Membaca Realitas

Setengah Abad Merawat Tradisi, Perempuan Pembuat Gula Tare Melawan Kepunahan

TERNATE, Kalesang – Di lereng Gunung Gamalama, ketika cahaya pagi perlahan menyapu Kota Ternate, aroma manis tebu mulai menyeruak dari sebuah rumah sederhana di Kompleks Akebooca, Kelurahan Soa. Di tempat inilah, tradisi membuat gula tare, salah satu kuliner khas Ternate, masih bertahan di tengah gempuran makanan modern.

Di saat jajanan kekinian semakin mudah ditemukan, gula tare tetap menjadi pengingat bahwa warisan kuliner tidak sekadar soal rasa, tetapi juga tentang sejarah, ketekunan, dan identitas masyarakat Ternate.

Di balik tradisi itu, ada sosok Mama Isma (54), atau yang akrab disapa Mama Nona. Sejak sebelum menikah hingga kini, perempuan kelahiran 1972 itu menggantungkan hidup dari memproduksi gula tare bersama suami dan ketiga anaknya.

“Saya sudah membuat gula tare sejak belum menikah. Setelah berkeluarga sampai sekarang, mata pencaharian kami tetap dari gula tare. Di sini masih ada tiga keluarga yang membuatnya, semuanya masih keluarga dekat,” ujar Mama Isma saat ditemui di depan rumahnya, Minggu (19/7/2026).

Ia mengenang, keluarganya menetap di Kompleks Akebooca sejak 1992. Namun, tradisi membuat gula tare telah dilakukan jauh sebelum itu dan diwariskan turun-temurun.

Membuat gula tare bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam hitungan jam. Dibutuhkan kesabaran, tenaga, dan ketelitian agar menghasilkan rasa manis alami tanpa tambahan pemanis buatan.

Proses Mengolah Tebu Menjadi Gula Tare

Proses memasak air perasan tebu, masih secara tradisonal masih menggunakan kayu bakar. (Foto: Yunita Kaunar)

Proses diawali dengan menyiapkan sekitar 100 hingga 200 batang tebu. Tebu dipotong menjadi empat hingga lima bagian lalu diperas menggunakan alat tradisional yang dibuat dari batang pohon kelapa.

Air tebu yang terkumpul dalam ember kemudian dimasak menggunakan kayu bakar selama sekitar empat jam di dalam wajan besar.

Setelah matang, cairan itu tidak langsung menjadi gula tare. Air tebu harus didinginkan semalaman, kemudian disaring dan dimasak kembali keesokan harinya hingga mengental.
“Proses memasak membutuhkan waktu lama bisa dua hingga tiga hari agar jadi gula tare yang siap dijual,” jelas Mama Isma.

Saat masih panas, adonan gula tare dituangkan ke dalam bambu kecil yang oleh warga setempat disebut “bulu tui”. Di dalam bambu itulah gula tare mengeras secara alami dan menghasilkan tekstur kenyal yang menjadi ciri khasnya.

Sebagian pembeli juga menyukai gula tare yang dicampur kacang songara (kacang goreng) atau kenari sehingga cita rasanya semakin kaya.

“Gula tare hanya memiliki dua campuran dari kenari dan kacang yang sudah di goreng sebagai bahan tambahan,” beber Mama Isma.

Bertahan Mengikuti Zaman

Perasan air tebu masih digunakan cara taradisional dengan batang pohon kelapa sekitar 5 meter. (Foto: Yunita Kaunar)

Meski kini tersedia mesin pemeras tebu, Mama Isma mengaku masih memahami cara tradisional menggunakan batang kelapa sepanjang dua meter yang dahulu dipakai keluarganya.

Menurunnya, produksi gula tare kini lebih banyak dilakukan berdasarkan pesanan. Pembeli datang tidak hanya dari Ternate, tetapi juga dari Jakarta dan Surabaya.

“Kalau ada pesanan, kami buat. Ada yang pesan sampai Rp1 juta untuk dijual lagi. Biasanya sekitar 20 sampai 30 bambu dan bisa selesai dalam dua sampai tiga hari dikerjakan bersama suami,” katanya.

Saat pemerintah menggelar berbagai kegiatan atau festival, gula tare hampir selalu habis terjual dalam sehari.

Harga jualnya pun beragam. Per potong dibanderol Rp2.000, sedangkan dalam bambu dijual mulai Rp50 ribu, Rp75 ribu hingga Rp100 ribu, tergantung ukuran bambunya.

Pemasarannya masih sederhana. Gula tare belum banyak masuk ke swalayan, tetapi dijual langsung di sejumlah ruas jalan di Ternate seperti kawasan Salero dan beberapa lokasi lainnya di Kota Ternate.

Mama Isma saat ditemui Kalesang.id di kediamannya komplek Akeboca Ternate Tengah, sambil mengisahkan bagaimana proses pembuatan gula tare itu di mulai. (Foto: Yunita Kaunar)

Melawan Arus Jajanan Modern

Hadirnya berbagai makanan modern memang menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha gula tare. Namun, menurut Mama Isma, cita rasa khas gula tare tetap memiliki tempat di hati masyarakat.

“Memang sekarang banyak makanan modern, tetapi gula tare masih tetap dicari karena rasanya khas. Dari dulu sampai sekarang, orang membuat dan menjual gula tare untuk menyekolahkan anak-anak,” tuturnya.

Ia mengenang, dahulu gula tare dijual hanya Rp50 hingga kini jadi Rp 2000 per potongan. Harganya menyesuaikan biaya produksi, tetapi peminatnya tetap ada.

