Manusia merupakan salah satu makhluk yang berkebutuhan, Ada banyak kebutuhan yang ia butuhkan agar dapat bertahan hidup. namun untuk memenuhi hal tersebut tentunya sebagai individu juga membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Pola hidup simbiosis ini didefenisikan secara sederhana sebagai sosial, sehingga manusia sering disebut sebagai makhluk sosial.
Dari pola hidup berkebutuhan manusia itu kemudian membentuk sebuah transformasi dari Sendiri (individu) ke membutuhkan orang lain (kelompok). Greenberg dan Baron mendefinisikan kelompok sebagai kumpulan dari dua individu atau lebih yang berinteraksi yang menjaga pola hubungan yang stabil, berbagi tujuan bersama, dan merasakan diri mereka menjadi sebuah kelompok, Gito Sudarmo memberikan definisi kelompok sebagai dua atau lebih berkumpul dan berinteraksi saling bergantung untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Rivai dan Mulyadi menjelaskan bahwa kelompok adalah dua individu atau lebih yang berinteraksi dan saling bergantung untuk mencapai sasaran tertentu.
Dari beberapa pendapat para ahli dapat diambil kesimpulan bahwa kelompok adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang saling berinteraksi. Dalam interaksinya, ada tujuan yang hendak dicapai. Kata kunci dari sebuah kelompok adalah adanya dua individu yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama. Pendapat Henry Murray dan David Mc Clelland serta McAdam dalam Dayakisni (2006:157) terdapat dua motif sosial yang mendorong seseorang untuk melakukan hubungan dengan orang lain yaitu ; Need of Affiliation (kebutuhan untuk berafiliasi) yaitu keinginan untuk membentuk dan mempertahankan beberapa hubungan interpersonal yang memberi ganjaran dan need of Intimacy (kebutuhan berhubungan intim) yaitu memilih hubungan yang hangat, dekat dan komunikatif.
Dengan kemampuan kognitifnya, satu orang manusia mampu mempengaruhi lebih dari satu bahkan lebih dari triliunan orang manusia di dunia untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai individu maupun sebagai kelompok atau kebutuhan bersama. Hal ini dikarenakan manusia dengan kemampuan kognitifnya itu bisa menciptakan mitos-mitos imajiner yang membuat manusia membentuk kelompok dan bekerja sama dalam jumlah yang banyak.
Seiring berkembangnya maka kelompok pun menjadi Organisasi. Organisasi adalah kesatuan (susunan dsb) yang terdiri atas bagian-bagian (orang dsb) dalam perkumpulan dsb untuk tujuan tertentu serta kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama (KBBI). Organisasi merupakan suatu kelompok orang yang sedang bekerja kearah tujuan bersama dibawa kepemimpinan (Davis:1951). Ini artinya organisasi sebagai wadah abstrak yang menampung individu-individu dengan tujuan dan kebutuhan yang sama menjadi sebuah kelompok yang bekerja sama, melindungi, dan mencapai tujuan dan kebutuhan bersama kelompoknya.
Di Indonesia terhitung dari masa pra kemerdekaan, pasca kemerdekaan, reformasi, hingga pasca reformasi sudah banyak organisasi yang terbentuk dan tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ada organisasi kemahasiswaan (ekstra/intra kampus), organisasi kepemudaan, organisasi paguyuban, dan masih banyak lagi organisasi yang tersebar di nusantara dengan berbagai tujuan dan kebutuhan yang beragam.
Salah satu yang menjadi pemantik dari berdirinya organisasi – organisasi di Indonesia adalah “Budi Utomo”. Budi Utomo adalah organisasi pemuda yang didirikan oleh Soetomo dan para mahasiswa Stovia pada 20 Mei 1908 setelah Belanda menerapkan politik etis atau politik balas budi.
Kemudian pada tahun-tahun berikut bermunculan organisasi-organisasi kedaerahan seperti Jong Ambon, Jong Java, Jong Celebes dan sebagainya. Yang tujuan sederhananya adalah melawan dominasi belanda di daerah organisasi kedaerahan tersebut.
Setelah berdinamika selama 20 tahun melawan dominasi belanda yang terstruktur dan sistematis di seantero Nusantara, maka dibuatlah pertemuan maha penting pada tahun 1928 yang melahirkan “Sumpah pemuda” 28 Oktober di tahun yang sama sebagai tonggak kristalisasi semangat pergerakan Nasional para pemuda dan menjadi cikal bakal berdirinya Republik Indonesia.
