Membaca Realitas

Sudut Negatif Paparan Sosial Media

Berbicara mengenai kehidupan sekarang ini, tidaklah bias kita melepas pisahkan dari aktivitas dalam ruang media social. Akibat dari arus moderenisasi jaman, keperluan manusia semakin hari semakin bertambah, dari yang hanya memerlukan pakaian, makanan, dan kebutuhan pokok lainya, sekarang media social menjadi salah satu kebutuhan di tengah-tengah aktivitas kita.

Interaksi sering terjadi di dalam berbagai macam aplikasi yang sering kita jumpai sekarang ini mulai dari Facebook, Instagram, WhatsApp, dan lain-lain. Aktivitas di dalam media social ini pun beraneka, mulai jual beli, update aktivitas, bahkan hanya untuk sekedar mengakses informasi.

Meski demikian, sekarang ini yang dapat kita lihat adalah bagaimana manusia mulai terikat dengan aktivitas seputar media, tak jarang kita saksikan perubahan social yang instan terjadi di tengah-tengah masyarakat kita sekarang ini adalah dampak dari social media itu sendiri. Akan tetapi bukan itu yang menjadi permasalahan sebenarnya.

Permasalahan sebernarnya terletak pada kecenderungan manusia yang tidak mampu menyaring segala bentuk informasi dan pandangan yang kita konsumsi dari social media itu sendiri. Akibat dari itu tak jarang segala bentuk paparan yang hadir di dalam media social di serap oleh kita secara mentah-mentah.

Ada sebagian besar fenomena social sekarang ini yang kita saksikan merupakan hasil dari menjamurnya fenomena yang terjadi di dalam media social. Artinya, kita selaku individu yang mampu dan memiliki kehendak penuh terhadap apa yang kita konsumsi tidak lagi mampu memposisikan diri sebagai kaum yang bijak dalam memanfaatkan moderenisasi digital.  Kita cenderung terbawa dengan apa yang disajikan oleh media. Tanpa sadar kita langsung menyerap apa yang menjdi bahan konsumsi kita tanpa ada filter terlebih dahulu.

Fashion misalnya, dari kalangan tua sampai pada kawula muda berlomba-lomba untuk selalu unggul dalam segi berpenampilan, semua yang menjadi trend atau viral di jejaring social sebagian besar coba diterapkan pada masing indivudu dengan tujuan agar mampu terlihat bersaing dikalangan masyarakat dari segi gaya dan penampilan. Hal demikian bahkan kita jumpai dari mulai kegemaran music, olah raga, sampai pada kebutuhan pokok sekalipun dan masih banyak hal-hal lainya. Fenomena ini disebut sebagai “Masyarakat Konsumtif”.

Yang dimaksud dengan masyarakat konsumtif di sini adalah masyarakat yang selalu mencoba menyesuaikan diri secara paksa atau berlebih dengan apa  yang menjadi kebiasaan mendadak public. Ini merupakan titik diamnya masyarakat kita sekarang yang selalu terpaku dengan apa yang didesain agar nantinya menjadi kebutuhan.

Faktanya, hal itu akan terus berulang. Dan ini akan terus berputar seraya menyukseskan target-target instant produsen. Kondisi seperti sekarang inilah kebuntuan sebenarnya kita. Walaupun yang kita ketahui mengenai manfaat positif dari media social pun tak kalah banyaknya.

Contoh di atas merupakan sebagian kecil dari berbagai macam dampak-dampak negative dari kurangnya memahami dan membijaki moderenisasi digital. Jika kita berbicara mengenai kekeliruan dan gagalnya kita dalam membijaki moderenisasi digital di era posmodern ini, semua itu tak terlepas dari kebiasaan kita dalam mengonsumsi segala bentuk tumpahan toping di dalam media itu sendiri. Dengan kata lain, memanglah terasa sulit dan terkesan berlebihan bagi sebagian orang, hal ini dikarenakan kita terbiasa dengan apa yang kita anggap biasa.

Sebenarnya sah-sah saja jika kita bersikap bodoh amat terhadap efek konsumsi public yang berlebihan ini, akan tetapi yang harus disadari lagi adalah pertimbangan moralitas dan social kita yang ke depanya akan lebih mudah digoncang dengan culture dan social komersil dari luar..