Membaca Realitas

Maut di Hari Ulang Tahun

Oleh: Zulmin Umbosa

Maut tidak pernah memberi notifikasi dahulu. Semacam kejutan sebuah kado misteri, sebelum pada akhirnya ia merenggut segala kehidupan dalam situasi dan tempat yang tak diketahui. Pada medio Juli 2019, peristiwa nahas menimpa Lara, gadis yang dijuluki bunga desa, secara mengenaskan dihabisi oleh sopir taksi. Ketika itu, ia semestinya dapat menghirup udara kebahagiaan, sebab bertepatan dengan hari kelahirannya ke dunia. Namun, tak disangka pada tangga 15 di bulan itu, pun hidupnya sampai pada finis.

Tiga tahun silam, ketika Lara merampungkan Sekolah Menengah Pertama (SMA), timbul inisiatif untuk melanjutkan studi di universitas paling tersohor di kota. Nawaitunya disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Mengingat ibu dan ayahnya hanya menggantungkan hidup dari penghasilan kopra, mereka menaruh harapan penuh pada anak sematawayangnya agar kelak dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga.

Mereka (orang tua Lara) akan mencurahkan segala waktu dan tenaganya lebih intens untuk menyanggupi biaya kuliah anak tunggalnya itu. Memang, sejak Lara lahir sudah dinobatkan sebagai ‘Putri Kesayangan’. Sebab itu, sedikit demi sedikit orang tuannya menabung untuk keperluannya mendatang.

Setelah mendapatkan respon baik dari kedua orang tuannya, Lara begitu senang. Namun, ada satu hal yang tak bisa dinafikan, kerap rasa cemas menderanya saat ingin mewujudkan cita-citanya, karena mau tak mau ia dituntut pisah jarak dengan kedua orang tuanya.

Pada usia yang menjelang dewasa, bukanlah hal mudah untuk berpisah dengan orang tua, segala yang belum pernah ia jamah mesti dikerjakan sendiri. Termasuk melindungi dirinya. Apalagi, ia sudah terbiasa dimanja, tentu bakal kesulitan mengurus diri.

Di dunia luar tidak seakrab dan sebaik yang disangka. Banyak kekejaman yang awet. Kemanusiaan tidak begitu diperhatikan. Betapa banyak yang menjadi korban kejahatan. Orang-orang bakal memenuhi hasrat keserakahan untuk dirinya sendiri.

Demikianlah cara bertahan diri di tengah-tengah egoisme kehidupan yang menjadi pertimbangan bagi Lara. Ia belum sepenuhnya siap menghadapi kekejaman dunia, dan tetap ingin berlindung dibawah ketiak orang tuanya. Meskipun ia tahu betul tidak selamanya akan besama, tetapi ia memang perlu mematangkan diri menghadapi kerasnya hidup.

Setelah sepekan, pada suatu malam di kamar berukuran tiga kali enam meter, Lara tengah sibuk mengemas pakaian. Dipilahnya pakaian bagus–kekinian agar ia sedapat mungkin menyesuaikan dengan gaya orang kota sehingga tidak tampak kampungan. Ia lantas menata dan mengisinya ke dalam koper warisan kakeknya. Tidak lupa mempersiapkan berkas persyaratan mengikuti seleksi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Selama ia mengemas pakaian untuk keperluannya di kota, rasa cemas bergemuruh dalam dirinya dan masih skeptis dengan nasib kehidupannya di kota. Ia sadar betul, kehidupan kota sangat kejam. Maka, segera malam itu ia mengurungkan keberangkatannya besok pagi.

Sehabis mengemas pakaian, ia bergegas menuju ruang tengah untuk menemui kedua orang tuanya sedang nonton siaran TV. Tujuannya jelas, untuk mengutarakan niat.

Penundaan Keberangkatan ke Kota.

“Bu, setelah dipikir-pikir, rasanya saya belum siap untuk berpisah dari kalian. Jadi, mungkin besok saya belum bisa berangkat ke kota untuk mengikuti seleksi UTBK di universitas.” Terang Lara sambil duduk di samping ibunya.

“Kenapa, Nak?”

“Saya takut, Bu. Dari novel yang saya baca, dunia luar sangatlah kejam.”