Pasca kemerdekaan 1945, sekolah-sekolah tinggi mulai didirikan bersamaan dengan bermunculan ideologi-ideologi baru di kalangan mahasiswa dan pemuda waktu itu. Yang diantaranya adalah fasisme, sosialisme, dan komunisme. Tentunya ideologi-ideologi baru ini bertentangan dengan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Ideologi sendiri menurut KBBI bermakna kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup; cara berpikir seseorang atau suatu golongan; serta paham, teori, dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik.
Kata Ideologi pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Prancis Destutt de Tracy pada tahun 1796. Kata ini berasal dari bahasa Prancis idéologie, merupakan gabungan 2 kata yaitu, idéo yang mengacu kepada gagasan dan logie yang mengacu kepada logos, kata dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan logika dan rasio. Pergolakan ideologi pasca kemerdekaan ini berujung pada pemberontakan terhadap pemerintahan. Hal ini dikarenakan kelompok yang melakukan aksi pemberontakan menginginkan Indonesia sejalan dengan ideologi yang dipercayai kelompok tersebut.
Berdirinya organisasi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sebagai gerakan mahasiswa islam indonesia untuk membendung pergolakan ideologi yang kontra terhadap pancasila serta melakukan upaya-upaya untuk mempertahankan kemerdekan Indonesia. Menurut Agus salim sitompul (Sejarah dan perjuangan HMI (1947-1975) menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang menjadi latar belakang berdirinya HMI , yakni;
Pertama, situasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kedua, kondisi umat Islam Indonesia.
Ketiga, situasi dunia perguruan tinggi dan kemahasiswaan.
HMI diprakarsai oleh Lafran pane seorang mahasiswa tingkat I (Semester 1) Fakultas Hukum Sekolah Tinggi Islam (STI) di Yogyakarta (Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, sekarang). Namun sebelum hadirnya HMI telah lebih dulu berdiri organisasi kamahasiswaan yang bernama Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) pada tahun 1946 yang beranggotakan mahasiswa dari tiga Perguruan Tinggi yang ada di Yogyakarta yaitu Sekolah Tinggi Islam (STI), Sekolah Tinggi Teknik (STT), dan Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada. Dikarenakan PMY kurang memperhatikan mahasiswa muslim yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam serta tidak tersalurnya aspirasi keagamaan menjadi alasan kuat Mahasiswa muslim untuk mendirikan Organisasi yang berdiri dan terpisah dari PMY.
Di tahun 1946 suasana Politik Indonesia di Ibu kota Yogyakarta mengalami polarisasi antara pihak Pemerintah (dipelopori oleh Partai Sosialis) dan pihak Oposisi (dipelopori oleh Masyumi, PNI, dan Persatuan Perjuangan) membawa mahasiswa yang sebagian besar adalah pengurus PMY berorientasi kepada partai Sosialis. Dominasi Partai Sosialis terhadap mahasiswa dinilai akan menyebabkan dunia mahasiswa terlibat polarisasi politik sehingga melemahkan kekuatan Indonesia melawan Belanda.
Setelah melakukan pembicaraan dengan beberapa teman-temannya tentang gagasan pembentukan Organisasi yang bernafaskan Islam, Lafran pane kemudian melakukan rapat dengan mengundang mahasiswa yang ada di Yogyakarta untuk membicarakan maksud tersebut. Tepat pada tanggal 5 februari 1947 Lafran pane mengadakan pertemuan mendadak di salah satu ruang kuliah STI menggunakan jam kuliah Tafsir oleh Husen Yahya dan setelah melewati berbagai pertanyaan dan penjelasan seluruh peserta rapat setuju dan berketetapan hati untuk mengambil keputusan:
Hari Rabu Pon 1878, 15 Rabiulawal 1366 H, tanggal 5 Februari 1947, menetapkan berdirinya organisasi Himpunan Mahasiswa Islam disingkat HMI yang bertujuan:
Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat Rakyat Indonesia.
Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.
HMI banyak terlibat aktif dalam upaya-upaya mempertahankan Pancasila dan kemerdekaan indonesia. Salah satunya adalah dukungan terhadap pembubaran Partai Komunis Indonesia hingga keterlibatan dalam proses skrining pembersihan kampus dari paham komunis pasca G-30S/PKI.
Dari berbagai hal inilah tentunya Himpunan Mahasiswa Islam mempunyai komitmen yang besar terhadap umat islam dan indonesia pada umumnya dengan terus melakukan banyak kontribusi besar yang dituangkan dalam bentuk pikiran dan tindakan inovatif untuk Negara, Bangsa, dan Umat. HMI memiliki role mode dan budaya organisasi yang peka terhadap kebutuhan Mahasiswa Islam dalam pengembangan potensi serta wadah terbuka untuk menuangkan pikiran, gagasan, dan tidakan yang akademis guna terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah SWT.
