Membaca Realitas

Gempa Bumi Gorontalo Akibat Lempeng Sangihe di Bawah Teluk Tomini

Tidak Berpotensi Tsunami

TERNATE (kalesang) – Gempa bumi berkekuatan 6,3 magnitudo yang mengguncang wilayah Gorontalo dan dirasakan hingga ke Maluku Utara (Malut), diakibatkan adanya deformasi batuan dalam lempeng Sangihe di bawah Teluk Tomini.

Hal ini diketahui berdasarkan keterangan yang disampaikan BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Ternate bahwa dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi intraslab.

“Dengan kedalaman menengah akibat adanya deformasi batuan dalam Lempeng Sangihe di bawah Teluk Tomini.” Kata Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Andri Wijaya Bidang, Rabu (18/1/2023).

Baca Juga: Gempa Bumi Guncang Gorontalo Dirasakan di Maluku Utara

Gempa bumi ini berdampak dan dirasakan di daerah Luwuk dan Ampana dengan skala intensitas III-IV MMI. Sedangkan daerah Kotamobagu, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Pohuwato, Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Utara, Bolaang Mongondow, Kota Gorontalo, Taliabu, Minahasa Tenggara, Boalemo, Minahasa Selatan, Toli-Toli, Poso, dan Kabupaten Bone Bolango dirasakan dengan skala intensitas III MMI.

Baca Juga: Hujan Kristal Es Melanda Halmahera Tengah, Begini Penjelasan BMKG

Sementara, daerah Kabupaten Gorontalo Utara, Sanana, dan Palu dengan skala intensitas II-III MMI. Untuk daerah Ternate, Morowali, Manado, Halmahera Selatan dan Labuha dengan skala intensitas II MMI.

“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami. Hingga pukul 10.00 WIT, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan atau aftershock.” Pungkasnya.

 

Reporter: Rahmat Akrim

Redaktur: Junaidi Drakel