Membaca Realitas

Pasar Rakyat Sepi, Pedagang Keluhkan Pendapatan dan Fasilitas Gedung

TERNATE (kalesang) – Pedagang Pasar Rakyat tepatnya di Kelurahan Kota Baru, keluhkan pendapatan, karena sepi pengunjung juga gedung yang kurang dijangkau pembeli.

Amatan kalesang.id, tepatnya di dalam Pasar Rakyat, Kelurahan Kota Baru, Ternate Tengah, Maluku Utara, terlihat sepi pembeli. Pasar yang diperuntukkan bagi pedagang komoditi hanya diisi tujuh pedagang yang berjualan setiap hari.

Beberapa tempat untuk berjualan terlihat tidak terurus dan kotor dan pedagang malah tidak menggunakan fasilitas yang disediakan, namun menggunakan meja yang dibuat sendiri dari kayu.

Rusna (53) salah satu pedagang mengaku, pendapatan berkurang karena di lokasi itu masih  ada kegiatan hari pasar, dimana pedagang dadakan akan tumpah ruah pada Rabu dan Sabtu. Apalagi mereka berjualan di luar gedung hingga pembeli tak lagi masuk dalam gedung.

“Kalau hari biasa seperti ini, dalam sehari bisa dapat Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, kalau hari pasar hanya Rp100 ribu, itupun yang sudah menjadi langganan saya yang datang untuk belanja.” Ungkapnya. Pada reporter kalesang.id. Selasa (12/11/2022).

Ia juga bilang, hari pasar banyak penjual, mulai dari Tidore ataupun pedagang dari Ternate.

“Sebenarnya, kami sudah keluhkan persoalan ini kepada Pemerintah, soal penataan dalam gedung pasar, karena meja untuk jualan yang cukup tinggi, bahkan terlalu tertutup akhirnya orang-orang malas masuk.” Tambahnya.

Hal yang sama disampaikan oleh Idah (50) ia bilang, penataan pasar yang seperti ini, membuat pembeli jarang masuk untuk belanja karena terlalu tertutup.

“Harusnya Pemerintah bisa menata kembali gedung ini agar penjual maupun pembeli tidak hanya diluar semua.” Tambahnya.

Di tempat yang sama, Ayu (30) menuturkan, ia juga enggan berjualan di dalam gedung karena kurang pembeli.

Ia bilang, sebelumnya pernah berjualan didalam gedung, namun dagangan miliknya tidak laku. Apalagi tidak ada selokan untuk pembuangan air kotor, mudah baginya untuk membuang limbah hasil cucian dagangan.

“Belum lagi kita harus membayar meja untuk tempat berjualan, yang lebih mahal dari pada hasil jualan yang dalam sehari tidak menentu seperti ini, baiknya saya berjualan diluar.” Pungkasnya. (tr-04)

 

 

Reporter: Siti Halima Duwila
Redaktur: Wawan Kurniawan