Membaca Realitas

Perempuan 50 Tahun di Kelurahan Tafure Ternate Sulap Sampah Jadi Kerajinan

TERNATE (kalesang) – Seorang warga Kelurahan Tafure, Kecmatan Ternate Utara, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, Ulfa Zainal menyulap sampah plastik maupun organik menjadi berbagai macam kerajinan tangan.

Kerajinan yang dihasilkan itu, tentu memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Ketika sampai di depan rumahnya, akan disuguhi berbagai macam kerajinan tangan miliknya yang tertata rapi.

Rumah yang sederhana itu, dipenuhi berbagai macam karya. Ruangan pertama Ulfa mengisi dengan barang yang sudah jadi. Ruangan kedua, ia jadikan sebagai tempat pengolahan. Di tempat ini ia banyak menghabiskan waktu, menikmati setiap apa yang dibuatnya.

Di ruang pengolahan, berbagai macam jenis barang mentah yang belum jadi disusun tak beraturan. Berbagai jenis sampah plastik dan macam-macam jenis sampah organik, berupa pelepah pisang, daun pandan, daun woka, kayu, berbagai jenis kulit kerang yang dibuang setelah dagingnya dikonsumsi.

Ulfa mengatakan, sejak kecil dia sudah menggeluti seni, ia mulai memanfaatkan sampah menjadi barang kerajinan. Sejak duduk di bangku TK keterampilan ini sudah terasah.

“Bakat ini sudah ada, mulai TK, SD dan SMP, bakatnya ini lebih matang ketika saya masuk di SMP di Urimessing Ambon, Maluku sekitar 1980-an. Di sekolah inilah saya dapatkan pendidikan tambahan dari guru yang dimatangkan dengan praktek.” Katanya, Rabu (7/12/2022).

Kegiatan seni ini, lanjut perempuan 50 tahun itu, digunakan dengan berbagai macam bahan non organik maupun organik, mulai dari plastik, kayu, buah dan batang serta daunnya.

“Kalau tidak ada akar, bisa batang, kalau tidak ada batang tentu bisa dahan, tidak ada dahan daunpun bisa, tidak ada daun buahpun bisa dijadikan kerajinan.” Ucapnya.

“Dari olahan sampah yang saya geluti ini menghasilkan berbagai macam karya seni yang bernilai tinggi, juga keuntungan yang bisa memenuhi kebutuhan keluarga saya.” Sambung Ulfa.

Baca Juga: Wanita Paruh Baya Bertahan Hidup Dengan Berjualan Tikar Keliling 

Selama hidup, Ulfa mengaku memiliki moto yang terus membuatnya tetap semanagat, yakni “sampahmu adalah hartaku”. Hal ini terus memotivasinya juga orang-orang sekitar bahwa sampah yang dianggap tidak berharga sebenarnya bernilai tinggi jika dimanfaatkan secara baik.

“Hanya dengan cara ini, menurut saya masalah sampah plastik bisa teratasi.” Ujarnya.

Kata Ulfa, rumahnya ini dijadikan sebagai laboratorium belajar untuk mengolah sampah menjadi sebuah kerajinan, mulai dari SD, SMP, SMA, dan mahasiswa.

“Ada banyak kelompok warga setiap saat meminta saya melatih mereka, dari anak sekolah, mahasiswa, ibu-ibu organisasi kemasyarakatan hingga kelompok disabilitas atau yang berkebutuhan khusus juga ikut saya latih.” Katanya.

Jadi, Ulfa menambahkan, kerajinan yang banyak ikut pameran seperti hasil mendaur ulang sampah, terutama plastik dan sisa bahan organil. Untuk sampah plastik semisal gelas air mineral, dibuat beragam kreasi untuk kebutuhan rumah tangga.

“Ada yang jadi keranjang belanja, tempat air mineral, tempat pulpen, tempat kue dan beragam kreasi lain. Dari bahan organik saya mengolah menjadi berbagai macam bentuk, seperti hewan maupun tumbuhan.” Bebernya.

Dari pelepah pisang, kata dia, dibikin tempat tisu, topi, keranjang, gantungan charger, maupun orang-orangan serta kreasi seperti bunga.

“Saya menggeluti kerajinan sampah ini sejak 2009. Saya mulai mengumpulkan sampah plastik berbagai barang yang tidak terpakai lalu dibentuk menjadi karya untuk dijual. Dari sinilah saya terus melakukan rutinitas ini hingga menjadi sebuah pekerjaan sehari-harinya, hingga mendapat berbagai macam penghargaan yang diraih.” Ungkapnya.

Saat ini, kata Ulfa, dia tak bekerja sendiri, tetapi membentuk kelompok binaan terutama anak-anak muda sekitar. Selain untuk menumbuhkan kepekaan pada generasi muda untuk mengelola dan memanfaatkan sampah, kelompok binaan ini sekaligus untuk mendukung kalau dia sedang menerima banyak pesanan produk.

“Ada anak binaan saya, sudah lebih dari 7 orang yang ada di lingkungan, jadi ini untuk membentuk rasa kepekaan mereka juga mencari bakat anak-anak untuk bisa dikembangkan dengan produk daur ulang sampah.” Katanya.

Ulfa berharap pemerintah juga harus selaraskan pikiran dengannya, agar di setiap sekolah ada mata pelajaran khusus tentang kerajinan.

“Supaya ke depannya anak muda lebih kreatif dalam memanfaatkan limbah di lingkungannya.” Harapnya.(tr-04)

 

Reporter: Siti Halima Duwila

Redaktur: Wawan Kurniawan