Ketika pohon terakhir ditebang, sungai terakhir dikosongkan, ikan terakhir ditangkap, barulah manusia akan sadar bahwa dia tidak bisa makan uang. Kata warga Bhutan dalam bukunya Eriv Weiner, The Geography of Bliss itu, menunjukkan bahwa betapa minimnya kesadaran manusia terhadap alam. Sebagaimana perkembangan zaman, dengan berbagai teknologi yang canggih saat ini, tidak membuat manusia makin cerdas untuk menimbulkan kesadaran.
Kecerdasan manusia justru dipergunakan sebagai instrumen atau alat untuk mengeksploitasi alam. Kesadaran manusia akan hadir apabila bencana seperti gempa bumi, banjir, longsor, kekeringan, maupun tsunami.
Di Indonesia saat ini, masyarakat cepat terlena dengan perkembangan globalisasi, dengan informasi-informasi dari negara asing, yang membuat cara berpikirnya lambat laun berubah. Sebagaimana di era sekarang, masyarakat dari membuka mata hingga menutup mata kembali, semua telah dikontrol negara asing. Coba kita lihat dan merenungkan kembali, fenemomena-fenomena yang telah terjadi di lingkungan kita saat ini, apakah semua baik-baik?
Sayyed Hossein Nasr (1996) menyebut bumi kita sedang berdarah-darah oleh luka-luka yang dideritanya akibat ulah manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan. Dari ujaran Hossein ini, kita bisa lihat manusia menjadi pelaku perusak alam.
Kerakusan manusia yang tidak bisa dikendalikan nafsunya, yang akhir mengancam alam tersebut. Sebab itu, manusia mebuat aktivitas: menebang pohon, membakar hutan, membangun reklamasi, masifnya pertambangan.
Kita tidak bisa pungkiri lagi, fenomena yang terjadi saat ini, lajunya putaran golobalisasi, bukan membawa manusia keluar dari lingkaran setan. Tetapi, berkembangnya teknologi manusia, sambil mendorong untuk mengikuti zaman yang tidak mempunyai nilai moral sesama lingkungan.
Ancaman telah terjadi di lingkungan saat ini, bukan sesuatu yang baik-baik saja. Karena bencana yang terjadi ini, akan berkelanjutan hingga ke generasi yang akan datang.
Sebab, kesadaran manusia sekarang telah terkubur di dalam berkembangnya teknologi.
Dengan tuntutan untuk mengikuti zaman serba baru, maka manusia lebih mementingkan kemajuan kota daripada lingkungan. Sebab, di tengah-tengah kota, semua didirikan bangunan megah seperti mall, hotel, perkantoran, dan lain-lain.
Dengan tuntutan ini, alam kita menjadi ladang pengeksploitasi untuk percepat arus perkonomian dan pembangunan. Seperti yang kita lihat, praktek penebangan liar (illegal logging) mulai marak, karena untuk memercepat ekonomi dan pembangunan.
Hutan menjadi sasaran untuk areal perkebunan monikultur: perkebunan kelapa sawit, pembangunan infrastruktur dan pertambangan, serta berbagai kegiatan ekspolitasi yang menjadikan pohon sebagai sasaran pengrusakan. Dengan berbagai aktivitas telah dilakukan, telah hilanglah jutan hektar hutan dan pohon.
Perilaku seperti itu tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa saat ini bumi kita akan mengalami krisis pohon. Seperti ditulis Arifin Muhammad Ade dalam bukunya Narasi Ekologi (2020), setiap tahun pohon ditebang sebanyak 15 juta unit. Lahan pun demikian, yang dikabarkan sebanyak 18 juta hektare pohon (Lux, 2019).
Sementara itu, World Wildlife Fund mencatat, rata-rata setiap tahun Indonesia kehilangan 1,1 juta hektare hutan. Selanjutnya, Forest Watcv Indonesia menyebut Indonesia pada tahun 19770 hingga 1970 mengalami penerunan 1,2 juta hektare hutan pertahun. Sementara pada 2000 hingga 2009, laju penggudulan hutan di negeri ini 1,5 juta pertahun.
Terkait dengan pengeksploitasi hutan secara berkelanjutan itu, maka di zaman yang akan datang alam kita akan terjadi krisis pohon. Hal demikian akan menjadi pertanda buruk untuk umat manusia. Karena dampak menjadi bencana: banjir, longsor, hilang keanekaragaman mahluk hidup, maupun menjadi pemenasan global (global warning), yang akan membuat tanah kita menjadi gersang.
Maka dari itu, membangun kesadaran lebih penting, sembari mengingat pentingnya kegunaan pohon. Sebab, pohon salah satu induk kehidupan untuk melindungi lingkungan kita, seperti apa yang dikatakan dari P. Hadi dalam buku Bunga Rampai Menejemen Lingkungan (2014). Bahwa keberdaan pohon dan hutan sangat membantu, sebagai pencegah erosi, pengatur tata air, penyedia sumber air, penyedia oksigen, habitat keanekaragaman hayati, perlindungan dari sengatan panas mantari dan sebagai penyedian obat-obatan tradisional.
Pohon sangat berguna bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sosoial maupun ekonomi. Sebab, apa yang kita lihat sehari-hari, sebagaimana perannya pohon, bisa berfungsi melindungi kita dari terik mentari. Lebih unik, pohon bisa mempertemukan kita sesama manusia. Seperti di lingkungan kampus, tempat wisata dan lain-lain.
Di dalam kebutuhan ekonomi, kayu yang dihasilkan dari pohon, bisa membuat rumah, kursi, meja, tempat bunga hias, asbak dan laci. Poroduk-produk dihasilkan dari pohon bisa dijual-belikan. Tetapi jangan lupah menanam kembali pohon yang sudah ditebang.
Sebagaimana penjalasan di atas sangat pentingnya pohon dalam kehidupan kita, melindungi kita dari bencana, membuat indahnya kehidupan. Maka dari itu, kita sebagai manusia harus sadar pentingnya pohon dalam kehidupan. Merawat pohon seperti merawat manusia. Tak ada salahnya kalau kita berkorban untuk pohon.***
