Teknologi Pertanian dan Masa Depan Kepulauan Sula
Oleh: Juliyanti Umabaihi
Mahasiswa THP Unkhair
(Juara II Lomba Menulis Opini, Dalam Rangka HUT Kabupaten Kepulauan Sula ke-19)
Maluku Utara dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan tanaman perkebunan yang sangat melimpah, salah satunya pohon kelapa. Daerah ini tumbuh banyak pohon kelapa, baik di daerah pesisir pantai maupun pegunungan, seperti di Kabupaten Kepulauan Sula, Taliabu, Kota Ternate, Tidore Kepulauan, Halmahera Utara, Halmahera Barat, Halmahera Selatan, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, dan Pulau Mortai.
Potensi kelapa di Maluku Utara cukup besar. Luas areal tanaman kelapa mencapai 200.813 ha, yang seluruhnya adalah perkebunan rakyat dengan total produksi 232.207 ton/tahun. Khususnya di Kepulauan Sula, produksi kelapa sebesar 31.195 ton/tahun (BPS Maluku Utara, 2018). Proses produksi kelapa terdiri dari penanganan panen seperti pemetikan buah kelapa. Masyarakat di Kepulauan Sula, proses panen buah kelapa dilakukan dengan cara tradisional, yaitu memanjat secara langsung pohon kelapa. Meskipun begitu, tidak semua petani kelapa bisa memanjat pohon kelapa sehingga mereka harus menyewa petani yang bisa memanjat kelapa.
Umumnya, pada tahun-tahun pertama, pemetikan buah kelapa biasanya cukup dilakukan dengan menggunakan tangan secara langsung tanpa memanjat pohonnya. Jika sudah tinggi dan sulit dijangkau dengan tangan secara langsung, pemetikan biasanya dilakukan dengan sabit atau arit. Jika sudah lebih tinggi lagi (lebih dari 2 meter di atas permukaan tanah) dan sulit dijangkau dengan tangan maupun sabit, pemetikan harus dilakukan dengan memanjat pohon tersebut. Kemudian janjang buah dipotong dengan menggunakan sabit atau arit yang tajam agar buah-buahnya mudah jatuh dan terlepas dari tangkainya.
Pada sebagian daerah seperti Sulawesi, dalam memetik buah kelapa mereka juga menggunakan bantuan kera. Kera yang digunakan adalah kera yang terlatih yang mampu memilih kelapa yang sudah bisa dipanen (Ilham, 2018). Memanjat pohon kelapa mempunyai resiko yang besar karena yang dipanjat tergantung pada ketinggian pohon letak buah kelapa, biasanya mencapai puluhan meter. Menurut Anoopet (2014), pemetik buah kelapa tidak hanya memanjat pohon, menjangkau dedaunan dan buah, tetapi pemetik harus mempunyai kepakaran dalam menentukan buah yang cukup matang untuk dipanen dan yang bisa diproduksi.
Karena itu, perlu adanya adopsi teknologi pertanian yaitu Smart farming 4.0 berbasis teknologi yang dapat membantu petani kelapa dalam proses memanjat pohon. Dengan cara itu, pemanjatan kelapa yang mempunyai resiko bahaya bisa diminimalisir. Pemanjatan yang membutuhkan waktu satu sampai tiga hari dapat diselesaikan dalam 10 jam dengan teknologi coconut climbing tool (alat pemanjat kelapa). Coconut Climbing Tool atau CCT merupakan satu inovasi baru yang diciptakan untuk menggantikan kerja petani dalam memanjat dan memetik buah kelapa (Hashim dan Mohd, 2020). Alat ini dirancang untuk petani yang tidak bisa melakukan pemanjatan. Selain itu, dengan adanya alat ini, dapat membantu petani lain untuk lebih mudah mendapatkan buah kelapa berbanding menggunakan cara tradisional.
Di beberapa daerah seperti di bagian barat Indonesia, telah merancang alat ini dalam membantu proses pemanjatan pohon kelapa. Namun penggunaan alat ini masih sebatas memanfaatkan kemampuan manusia untuk memanjatkan kelapa dan memotong kelapa. Oleh karena itu, dibutuhkan alat tambahan yang berfungsi untuk memotong tangkai kelapa sehingga petani tidak lagi memanjat pohon kelapa. Cukup dengan menggunakan coconut climbing tool berbasis pemotongan PLC. Petani hanya memerintahkan atau mengontorol melalui aplikasi smartpohone yang dirancang terkoneksi langsung dengan alat panjat dan pemotongan.
Memiliki kekayaan alam yang melimpah serta sebagian besar penduduknya adalah petani, maka pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkaitan dengan pertanian di Kabupaten Kepulauan Sula perlu mendapat perhatian. Hasil pembangunan pertanian juga dapat digunakan untuk memperbaiki mutu makanan penduduk serta untuk mencapai dan mempertahankan swasembada penyediaan makanan yang disongkong oleh peningkatan produktivitas pertanian. Sesuai hakekat pembangunan pertanian, pemerintah berupaya adanya perubahan penerapan teknologi di dalam usaha tani baik teknologi pra panen maupun pasca panen. Namun dalam pelaksanaanya terdapat banyak hambatan dan masalah yang dihadapi di lapangan.
Menurut Mosher (2013), salah satu syarat mutlak pembangunan pertanian adalah dengan adanya teknologi usaha tani yang senantiasa berubah. Oleh karena itu, penggunaan teknologi dalam usaha tani sangat dibutuhkan oleh petani baik teknologi panen maupun pasca panen dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas, meningkatkan efesiensi usaha, menaikan nilai tambah produk yang dihasilkan dan meningkatkan pendapatan petani. Kenyataan masih banyak petani yang belum sepenuhnya menerapkan teknologi usaha tani. Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya pengetahuan petani tentang teknologi pertanian dan modal yang terbatas. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan usaha untuk mengubah sikap mental, cara berpikir, cara kerja, pengatahuan dan keterampilan petani dengan bantuan permodalan agar petani mampu mengadopsi teknologi secara efektif serta memberikan motivasi kepada petani untuk meningkatkan produksinya. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan penyuluhan pertanian.
Saat ini, Kementerian Pertanian juga telah membuat terobosan teknologi berupa inovasi smart farming menggunakan citra data satelit yang berfungsi meningkatkan produktivitas di lapangan sekaligus mengantisipasi bencana yang mungkin terjadi. Transformasi pertanian dari sistem konvensional menjadi pertanian modern sudah diterapkan.
Penggunaan Coconut Climbing Tool dapat menjadi suatu fasilitas pertanian masa depan di Kabupaten Sula. Karena dapat meningkatkan produktivitas, nilai tambah, daya saing dan keuntungan secara berkelanjutan pada petani kelapa. Smart farming 4.0 berpotensi besar untuk meningkatkan pendapatan para petani dan berkontribusi terhadap keberlanjutan pertanian. Selain itu, penggunaan teknologi dalam usahatani ini dapat menarik perhatian para generasi muda untuk terjun dalam bidang pertanian.***
Penulis berasal dari Desa Kou, Kecamatan Mangoli Timur, Kabupaten Kepulauan Sula