Bagi Mama Isma, keberlangsungan gula tare sangat bergantung pada ketersediaan tanaman tebu. Jika lahan tebu semakin berkurang, maka tradisi ini pun terancam ikut menghilang.

“Kalau tebu habis, gula tare juga bisa hilang. Karena itu, tanaman tebu harus terus dijaga dan dilestarikan,” ujarnya.

Selain gula tare, keluarganya juga membuat berbagai kreasi dari tebu berbentuk pisang dan buah delima yang biasa digunakan dalam tradisi khataman Al-Qur’an. Bahan baku tebu berasal dari kebun milik keluarganya seluas sekitar satu hektar yang berada tidak jauh dari pemukiman Kompleks Akebooca.

Tak hanya Mama Isma, Mama Ati, perempuan berusia sekitar lima puluhan yang tinggal di lingkungan Akebooca, Kelurahan Soa,Kota Ternate. Baginya gula tare bukan sekadar jajanan tradisional. Makanan khas ini telah menjadi sumber penghidupan.

“Berjualan gula tare sudah menjadi mata pencaharian saya sejak lama. Kalau kita rajin berjualan, hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya, dari penjualan Rp1 juta, saya memperoleh keuntungan sekitar Rp300 ribu, sedangkan sisanya Rp700 ribu menjadi bagian pemilik barang,” tutur Mama Ati, Senin (20/7/2026).

Setiap hari, Mama Ati menawarkan gula tare di sejumlah titik keramaian, seperti Kelurahan Salero, kawasan Taman Nukila, hingga lokasi yang ramai dikunjungi masyarakat. Saat ada kegiatan atau festival, penjualannya meningkat tajam.

“Kalau ada acara, dagangan saya selalu cepat habis. Bahkan banyak pembeli yang membawanya sebagai oleh-oleh untuk keluarga di luar daerah, termasuk sampai ke Jakarta,” ujarnya.

Menurut Mama Ati, gula tare dipasarkan dalam beberapa pilihan. Gula tare yang masih utuh dan dibungkus bambu kecil dijual dengan harga berkisar antara Rp40 ribu hingga Rp70 ribu, tergantung ukuran. Sementara gula tare yang telah dipotong sepanjang sekitar 3-5 sentimeter dijual seharga Rp2.000 per potong.

Mama Ati saat berjualan Gula tare keliling, berteduh di trotoar Lapangan Gara Lamo Salero menunggu pembeli. (Foto: Yunita Kaunar)

Riska Wati, salah satu pembeli mengaku, masih sering mencari permen gula tare karena ingin bernostalgia.

“Permen gula tare ini mengingatkan saya pada masa kecil, dulunya gula tare merupakan permen yang mewah,” ungkapnya.

Senada dengan itu, pembeli lainnya, Agus M. Hamisy, mengatakan permen tradisional gula tare kadang sulit ditemukan karena tidak selalu tersedia di lokasi-lokasi yang biasa menjadi tempat para penjual berjualan. Ia berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap keberlangsungan kuliner tradisional tersebut.

“Sebagai generasi muda, kami merasa bangga karena camilan tradisional ini masih mampu bertahan di tengah gempuran berbagai produk camilan modern dengan kemasan yang lebih menarik. Meski demikian, gula tare tetap memiliki peminat dan terus diproduksi. Kami berharap Pemerintah Kota Ternate dapat memberikan perhatian agar warisan kuliner ini tetap lestari, sekaligus menjaga nilai budaya dan menguatkan ekonomi masyarakat lokal,” ujar Agus.

Gula Tare Berpotensi Masuk ke Swalayan Taranoate

Gula tare dalam kemasan bambu yang sudah di potong siap dipasarkan. (Foto: Yunita Kaunar)

Sementara itu, Direktur Swalayan Taranoate, pusat oleh-oleh khas Maluku Utara, Burhanudin Rope, menilai gula tare memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu produk unggulan daerah. Menurutnya, jajanan tradisional ini bukan sekadar makanan ringan, tetapi juga menyimpan nilai nostalgia yang lekat di ingatan masyarakat.

“Sejak dulu gula tare menjadi camilan favorit anak-anak. Saya sendiri pernah menikmatinya ketika masih dijual di sekolah-sekolah. Makanan ini mampu membangkitkan kenangan masa kecil, sehingga memiliki daya tarik tersendiri,” ujarnya.

Burhanudin mengatakan, gula tare layak menjadi salah satu produk yang dipasarkan di Taranoate. Sebab, sebagai pusat oleh-oleh khas Maluku Utara, Taranoate ingin menghadirkan jajanan tradisional yang telah dikenal lintas generasi.

“Saya ingin gula tare hadir di Taranoate karena ini merupakan camilan khas Ternate yang sudah ada sejak lama dan disukai berbagai kalangan. Saya bahkan sudah beberapa kali bertemu dengan para pembuat gula tare dan mengajak mereka menitipkan produknya di sini,” katanya.

Namun, hingga kini ajakan tersebut belum mendapat respons positif. Menurut Burhanudin, sebagian pelaku usaha masih merasa bingung mengenai mekanisme penitipan produk.

“Padahal saya sudah sampaikan bahwa tidak ada persyaratan tertentu. Yang terpenting ada kemauan untuk memasarkan produknya. Saya juga melihat para pembuat gula tare terus berinovasi, misalnya dengan menambahkan kacang sebagai varian rasa. Ini menjadi peluang besar agar gula tare semakin dikenal dan dapat dipasarkan lebih luas melalui Taranoate,” ujarnya.(*)

Liputan ini merupakan hasil kolaborasi Kalesang dan Project Multatuli untuk koleksi jendela.projectmultatuli.org

Penulis : Yunita Kaunar