Membaca Realitas

Sepotong Nyanyian Alysa dan Tanah

Perempuan itu sering aku temuinya bernyanyi. Sehari sebelum merayakan pulang kepada kemerdekaan negeri ini, di rahim belantara Halmahera ia menanam pedih saat bumi terdengar gemuruh langit, awan mendung memenuhi angkasa, kicau burung bidadari hilang entah kemana?

“Ini tanah kita, dari leluhur ke zaman,” perempuan itu berbisik kepada angin dan pepohonan sembari menuruni tangga sekolah anak-anak Suku Tobelo Dalam.

“Ah tanah,” naluriku sebagai seorang laki-laki seketika terbangun, seakan-akan sebait kalimat itu menyala sempurna, membara di telingaku.

“Jangan sejari pun tanah ini tergadai sebab tanah adalah kehidupan, tempat hidup dan pulang”.

Tiba-tiba lagu yang dikarangnya sebagai penantian hujan redah, membawaku pada sepatah kata bahasa orang-orang Yunani, mereka mengartikan tanah itu pedon. Aku juga jadi teringat sebelum pulang ke kampung halaman beberapa hari lalu, sempat mendengar seorang kawan membahas tentang tanah. Dalam ingatanku ia menjelaskan tanah dengan bahasa latin solum.

Aku lalu menafisrkan nyanyian perempuan itu mengandung makna tanah merupakan warisan penting. Bahkan, manusia pertama diciptakan dari tanah. Dahsyatnya, semua akan kembali ke tanah. Tanah menjadi penting karena tanah adalah bagian penting dari ekosistem yang mempunyai beragam fungsi sebagai penyangga secara fisik, penyedia udara, penyedia air, pengatur suhu, pengendali bahan beracun, dan penyedia hara bumi yang perlu dihargai, dilindungi, dan dikelola, adanya tanah, ada rumah, ada sawah. Bahkan bahan mentah industri juga ada yang menggunakan tanah. Tanah bisa menjadi sumber energi bagi kehidupan.

Rinai-rinai masih mengetuk atap gubuk sekolah anak-anak Tobelo Dalam, ia masih saja terus bernyanyi menghapus dinginnya di tubuh.

“Jagalah tanah, sekuat tenaga. Pelihara tanah dari ketercemaran benda asing dan orang asing. Jangan sampai tanah kita mengalirkan air mata”.

Dari mata lagunya yang mengiringi rintik, aku mencoba membacanya tentang semua orang yang ingin menjadi tuan tanah tapi hanya segelintir orang yang bisa meraihnya dengan muda. Sebagian lagi, jangankan jadi tuan tanah, menegakkan rumah pun tak bisa karena tak punya tanah. Itu ada di negeriku.

“Ah” Diam-diam menghayatinya bernyanyi, mengajak bersyukur kita masih punya tanah. Tak merempat sana-sini. Di tanah ini, kita masih bisa bernaung dan mencari nafkah. Tidak sedikit orang memperoleh hak tanah dengan merampas atau merampok. Berapa banyak tanah orang kita dirampok oleh tuan tanah dan perusahan-perusahaan yang datang. Ia tertawa lebar ketika aku jujur, nyanyiannya telah membawaku pada ingatan sesosok Abah.

Abah? Sepanggalan nama yang telah mengingatkanku tentang tanah, tanah beragam katanya, bahkan dalam kitab suci Al-qur’an tanah disebut sebagai mustaqar, tempat hunian di mana manusia menetap selama hidupnya di dunia. Tidak sekadar itu, tanah adalah tempat manusia berasal, tempat manusia berpijak, dan tempat manusia kembali dalam kematiannya.

Dari tanah pula tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, dan sejumlah hewan hidup yang berkembang biak. Dengan demikian, tanah sangat penting bagi kehidupan manusia, tidak saja karena sebagian makanan berasal, tetapi juga tanah bisa digunakan sebagai alat bersuci untuk kepentingan ibadah dan sumber air keluar.

“Tanah tidak hanya tentang hidup, tanah juga tempat kita pulang”.

