Membaca Realitas

Kenali Penyakit Bisul dan Cara Mengatasinya

TERNATE (Kalesang) – Semua orang pasti pernah mengalami bisul, baik yang berukuran kecil hingga besar, mulai dari yang tidak berbahaya hingga yang bisa saja mengancam jiwa.

Bisul adalah penyakit, kondisi dimana terdapat benjolan berwarna merah, berisi nanah, dan terasa nyeri pada kulit akibat peradangan. Peradangan pada bisul disebabkan oleh infeksi bakteri pada folikel rambut (tempat tumbuhnya rambut).

Penyebab bisul adalah infeksi bakteri S. aureus pada folikel rambut. Jenis bakteri ini sering ditemukan pada kulit dan lapisan dalam hidung, namun tidak menimbulkan gangguan apapun. Bakteri ini akan menginfeksi jika terdapat luka gores atau gigitan serangga pada kulit.

Bisul dapat timbul di bagian tubuh mana saja, namun paling umum terjadi pada kaki, tangan, leher, ketiak, dan terkadang muncul di area kemaluan seperti disadur dari Siloam Hospital.

Mulanya, infeksi menimbulkan benjolan dan kemerahan pada kulit. Setelah 4-7 hari, benjolan tersebut akan terisi oleh nanah dan terasa nyeri.

Bisul umumnya terjadi pada area kulit yang ditumbuhi rambut, sering bergesekan, dan berkeringat, jenis penyakit kulit ini dapat menyerang semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Akan tetapi, seseorang yang memiliki daya tahan tubuh lemah, seperti penderita diabetes atau gagal ginjal, lebih rentan mengalami bisul.

Beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang terkena bisul adalah sebagai berikut:

  • Terpapar senyawa kimia beracun yang berpotensi mengiritasi kulit.
  • Kebutuhan nutrisi tubuh tidak terpenuhi.
  • Obesitas
  • Kurang menjaga kebersihan, baik pada diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya.
  • Memiliki daya tahan tubuh lemah atau menderita penyakit autoimun atau menjalani kemoterapi
  • Kontak langsung dengan penderita bisul
  • Mengalami masalah kulit, seperti eksim atau scabies
  • Memiliki infeksi luka
  • Sering menggunakan pakaian ketat

Ada pula yang menyebutkan bahwa mengonsumsi telur berlebihan dapat menjadi penyebab bisul. Hal ini dikarenakan adanya kandungan progesteron di dalam kuning telur. Hormon progesteron yang tinggi dapat menjadi salah satu faktor pemicu terbentuknya bisul. Namun, hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Gejala awal bisul adalah munculnya ruam pada kulit yang terasa nyeri ketika disentuh. Ruam tersebut akan membentuk benjolan kecil yang keras dan berisi nanah. Benjolan ini mulanya berukuran kecil, namun bisa membesar hingga 5 cm. Rasa nyeri yang ditimbulkan pun akan bertambah seiring membesarnya ukuran bisul.

Apabila pemeriksaan lanjutan dibutuhkan, dokter akan mengambil sampel bisul dan darah untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini dilakukan apabila pasien mengalami gejala seperti:

  • Bisul tak kunjung membaik atau kambuh kembali meskipun telah dilakukan penanganan sebelumnya.
  • Penderita memiliki sistem imun lemah atau menderita kondisi tertentu, seperti diabetes
  • Timbul dalam jumlah banyak dan mengumpul (karbunkel).

Dokter juga akan melakukan tes kultur bakteri untuk mengetahui jenis antibiotik yang sesuai dengan kondisi pasien untuk mengobati bisulan. Tes ini dibutuhkan karena beberapa bakteri penyebab bisul resisten terhadap antibiotik tertentu.

Pengobatan bisul dapat dilakukan secara mandiri di rumah atau melalui perawatan medis khusus, tergantung dari tingkat keparahannya. Apabila bisul berukuran kecil, maka Anda cukup melakukan perawatan di rumah.

Perawatan mandiri:

  • Mengompres bisul menggunakan kain bersih rendaman air hangat selama 10 menit. Upaya ini dapat mengurangi rasa nyeri sekaligus membantu keluarnya nanah dari bisul.
  • Mengurangi aktivitas fisik yang menyebabkan keringat hingga infeksi sembuh sepenuhnya.
  • Rutin mengompres bisul dengan kain bersih yang direndam air hangat.
  • Hindari memencet benjolan bisul karena dapat menyebarkan infeksi ke area sekitarnya.

Sementara itu, bisul yang berukuran besar biasanya membutuhkan perawatan khusus untuk mengeluarkan nanahnya, yakni melalui proses aspirasi. Dokter juga akan memberikan resep obat-obatan, seperti benzocaine, mupirocin, dan gentamicin. Jenis obat-obatan ini tersedia dalam bentuk salep dan penggunaannya harus sesuai dengan anjuran dokter. (*)