“Novel itu hanya fiksi dan perasaanmu saja yang berlebihan, Nak.” Kata ibunya, berusaha menenangkan.

“Yah, Bu, saya belum siap. Nanti tahun depan saja, ya.”

“Begini, La. Di rantau sana, kamu bakal menemukan banyak pengalaman, entah itu cara bertahan hidup, atau ilmu pengetahuan pasti kamu dapatkan. Nanti dari ujian semacam itu kamu akan menjadi lebih kuat menjalani hidup, toh, kamu tidak selamanya akan bergantung pada kami. Ada saatnya kita akan berpisah, dan bagaimana pun itu mesti kamu siap menerima konsekuensinya.”

“Ibu, saya..,” belum menjelaskan, ibunya memotong, “Sudah, Nak. Semua pasti akan baik-baik saja. Kamu pasti bisa menjalaninya, kok.”

Mendengar itu, Lala segera berlalu dengan segudang rasa kecewa. Setibanya di atas kasur, ia berusaha membenarkan pikiran negatifnya, “Ada benarnya juga, ya, yang dikatakan ibu.” Batin Lara.

Tampaknya ia sedikit luluh atas nasihat ibunya. Sembari meraih buku diari dan pena di atas meja, ia perlahan menuliskan surat perpisahan yang bakal diselipkan di bawah bantal ibunya.

Assalamualaikum.

Bu, izinkan saya menulis surat ini, barangkali dapat meringankan sedikit kegelisahan dalam diri ini. Bu, kali pertama saya sadar dan mengenali kalian sebagai orang tua saya, sejak itulah saya tanamkan tekad akan membanggakan kalian.

Nawaitu saya untuk melanjutkan pendidikan, memang cita-cita terbesar saya sewaktu kecil. Karena dengan pendidikan, mampu membawa kita menjadi seorang manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. Hal itu tidak perlu saya jelaskan lagi, karena apa yang kita nikmati hari ini adalah berkat dari pendidikan, entah formal maupun nonformal sama pentinggnya.

Namun, bu, ada rasa yang seolah menahan saya untuk berpisah dengan kalian. Mungkin karena saya begitu dekat dan mendapatkan kasih sayang lebih dari kalian. Sebaliknya, bu, saya juga begitu sayang pada kalian. Jika besok saya berangkat ke kota, pastilah bakal merindukan kalian. Apalagi, nasi goreng dan ikan teri tumis buatan ibu makanan kesukaan saya. Hanya ibu yang tahu benar selera saya. Racikan yang belum pernah saya temukan di tempat lain. Bahkan ketika saya mencoba membikin hal yang serupa, tak pernah selezat masakan ibu. Satu-satunya di dunia, hanya masakan ibu yang mampu membuat saya nafsu makan. Ketika hidangan makan di atas meja tersaji, saya temukan kebahagiaan yang tak terhingga di setiap butiran nasi dan ikan teri tumisan, ibu.

Oh, ya, bu. Satu hal yang belum saya ceritakan ke ibu. Ini menyangkut kecemasan saya akhir-kahir ini. Tetapi bukan rindu, bu. Ini soal alasan saya takut berangkat ke kota. Sungguh, bu, belakangan ini, saat saya terlelap, acap kali dihampiri oleh mimpi

buruk, bu. Di dalam mimpi itu, ada seseorang yang mengintai dan bakal merenggut nyawa saya, tetapi saya lupa di daerah mana. Saya ingin memberitahu ibu, tetapi sudah tahu, kan, bu, soal mimpi seperti itu pastilah ibu tak percaya dan menganggap hal itu mustahil terjadi. Akan tetapi, bu, ini seperti kenyataan. Sepekan berturut-turut saya mengalami mimpi buruk yang sama. Bu, saya takut. Saya belum siap mati. Masih banyak hal yang ingin saya perbuat untuk membahagiakan kalian.

Bu, kejadiannya di dalam mobil. Orang asing dalam mimpi itu, beraksi atas kesempatan tanpa perencanaan yang matang bu. Tetapi ia berhasil merampas keperawanan dan harta yang saya bawa. Apakah ibu tidak mencemaskan saya, ketika dibunuh dan diperkosa? Saat saya tersadar dari mimpi, peluh di badan bercucuran tak tertahankan. Saya takut, bu. Jika hal ini memang akan terjadi, maka maafkan, saya, ya bu, belum bisa membahagiakan kalian. Semoga hanyalah mimpi. Semoga.

