Membaca Realitas

Urgensi Biodiversitas, Perkumpulan Pakativa Gelar Workshop Lindungi 30 Persen Daratan dan Perairan Dunia

TERNATE (Kalesang) – Perkumpulan Pakativa bersama Jaringan Nusa gelar Workshop dengan tema “Keanekaragaman Hayati Serta Urgensi Regulasi Konservasi Sumber Daya Hayati dan Esensial di Indonesia” agar dapat melindungi 30 persen daratan dan perairan dunia.

Workshop yang dilaksanakan pada Senin (22/5/2023) bertempat di Cafe Drupadi, menghadirkan narasumber dari unsur Pemerintahan, yang diwakili Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Amehr Hakim, Perwakilan Sekertariat WG ICCAs Indonesia, Cindy Julianti, Akademisi Universitas Khairun Ternate, Zulham Harhap dan Direktur Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia, Nirwan Dessibali, serta menghadirkan sejumlah peserta dari berbagai pihak termasuk media.

Direktur Perkumpulan Pakativa, Nursyahid Musa menjelaskan, terkait kegiatan tersebut digelar di latar belakangi oleh kondisi yang ada di Indonesia termasuk di Maluku Utara.

Menurutnya, tujuan adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran serta menumbuhkan kecintaan terhadap keanekaragaman hayati atau biodiversitas.

Sementara tema besar yang digagas Jaringan Nusa dalam, Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2023 adalah “From Agreement to Action: Build Back Biodiversity” yang bertujuan untuk mempromosikan tindakan dalam mendukung Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KM–GBF).

“Hari Internasional Keanekaragaman Hayati mengusung tema berbeda tiap tahunnya yang ditentukan oleh sekretariat PBB dalam upaya mengangkat isu spesifik terkait dengan keanekaragaman hayati.” ujarnya.

Sementara, pada tahun 2022 lalu, negara-negara yang bertemu di Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB COP15 di Montreal telah mencapai kesepakatan yang merupakan langkah kunci dalam melindungi daratan dan lautan dunia serta mendukung upaya untuk melindungi iklim dunia. Adanya komitmen bersama untuk melindungi 30 persen daratan dan perairan dunia yang dianggap penting bagi keanekaragaman hayati pada tahun 2030.

“Saat ini, hanya 17 persen daratan dan 10 persen lautan dunia yang dilindungi. Hari Keanekaragaman Hayati atau Biodiversity Day diperingati setiap tanggal 22 Mei.” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa di Indonesia, fenomena yang sangat memprihatinkan adalah tingginya laju deforestasi. Jutaan hektar hutan tropis Indonesia hilang dalam kurun waktu dua dasawarsa terakhir.

Selain deforestasi, pada wilayah pesisir, laut dan pulau kecil, keanekaragaman hayati Indonesia juga kian terancam, secara perlahan hutan mangrove dan terumbu terancam dan terus mengalami penyusutan.

Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab di balik ancaman kepunahan tumbuhan dan satwa di Indonesia seperti alih fungsi lahan sebagai pemenuhan keperluan perkebunan, pertanian, perumahan dan pembangunan infrastruktur, industri ekstraktif, kemudian overfishing and destructive fishing yang telah terjadi di berbagai daerah di seluruh tanah air dalam kurun waktu yang lama.

Olehnya itu, Jaring Nusa bersama Perkumpulan Pakativa kali ini melaksanakan Webinar Hybrid sebagai bagian untuk mengajak publik mendukung upaya perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Dengan kegiatan seperti ini, hasil yang diharapkan adanya pemahaman yang komprehensif oleh CSO maupun publik mengenai keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya di wilayah kepulauan.

Reporter : Yunita Kaunar
Redaktur : Yunita Kaunar