TERNATE (kalesang)– Transaksi pembayaran secara digital menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di pasar modern Kota Ternate, Maluku Utara terhitung masih minim pengguna.
Salah satu pedagang pasar higienis, Sulistiawati (23 Tahun) mengatakan, ia telah memiliki Qris sejak awal bulan September kemarin.
“Dari awal pakai sampai ini belum ada pembeli yang bayar pakai Qris.” Ungkapnya kepada kalesang.id, Jumat (21/10/2022).
Ia mengaku, sudah pernah menawarkan serta menjelaskan kemudahan pembayaran menggunakan Qris tersebut kepada pembeli, namun pembeli selalu enggan menggunakannya.
“Saya pernah tawarkan, saya juga pernah bilang kalau bayar pakai Qris tidak ribet, tapi mereka belum tertarik juga.” Katanya
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia(BI) Maluku Utara, Setian menuturkan penggunaan Qris di pasar, sudah didorong ketika terjadinya pandemi kemarin.
“Pandemi kemarin itu secara otomatis kegiatan ekonomi di pasar mandek, dari sisi kesehatan masyarakat enggan ke pasar apalagi pembayarannya pakai tunai, karena lebih berisiko untuk menyebarkan covid-19.” Jelasnya
Menurutnya, penggunaan Qris di pasar Kota Ternate masih terdapat kendala. Salah satunya, yakni provider yang digunakan oleh pedagang dan pembeli.
“Kalau providernya sama seperti pedagang gunakan ovo dan pembeli juga gunakan ovo, itu lebih mudah. Sebab pada hari yang sama uangnya langsung masuk ke rekening yang bersangkutan. Nah, kalau providernya beda, itu biasanya punya leg waktu.” Tuturnya
“Untuk pedagang sendiri, apakah dia sudah nyaman atau belum gunakan Qris, sementara pada pembeli mungkin mereka belum friendly dengan Qris.” Tambahnya
Terkait itu, Setian mengaku edukasi penggunaan Qris pada masyarakat akan terus berlanjut, agar masyarakat bisa lebih nyaman dan paham menggunakan Qris.
“Edukasinya tidak bisa one shot, bukan hanya materinya saja, mereka harus mencoba juga.” Pungkasnya. (M-02)
Reporter: Sitti Muthmainnah
Redaktur: Wawan Kurniawan
