Membaca Realitas

Apa Kabar Warung Mama Andalan

TERNATE (kalesang) – Apa kabar Warung Mama Andalan? Hampir disetiap kampanye politik pasangan Walikota dan Wakil Walikota M. Tauhid Soleman dan Jasri Usman dengan Jargon TULUS itu selalu dengan bangga menyampaikan program Warung Mama jika mereka terpilih menjadi Walikota dan Wakil Walikota Ternate.

Disalah satu titik kampanye tanggal 16 Oktober 2020 lalu di Kelurahan Maliaro, M. Tauhid Soleman. Menyampaikan dengan bangga terkait dengan warung mama-mama. Dalam penyampainnya Tauhid berjanji jika terpilih sebagai Walikota Ternate. Maka, Akan mendorong program Warung Mama untuk memulihkan ekonomi masyarakat.

“Kami sudah memiliki komitmen jikalau kami diberi amanah dari rakyat untuk memimpin Ternate kedepan salah satu program prioritas yang akan dialaksanakan yang disebut warung mama-mama, karena ini salah satu potensi ekonomi yang tidak akan goyah ketika terjadi krisis ekonomi,” Janji Tauhid.

Sejak dilantik tanggal 26 April 2021 lalu, hingga saat ini program Warung Mama tidak terlihat realisasinya. Redaksi kalesang.id, melakukan penulusuran dalam 1 bulan terakhir di sejumlah kelurahan yang berada di 3 Kecamatan yakni Kecamatan Ternate Selatan, Ternate Utara dan Ternate Tengah. untuk memastikan implementasi program tersebut. Kami hanya temukan di satu titik yang berada di Kantor Lurah Kampung Makassar Barat.

Kondisi Warung Mama Andalan di Kelurahan Kampung Makassar Barat

Akan tetapi, hanya berupa gedung kosong yang terpampang pamflet Warung Mama Andalan dengan slogan Mudah-Murah-Manfaat. Belanja Mudah Dapat Barangnya, Belanja Serasa di Depan Rumah dan juga terdapat pamflet Warung Mama Deliver dengan slogan Ada Kenyaman, Ada Kemudahan, Ada Keuntungan.

Selain slogan juga tertera sejumlah bahan pokok, berupa Beras, Gula, Tepung Terigu, Minyak Goreng, Mie Instan, sabun cuci, daging, popok bayi, mentega, bumbu dapur dan lainnya.

Kami mencoba untuk mengonfirmasi Lurah Kampung Makassar Barat, Mardiyah Baud. Namun, lurah sendiri belum memahami terkait dengan pengelolaan Warung Mama yang berada disamping kantornya tersebut.

Lurah Kampung Makassar Barat, Madiyah Baud

“Timnya juga saya belum tahu. Saya hanya sediakan tempat, timnya lagi pulang ke Jawa. Jadi saya tidak bisa bicara komentar itu.” Ucap saat ditemuia Tanggal 29 Juni 2022 lalu.

Warung Mama Andalan sendiri didorong masuk dalam 5 Program Prioritas Andalan 100 hari kerja. Salah satunya terkait dengan pemulihan ekonomi, begitu juga dalam 14 Program Andalan tahun 2021-2024. Jika dilihat dari skema pengaggaran sendiri Warung Mama pemkot Ternate terlihat tidak serius. Dimana hanya terdapat anggaran sebesar Rp. 200 juta melalui Dinas Koperasi dan UKM. Sementara di Dinas Perindag sendiri tidak diketahui jelas berapa anggarannya.

Hal tersebut, terlihat setelah kami melakukan konfirmasi terkait anggaran di Dinas Koperasi dan UKM, Melalui Kepala Dinas, Hadi Bahrudin yang ditemui Tanggal 8 Juni 2022 lalu, menyampaikan pagu anggaran untuk Warung Mama sendiri senilai Rp. 200 juta akan tetapi, yang bisa direalisasikan hanya sebesar Rp. 180 Juta.