Larasati Kalamata

Hari semakin larut malam. Sepi perlahan-lahan menguasai antero. Suara-suara jangkrik kini mulai berisik, sementara Lara baru saja beres menulis surat. Ia lantas memisahkan secarik kertas yang ia sobek, dan meletakkan buku diari dan penanya di tempanya semula. Ia bangkit dan menghampiri kedua orang tuannya di ruang tengah tengah yang khusyuk menonton sinetron di teve. Atas izin mereka, ia masuk ke dalam kamar orang tuannya dan menyelipkan surat di bawah bantal.

Baru saja ia melewati pintu keluar, ayahnya meminta Lara membikin kopi, “La, Kopi Dabe satu ya.” Pinta ayahnya. Segera ia berlalu, dan meracik kopi kesukaan ayahnya.

Di dapur, ingatan Lara berseliweran, pikiran-pikiran yang mengganggunya hari lalu,

kini mulai mampir dalam mesin di kepalanya. Ketidakfokusan Lala membikin kopi adalah tindakan fatal. Nyaris setengah liter gula ia tuangkan ke dalam cangkir kopi. Ia terkejut. Dengan secepatnya membuang kopi kelebihan gula itu, dan kembali meracik kopi dengan takaran gula yang secukupnya.

Di rungan tengah, ayahnya menikmati sebatang rokok Surya stok terakhir dari 3 batang yang dibeli di warung Ci Nia. Sementara ibunya mengemil kue bilolo yang disajikan di atas piring plastik berwarna merah. Sesekali mereka mengomentari aktor sinetron yang bikin kesal, tetapi mereka begitu menikmati sinetron yang menurut Lara tidak mendidik itu. Semenit kemudian, Lara nongol dengan membawa secangkir Kopi Dabe.

“Letakan saja di atas meja, La.”

“Baik, Pak. Sembari berlalu.”

Saat hendak menuju kamar, ayahnya berseru, “La, ada yang ingin saya katakan.” Pinta Ayahnya.

Dengan sigap Lala memutar badan dan duduk di antara ayah dan ibunya.

“Gimana, pakaian dan berkasnya sudah beres dikemas?”

“Iya, sudah, Yah.”

“Maaf, La, besok ibu dan ayah tak bisa mengantarmu ke pelabuhan. Nanti kamu nebeng taksi saja. Kami mesti bertemu dengan Pak Acis, sorang pengusaha yang bakal membeli 2 hektare tanah kita. Uangnya bakal kami tabung untuk kebutuhanmu saat diterima di universitas.

“Oh, iya, baik, Ayah. Tapi, sebetulnya, saya masih takut, tidak bisa menjaga diri ketika berjauhan dari kalian.

“Sudah, kamu pasti bisa, kok.”

Obrolan mereka sangat aktif, tak terasa hari sudah berada di pertengahan malam. Kantuk yang bertengger di mata

Lara terasa berat, ia tak bisa lagi menahannya. Lara segera pamit untuk tidur.

Tak menyangka, ternyata hari keberangkatan itu bertepatan dengan ulang tahun Lara. Ia mendapat notifikasi Facebook yang memberikan ucapan selamat kepadanya. Mafhum, saking sibuknya ia bahkan tidak ingat hari lahirnya. Meski begitu, ia tidak kecewa, semoga di ulang tahun berikutnya dapat dirayakan walaupun hanya bersama keluarga kecilnya.

Mentari sangat elok pagi itu, langit begitu memukau dengan kebiruannya, sederet awan tipis menjadi pelengkap keindahannya. Meskipun ibu dan ayahnya pada saat itu mesti bertemu dengan Pak Acis, mereka tetap meluangkan waktu untuk mengantar anaknya menuju mobil merek Daihatsu Xenia warna abu-abu metalik di pangkalan rental mobil. Dari jarak enam meter di belakang mobil itu, tampak gamblang nomor DG 1754 KF. Kedua orang tuanya, berusaha menghafalnya. Kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, sopir tidak bisa mengelak.

