Membaca Realitas

Daulat 106 Perangkat Adat Nyili Seba-Seba di Toseho, Sultan Tidore Pesan Jaga Toleransi

TIDORE (kalesang) – Setelah melantik 50 Bobato Nyili Lofo-Lofo di Patani, Sultan Tidore H. Husain Alting Sjah, kembali mendaulat 106 orang bobato Nyili Seba-Seba (negeri kekuasaan yang dekat) Nuku Sampai Kaiyasa di Desa Toseho, Kecamatan Oba Kota Tidore Kepulauan, Kamis (14/7/2022) sore.

Pada kegiatan pelantikan bobato (perangkat adat) itu, Sultan Tidore ingatkan toleransi di wilayah Nyili Seba-Seba harus dikembalikan dan dijaga dengan baik.

Kata Sultan, ditahun 1999 hingga 2000 Indonesia pernah mengalami konflik horizontal yang merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat dan mencabut toleransi sampai ke akar-akarnya.

“Adat hadir untuk menetralisir semua bahwa itu merupakan ajaran yang tidak benar.” Tegasnya sembari menambahkan, bahwa leluhur yang hidup ribuan tahun silam, tidak pernah sekalipun timbul masalah seperti demikian.

“Mereka tidak tahu membaca, akan tetapi memiliki ketajaman mata hati dan kehalusan budi hingga dapat menjaga perdamaian diantara umat beragama. Karena orang Tidore memiliki jiwa toleransi yang tinggi.” Ujarnya.

Anggota DPD-RI mengisahkan, ratusan tahun silam tidak ada satu orangpun bisa masuk ke tanah Papua hanya orang Tidore yang bisa.

“Beberapa penginjil pernah datang ke Papua, tetapi pulang tinggal nama.”Kata sultan.

Tahun 1856 dua orang misionaris yaitu Otto dan Gesler pernah datang menyiarkan pekabaran injil di Papua dengan izin Kesultanan Tidore. Mereka berdua menemui Sultan Ahmadul Mansur meminta izin untuk mengabarkan Injil ke tanah Papua. Sultan Ahmadul Mansur kemudian memerintahkan 36 perangkat terbaik muslim untuk mengantarkan mereka berdua ke tanah yang bernama Mansinam dan menjadi cikal bakal pnyebaran Injil di tanah Papua.

“Mantan Presiden SBY pernah meletakkan batu pertama tentang Injil Mas’ud disitu. Itu embrionya dari sini.” Terang Sultan

Jika ada yang menyimpang dari aturan yang ada, maka harus diingatkan. Namun jika berulang kali telah diingatkan namun tetap menyimpang, maka harus ditindak tegas.

“Ingat! leluhur kita pernah berpesan “Cili Ifa Ngali Mai ifa” (jangan lari, mundur selangkah pun jangan) karena orang Tidore pantang berbalik pada hal-hal kebajikan. Harus berani.”Kata Sultan dengan nada tegas.

“Ini alasan untuk mendudukkan adat, agar mengembalikan persaudaraan yang pernah tercerabut di masa lalu. Mari kita jaga persaudaraan ini, karena tidak ada yang boleh hidup dalam ketakutan.”Ajak sultan. (tr-04)

 

 

Reporter : M Rahmat Syafruddin

Redaktur : Junaidi Drakel