Membaca Realitas

Spiritual Ekologi

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang peduli, penyayang, dan inventif. Ini adalah kabar gembira untuk memulai gerakan merawat bumi. Sebuah gerakan yang tepat untuk menata ulang hubungan kita dengan alam.

Sebab jika semua kekuatan yang melanda planet ini adalah kekuatan yang diciptakan manusia dan jika manusia adalah sumber masalah, maka kita dapat menjadi dasar untuk solusinya.

Praktik spiritual ekologi adalah cara yang efektif untuk memperkuat hubungan kita dengan alam, sehingga kita semakin menyadari pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan, praktik spiritual ekologi dapat menjadi instrumen yang sangat berguna dalam upaya tersebut. Dengan mempraktik nilai-nilai spiritual ekologi dalam kehidupan sehari-hari.

Krisis lingkungan bukanlah hal yang baru dalam pembicaraan. Kendati demikian, hal tersebut selalu menarik dan tak pernah berhenti diulas banyak orang yang menyebutkan bahwa krisis lingkungan beredar dari antroposentrisme. Aliran ini menyatakan bahwa pengambilan kebijakan terhadap alam didasarkan atas kepentingan manusia. Hal ini yang membuat manusia merasa memiliki.

Kadang kita (manusia) tidak pernah terpikirkan bahwa alam adalah hal yang paling dekat dengan kita, padahal hakekatnya manusia adalah menghidupi alam dan begitu juga sebaliknya. Pernahkah terpikirkan dalam benak kita masing-masing bahwasannya Tuhan menciptakan alam saja tanpa manusia atau manusia saja tanpa alam, hal semacam inikan adalah suatu keanehan, karena kembali lagi alam dan manusia saling membutuhkan.

Manusia saat ini tidak lagi menyadari keterkaitan yang ada antara manusia dan alam itu sendiri, serta tidak lagi memperkuat hubungan positif antara keduanya. Maka jangan heran kalau saja alam sendiri yang membuat manusia itu celaka, dari sinilah kita seharusnya membangun kesadaran diri tentang betapa pentingnya peran alam dalam kehidupan kita masing-masing.

Terlalu umum ketika saya menyarankan pada kita semua untuk membuang sampah pada tempatnya, tapi itu adalah cara kita menyadarkan diri untuk tetap menjaga keseimbangan alam semesta ini yang dipandang perlu dan diingatkan berulang-ulang kali.

Saya menilai bahwa sampah mama-mama modern dan sampah mama-mama dahulu yang ada di dapur, sangatlah berbeda dari cara pandang masing-masing, saya bisa pastikan bahwa dapur mama-mama modern pasti ada tempat sampah yang berukuran besar untuk membuang sampah organik maupun anorganik, semuanya disatukan dalam tempat sampah tersebut untuk ditaruh pada teras-teras rumah atau tempat sampah umum yang disediakan di tiap-tiap desa, kelurahan maupun RT tersebut, sembari menunggu mobil angkutan sampah yang datang mengangkut sampah-sampah tersebut untuk ditampung pada penampungan sampah yang skalanya lebih besar. Seperti yang terdapat di Kelurahan Takome, Kecamatan Ternate Barat, Kota Ternate.

Beda halnya dengan sampah mama-mama dahulu pada tiap dapur-dapur mereka, yang alat masaknya masih bergantung pada alam, misalnya masih menggunakan tungku dan kayu bakar, selain masih bersahabat dengan alam alat masak ini, juga dapat mengurangi ekonomi rumah tangga karena tidak lagi menghabiskan uang untuk membeli minyak tanah atau gas elpiji.

Pada saat memasak mie instan misalnya, pasti bungkusan mie instan selalu dimasukkan ke dalam api yang mendidihkan air tersebut, begitu juga sampah plastik lainnya, beda halnya dengan sampah anorganik (sisa-sisa makanan) misalnya pasti dibuang ke laut untuk makanan para ikan, kalau tidak pasti ditanam dalam tanah makanan para cacing. Begitu sederhananya berbagi sesama makhluk hidup yang berada di alam semesta ini yang dipraktik oleh orang tua-tua kita terdahulu

Terlebih lagi tentang pertambangan, ini juga salah satu faktor terjadinya kerusakan alam yang berkepanjangan hingga pada sampai generasi-generasi mendatang, ketakutan saya mereka sudah tidak lagi melihat hutan yang terbentang luas seperti sekarang dan hewan-hewan yang hidup dalam hutan tersebut.

Mereka hanya mendengar cerita tentang hutan dan hewan saja, kalau tidak mereka harus berkunjung di museum-museum yang bernuansa tentang kehutanan yang terdapat pada beberapa daerah di Indonesia, seperti di kebun raya Bogor, yang menyimpan sebagian besar tumbuhan yang ada di dunia dan fosil-fosil segala macam hewan yang ada di alam semesta ini.

Di sini saya ingin menegaskan bahwa dahulu orang tua kita juga melakukan praktik menambang, tetapi caranya tidak seperti sekarang ini, mereka menggunakan cara mendulang, atau mengambil sisa-sisa emas pada bibir-bibir sungai. Mengambil hanya secukupnya saja untuk kebutuhan tertentu dan cara itu sama sekali tidak merusak alam serta menjaga keseimbangan alam yang kita pijaki saat ini.

Cara itulah sangat berbeda dengan penambangan orang-orang modern yang menggunakan cara melubangi tanah hingga kedalaman bermeter-meter. Sampai pada masa kerusakan alam itu terjadi dan hasil alam itu hilang tidak meninggalkan sisa, seperti penambangan yang berjalan di Balisosang, Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara.

Seharusnya kita generasi-generasi sekarang ini membangun kesadaran pola pikir yang sama dengan orang tua-tua terdahulu dan jangan hanya pada kita sendiri, tetapi juga pada generasi yang akan datang, misalnya mendidik anak-anak untuk tidak membuang sampah sembarangan, menjelaskan tentang betapa pentingnya kehadiran kita terhadap alam dan memberi dukungan terhadap organisasi atau komunitas lingkungan.

Bergabung pada perkumpulan-perkumpulan yang lebih memedulikan keseimbangan alam, sehingga kita dapat mencapai tujuan untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan lestari di era modern ini. Di sini tanah memegang peran penting, tidak hanya dalam ketahanan pangan, tapi juga stabilitas iklim.

Demi ekosistem sehat, dibutuhkan tanah yang sehat. Penting sekali menjaga keseimbangan dan ketersediaan unsur kesegaran dalam tanah. Kita bisa mulai dari hal-hal sederhana, dengan mengubah pola hidup dan pola pikir. Satu contohnya, pengelolaan sampah daun. Bisa ditimbun dalam tanah agar bisa diurai dan jadi tanah humus yang kaya nutrisi.

Biarkan mikroba dan organisme di tanah bekerja. Aksi-aksi kecil semacam ini bisa mencegah ‘kepunahan’ tanah, suatu kondisi yang ujungnya akan membawa generasi setelah kita ke kehidupan yang turun kualitasnya; bayangkan saja jikalau pada lima puluh tahun ke depan orang-orang tidak bisa lagi merasakan sehat dan lezatnya sayuran dan buah, sebagaimana seperti yang kita rasakan hari ini.***