya sebagai hal positif karena tidak hanya membuka peluang ekonomi, tetapi juga menciptakan ruang kesetaraan bagi perempuan.
“Dalam pelaku usaha di Tidore, keterlibatan perempuan masih jarang. Di Rumah Puta Dino, justru dominan perempuan. Ini menjadi satu hal positif karena membuka kesetaraan sehingga perempuan lebih banyak mendapat peluang,” ujarnya.
Bagi Meianisa, menjadi penenun juga bukan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan kesabaran, ketelitian, dan ketekunan, terutama ketika benang terputus di tengah proses menenun. Benang tersebut harus disambungkan kembali dengan hati-hati agar tidak merusak hasil tenunan.
Waktu pengerjaan pun tidak singkat. Satu lembar kain tenun dapat membutuhkan waktu hingga lebih dari tiga bulan, meski dalam kondisi tertentu ada pula kain yang dapat diselesaikan hanya dalam satu atau dua hari, tergantung motif, ukuran, dan tingkat kerumitannya.
“Untuk satu kain tenun itu bisa butuh waktu tiga bulan lamanya untuk dapat satu lembar kain utuh, jadi memang butuh kesabaran. Ada pula yang cepat, bisa sehari atau dua hari,” beber Meianisa.
Ia berharap Rumah Tenun Puta Dino terus berkembang dan semakin banyak generasi muda, khususnya perempuan, yang terlibat dalam menjaga keberlanjutan tradisi menenun. Ia juga berharap produk tenun Puta Dino semakin dikenal dan mendapat tempat di berbagai daerah di Indonesia. (*)
Reporter : Yunita Kaunar
Liputan ini merupakan hasil kolaborasi Kalesang.id dan Project Multatuli untuk koleksi jendela.projectmultatuli.org