Satu persatu barang-barang yang dibawah Lara diletakkan ke dalam bagasi mobil. Tidak sengaja ia menoleh ke arah sopir yang sedang menatapnya. Dari tampang wajah sopir tampak begitu mencurigakan. Ia nafsu dengan Lara. Memang, perawakan Lara begitu elok, siapa saja yang berpapasan dengannya, bakal terpukau oleh kecantikannya. Kulit langsat yang bersih, mata laksana bulan purnama, pipi bulat nyaris menyerupai roti, tahi lalat yang mencongol di dagu kanannya, bodinya seperti gitar yang menawan, tingginya pun standar, sekitar 167 meter. Dengan keelokan yang dimiliki Lara, pastilah lelaki bakal jatuh cinta. Akan tetapi, berbeda dengan supir ini, ia menatap dengan penuh berahi.

Lara segera masuk ke dalam mobil. Ia disambut dengan senyum sinis sopir mobil. Perasaan Lara tidak enakan. Ia hanya bisa berdoa semoga sepanjang perjalan tidak terjadi apa-apa.

Ketika mobil bertolak dari parkiran, Lara melambaikan tangan kepada kedua orang tuannya. Senyum bercampur tangisan membasahi pipi ibunya, begitupun Lara yang tak bisa menahan tangisnya, sementara ayahnya hanya menampakan mata berkaca-kaca.

“Jangan lupa berkabar, yah, kalau tiba di pelabuhan.” Ujar ibunya.

Lara mengangguk tanda mengiyakan.

Mobil melesat dengan cepat. Sepanjang perjalanan, sopir mengajak ngobrol, tetapi Lara tak mengeluarkan sepatah kata pun. Semakin jauh perjalanan yang ditempuh, semakin aneh pula tingkah sopir itu; merayu Lara agar bersedia menuntaskan berahinya. Di waktu yang sama, ingatan Lara kembali mengenang ibunya dan ayahnya di kampung yang belum lama berpisah. “Jangan-jangan inilah realisasi dari mimpi sepekan lalu. Apakah saya bakal diperkosa dan dibunuh sopir ini. Ya Tuhan lindungilah saya, dari lelaki tua bejat ini.” Batin Lara.

Di dekat gerbang hutan lindung, tiba-tiba mobil berhenti. Sopir itu mengelak kepada Lara, bahwa mesin mobil bermasalah, tetapi tak kunjung mengeceknya. Lara berusaha membuka jendela mobil, tetapi nahasnya jendela terkunci. Sopir itu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Lara, sembari berbisik ke telinga Lara, “Maukah kamu merelakan tubuhmu untuk dinikmati dalam mobil ini.”

“Bangsat. Lelaki bejat. Saya ini bukan wanita murahan.”

“Nanti saya bayar berapa pun kamu mau.”

“Persetan. Saya tidak mau. Tubuh saya tak akan saya jual, apalagi kepada lelaki

sepertimu.”

“Ayolah, sekali saja. Nanti saya rahasiakan,” tangan sopir mulai lancang, meletakkannya di bahu Lara. Dengan sigap Lara mengempaskan tangannya. Sopir itu terus menggoda dan menggoda.

Jari sopir menari-nari paha Lara, berharap bakal terangsang, tetapi Lara selalu mencegahnya. Karena terus melawan, pada akhirnya sopir melayangkan sekali gamparan ke pipinya. Lara meringis kesakitan. Sopir itu dengan sigap mengayunkan tangannya ke dada Lara, dan bekerja dengan baik. Meskipun Lara memberontak, sopir tetap melakukannya. Satu tendangan melayang ke wajah sopir itu, tetapi tak berpengaruh. Sopir kembali mendekap tubuh Lara, mengikat tangan Lara, lantas menyobek baju, dan membuka penutup buah dada Lara.

Lara masih melawan, sopir itu memukulnya. Kini sopir bertindak bengis. Sekali lagi menggampar Lara. Mulutnya disumbat degan sehelai baju yang ia kenakan, dan sopir itu melepaskan celana jins dan sempak Lara. Semua kesuciannya telah dilihat oleh sopir.

