JAKARTA (kalesang)– Panjat pinang merupakan salah satu mata lomba yang sering kali dijumpai pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) RI. Setiap memasuki 17 Agustus hampir di seluruh penjuru negeri antusias menggalakkan lomba yang satu ini.
Akan tetapi, tidak banyak yang tau tentang asal muasal hiburan rakyat yang satu ini.
Sebuah batang pohon pinang yang sudah dikupas yang ditanam kuat. Pada bagian ujungnya disematkan berbagai macam hadiah, dan di bagian batangnya dilumuri minyak pelumas, lalu orang kemudian saling membantu memanjat pohon pinang itu demi meraih hadiah.
Dilansir dari detik.com, Minggu (7/8/2022) disebutkan bahwa panjat pinang adalah warisan yang diturunkan bangsa Belanda sejak zaman kolonial.
Begitu juga sebagaimana dikutip dari laman Instagram resmi Ditjen GTK Kemdikbud RI, lomba panjat pinang berasal dari hiburan panjat tiang ketika orang Belanda berada di Indonesia pada zaman kolonialisme.
Seperti dihimpun dari data detikEdu, panjat pinang ialah salah satu kegiatan yang dilakukan untuk memperingati Koninginnedag atau Hari Ratu dimana perayaan ini digelar setiap tanggal 31 Agustus sebagai peringatan kelahiran Ratu Belanda, Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau.
Pada gelaran ini, semua lapisan masyarakat di Hindia Belanda diminta untuk berkumpul mengikuti festival, karnaval, hiburan, pasar kaget, dimana lomba panjat pinang termasuk salah satu didalamnya, dan orang Belanda menyebutnya sebagai de Klimmast atau “Memanjat tiang”.
Dalam buku Fandy Hutari tentang Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal, menyebutkan bahwa panjat pinang sudah digelar sejak 1930-an.
Fandy Hutari mengulas bahwa ketika itu Panjat pinang dipandang sebagai ajang yang menarik sehingga kerap kali digelar untuk perayaan pernikahan, kenaikan jabatan, dan juga ulang tahun.
Di zaman kolonial, panjat pinang hanya diikuti oleh pribumi dimana terbagi beberapa regu. Sedangkan meneer-meneer Belanda sebagai penonton akan tertawa melihat warga lokal yang mati-matian membuat tangga hidup memanjat batang pinang.
Selain itu, Fandy menyebutkan bahwa pada zaman itu, Panjat pinang bisa juga diadakan oleh keluarga pribumi yang kaya raya, atau antek kolonial.
Sebagai permainan yang terbilang sederhana, namun cukup membutuhkan kerja keras, kekompakan, serta strategi khusus untuk bisa mencapai puncak pohon pinang dimana tiap regu bergantian memanjat batang pinang setinggi 5 hingga 9 meter.
Tak berhenti sampai disitu Fandy juga menjelaskan bahwa panjat pinang tak sekadar seru dan memiliki sisi hiburan, akan tetapi Panjat pinang juga mengandung filosofi mendalam.
“Jika hadiah diibaratkan sebuah ‘kemerdekaan’, maka panjat pinang punya filosofi yang mendalam.” Ujar Fandy
Ia menjabarkan filosofi panjat pinang, dimana ia katakan bahwa bahwa yang pertama, panjat pinang mengajarkan untuk berjuang dalam mencapai kemerdekaan.
Yang Kedua, dalam satu regu pemain butuh kerjasama, kecerdikan, dan saling menopang, Ketiga, menyingkirkan ego pribadi untuk mencapai kemerdekaan, dan yang Keempat, hasil kemerdekaan dibagi rata dalam masyarakat. (tr-04)
Reporter: M. Rahmat Syafruddin
