SANANA (Kalesang) – Bapak Bunda Asuh Anak Stunting (BAAS) Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara komitmen cegah stunting.
Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Maluku, Dra. Renta Rego dalam sambutannya menyampaikan, berdasarkan buku saku audit stunting harus memaksimalkan dua surfilance, yakni calon pengantin wanita, ibu hamil dan ibu menyusui maupun balita.
“Kita lihat audit kasus stunting ada empat langkah sehingga kita benar-benar tahu seperti apa. Tentu kita harus keroyok secara bersama-sama, ketika kita sudah tahu bahwa si A punya risiko stunting.” Katanya, Kamis (17/11/2022).
Berbicara pencegahan stunting, lanjutnya maka membutuhkan aksi dari seluruh stakeholder yang tergabung di dalam tim pencegahan, itu harus ke lapangan. Sehingga pada 2024 mendatang Kepulauan Sula bisa bebas dari stunting.
“Jumlah jenis tanah lantai di Kepulauan Sula salah mempunyai risiko stunting, yakni sebanyak 215 berdasarkan pendataan pada tahun 2021.” Ucapnya.
Selain itu, Wakil Bupati Kepulauan Sula, M. Saleh Marasabesy menyampaikan, stunting ini sangat berdampak terhadap generasi yang akan datang. Terutama pada kualitas
SDM. Oleh karena itu, dia menambahkan, berdasarkan hasil survei status gizi Indonesia, Kementrian Kesehatan RI Tahun 2021 Kepulauan Sula memiliki presentasi balita stunting berjumlah 27,7 persen. Sedikit lebih tinggi di atas rata-rata, Provinsi Maluku Utara sebesar 27,5 persen.
“Kepulauan Sula menempati urutan ketiga terendah setelah Kota Tidore Kepulauan dan Kota Ternate.” Katanya.
Presentasi tersebut, kata M. Saleh, masih jauh dari harapan target nasional. Sedangkan yang diharapkan pada tahun 2024 mendatang harus 14 persen.
“Alhamdulillah berbagai upaya untuk menurunkan angka stunting di Kepulauan Sula telah dilakukan saat dikukuhkan tim pencegahan penurunan stunting beberapa pekan lalu.” Tandasnya.(tr-02)
Reporter: Karman Samuda
Redaktur: Junaidi Drakel