Hadi juga menjelaskan program tersebut berkaitan dengan pemberdayaan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di bidang perdagangan, dimana diberikan dalam bentuk sembako, sehingga pelaku UMKM bisa memanfaatkan dan mendukung usaha mereka.

Kadis Koperasi dan UKM, Hadi Bahrudin

“Terkait program warung mama dan om ojek insyaallah akan direalisasikan di tahun 2022. Untuk jumlah UMKM yang menerima belum bisa dipastikan, nanti akan disesuaikan dengan paket yang disediakan sesuai dengan anggaran.” Ungkapnya.

Selain di Dinas Koperasi dan UKM, Kami juga melakukan konfirmasi ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Plt. Kadis Muchlis Djumadil, saat di temui tanggal 29 Juni 2022 lalu. Tidak menjelaskan terkait nomenklator anggaran untuk Warung Mama akan tetapi, menyampaikan terkait masalah kepastian konsep Warung Mama sehingga dirinya belum dapat memberikan penjelasan lebih detail.

“Dengan konsep yang begitu luas, maka akan dilihat terlebih dahulu terkait dengan perencanaannya, misalnya punya tempat gudang yang spesifik, sehingga tidak menjadikan warung mama seperti kios-kios pada umummnya, apalagi sekarang ini sudah ada Indomaret dan Alfamidi.” Jelasnya.

Kadis Perindag, Muchlis Djumadil

Muchlis juga memberikan sedikit perbandingan Warung Mama dan Kios-kios kecil. Menurutnya harus didata terlebih dahulu ditingkat Kelurahan.

“akan dilihat terlebih dahulu kelurahan mana yang layak tidaknya untuk dijadikan tempat penjualan.Tidak mungkin seperti kios-kios begitu, karena harus ada gudang dan segala macamnya, kalau cuma kios begitu saja bukan warung mama namanya.” Tegasnya.

Apa yang disampaikan oleh, Kadis Perindag berbeda dengan Kepala Bappelitbangda, Rizal Marsaoly selaku konseptor baik dari sisi anggaran dan perencanaan Warung Mama. Rizal bilang bahwa warung mama merupakan bentuk penguatan permodalan bagi para pelaku usaha kecil. semangat awal kehadiran warung mama adalah ketika kampanye Walikota Ternate dan Wakil Walikota Ternate adalah menjawab bagaimana kekuatan ekonomi di level bawah harus di jaga.

Kepala Bappelitbangda, Rizal Marsaoly

“Jadi yang diberikan kekuatan itu berupa sembilan bahan pokok. Tetapi dia tidak berupa uang, melainkan berupa barang yang bisa diambil langsung di distributor besar.” Ucap Rizal saat dikonfirmasi, Senin 4 Juli 2020.

Lanjutnya, secara teknis ada di Dinas Koperasi dan UKM. Ia juga mengaku bahwa bantuan warung mama berjalan dan sebagian sudah dapat. Dimana, skemanya itu penguatan permodalan tapi tidak bentuk uang, melainkan barang.

“Contohnya di suatu warung misalnya di Kelurahan Makassar Barat, yang skalanya di bawah kios lah, itu dia cuma jual Aqua berapa dos, jual mie, itu yang nanti dibantu setelah disampaikan list kebutuhan barang oleh Dinas Koperasi dan UKM.” Jelas Rizal.

Ketua Komisi II DPRD Kota Ternate Mubin A Wahid

Ketidakjelasan program Warung Mama juga disampaikan oleh Ketua Komisi II DPRD Kota Ternate, Mubin A. Wahid menurutnya pelaksanaan Program Warung Mama jangan hanya sebatas wacana. sehingga harus ada konsistensi antara perencanaan, penganggaran dan pelaksanaan.

“Kalau perencanaan tidak ada kan buat apa dianggarkan. Warung Mama itu masuk RKPD tidak? Kalau tidak masuk anggarannya mau diambil dari mana,  jadi kita bisa tahu masuk di APBD ini warung mama sekian, diploting sekian.” Tegasnya.

 

 

Reporter: Rahmat Akrim

Redaktur: Wendi Wambes