Sopir itu, kini tak mengenakan sehelai kain, dan perlahan-lahan ia memainkan pelirnya. Mendekatkannya ke lobang mulut yang terlampau suci, dan menjalankan aksinya. Dengan sisa tenaga, Lara berusaha menjegal. Hanya kakinya yang bisa diandalkan. Tendangan bertubi-tubi dari Lala, memancing kemarahan sopir. Lantas ia memencekik Lara. Nafasnya yang tersengal. Lara tetap memberontak. Setengah jam lebih, pelir sopir memutahkan cairan putih kental ke bantalan wajah Lara. Dengan jijik Lara berusaha menyekanya. Belum beres cairan itu keluar, pelir supir kali kedua memasuki lubang rahasia. Dari raut wajah Lara tampak kelelahan. Ia tak mampu lagi memberontak. Hanya bisa mengeluarkan air matanya, sampai kali kelima cairan itu kembali muntah di atas perut Lara. Saat itu, Lara kembali memberontak. Ia melayangkan tendangan ke

selangkangan sopir. Sopir meringis kesakitan, dua biji masa depannya nyaris pecah.

Tapi, setelah sopir itu kembali pulih beberapa menit kemudian, ia memukul dan cekik Lara hingga tak memberi ruang untuk bernapas. Setelah melihat tubuh telanjang tergeletak tak bernyawa di dalam mobil, sopir itu keluar dan menggendong mayat dan akan dibuang ke hutan lindung untuk menghilangkan jejak tindakan kriminalnya. Tubuh mayat yang dipenuhi lebam biru itu, dibungkus dengan terpal dan diletakan di bawah naungan pohon pala. Semua hartanya dirampas, dan tersisa hanya dompet berwarna merah muda di sebelah tubuh mayat itu.

Sebelum kembali ke dalam mobil, sopir merapikan pakaiannya, agar ia tidak dicurigai. Rasa sesal mulai menghampirinya, karena bagaimanapun ia sekarang menjadi buronan polisi. Agar terhindar dari buruan polisi, ia memacu mobilnya ke salah satu perkampungan pelosok Halmahera. Di kediaman salah satu karibnya ia bersembunyi. Sebenarnya mereka hanya saling melindungi dari kejahatan yang diperbuatnya. Kolegannya juga pernah melakukan hal serupa, tetapi ia berhasil mengaburkan semua bukti, dan selamat dari buronan polisi.

Lima jam setelah perpisahan mereka, tak satupun telepon melayang dari Lara ke ponsel ibunya. Mestinya pada waktu itu, sudah tiba di pelabuhan, karena jarak tempuh dari kampung ke sana hanya butuh dua jam setengah. Ibunya khawatir terjadi sesuatu kepada putri sematawayangnya. Firasat seorang ibu jarang sekali meleset. Meski pada mulanya Ibu Lara tidak begitu yakin dengan kebenaran firasat, tetapi kali ini seolah ia dituntut percaya. Tepat saat memasuki waktu senja di beranda rumah, satu panggilan dari nomor yang tidak dikenal melayang ke ponsel Ibu Lara.

“Halo, ini dengan Ibu Lara?” Tanya seorang petani yang menemukan mayat Lara.

Iya, benar. Dari mana kamu tahu nama anak saya?”

“Dari dompet yang berisi KTP dan secarik kertas yang tertulis nomor ponsel ibu.”

“Kamu merampok anak saya?”

“Begini, bu, sebelumnya saya maaf dan saya harap jangan terkejut manakala saya beritahu satu hal ini.”

“Iya, perihal apa? anak saya tidak apa-apa kan?”

“Anak ibu saya temukan di hutan lindung di bawah pohon pala, yang tak jauh dari kebun saya. Tubuhnya penuh lebam biru, dan tidak bernyawa. Entah siapa yang melakukan ini, tapi dari pengamatan saya, peristiwa ini berlangsung beberapa jam yang lalu.”

Mendengar kabar buruk itu, ibunya sontak hilang kesadaran, tergeletak di bawah meja kayu di beranda rumah. Saat tersadar ia kembali bertanya dengan suara lirih:

“Anak saya baik-baik saja kan?” (***)