Perempuan itu masih saja bernyanyi, memamerkan suara khasnya pada bumi tempat dahulu aku dengan teman-teman mencari sarang, berperang, menggunakan parang mainanan. Masih banyak lagi. Tapi ini bukan soal masa kecil. Ketika Ia meningatku di satu sisi tanah adalah sumber kehidupan. Di sisi lain, tanah juga merupakan tempat di mana manusia dikuburkan setelah meninggal. Tanah menjadi penanda terakhir bagi kehidupan seseorang di dunia ini.

“Tanah air?……..”

Perlahan-lahan terpotong suara perempuan yang mengenakan kemeja coklat dan jins biru tampak seakan-akan lebih kesal dari derasnya hujan. Ia seakan membawaku lagi kepada bayangan pada sosok guru bahasa Indonesia di sekolah menengah awal pernah menjelaskan tentang tanah air yang menjadi sebuah kekuatan lain.

Makna melahirkan jati diri sebuah bangsa. Di sini nasionalis dan pengkhianat bisa lahir. Jika nasionalis lahir dari tanah air, maka ia rela bertumpah darah satu, tanah air Indonesia seperti dalam Sumpah Pemuda. Jika pengkhianat lahir dari tanah air, maka akan melahirkan tanah air mata seperti makna sebuah karya dalam puisi presiden penyair Indonesia,

Sutardji Calzoum Bachri:
Tanah airmata tanah tumpah darahku
mata air air mata kami
air mata tanah air kami
di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase gedung-gedungmu.

kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa kami
kami coba kuburkan dukalara
tapi perih tak dapat sembunyi
Ia merebak ke mana-mana.

Aku lalu mengingat-ingat dengan tafsiran orang-orang. Puisi Tanah Air Mata berisi kritikan pedas terhadap penyelenggara negara, baik unsur legislatif, eksekutif, maupun yudikatif, yang dengan sengaja telah mengusur rakyat jelata.

Ada beberapa yang berpandangan di kelas diskusi sastra bahwa diksi air mata sengaja digunakan berulang kali sebagai wujud keprihatinan sebuah kesuburan dan etalase gedung mewah tak sanggup menahan air mata, perih, derita, nestapa, atau dukalara. Namun, air mata bisa membangkitkan kekuatan. Derita dan dukalara itulah akan menjadi kekuatan sesungguhnya untuk meruntuhkan keangkuhan dan keserakahan kalian sudah terkepung.

Walau ada banyak kajian dan literatur menyangkut soal penguasaan tanah di masa Orba, baik dari sudut pandang apapun. Nyanyian perempuan itu yang tak pernah mampir bersama hujan, membawaku pada idola berat milik Abah, Wiji Thukul sosok penyair yang menulis puisi protes tentang tanah dan kekuasaan.

tanah mestinya dibagi-bagi
jika cuma segelintir orang yang menguasai bagaimana hari esok kaum tani
tanah mesti ditanami
sebab hidup tidak hanya hari ini
jika sawah diratakan
rimbun semak pohon dirubuhkan
apa yang kita harap
dari cerobong asap besi

Sederhananya puisi ini menggambarkan bahwa tanah telah ditanami oleh cerobong asap besi. Rakyat seperti para petani tak lagi punya tanah yang layak untuk ditanami, satu dua kali menjelaskan tentang derita rakyat yang tak bertanah di negeri sendiri. Tanah hanya dikuasai para tuan tanah.

”Tanah mesti kita jaga apalagi tanah air. Sejauh mana pun kita merantau”, perempuan itu belum saja berhenti bernyanyi seakan-akan semuanya dilampiaskan kepada hujan yang tak henti, syairnya tak berhenti membuatku melamun pada ingatan-ingatan, sempat singgah pada beberapa hari lalu awal Agustus bulan itu sempat membaca puisi Fakhrunnas MA Jabbar dalam puisinya bertajuk Tanah Airku Melayu.

di sini
kuberdiri
di tanah airku
di ranah melayuku
sejauh-jauh mata memandang
di ranah melayu ditukikkan
sejauh-jauh kaki melangkah
di ranah riau dihentakkan
sejauh-jauh hati kan terbang
di ranah melayu dihinggapkan

Di mana pun, tanah menjadi tumpuan. Tanah adalah tapak untuk tegak. Tak heran jika tanah jadi sumber sengketa, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun negara. Demi tanah dan tanah air kita rela bertumpah darah. Kita mati-matian melawan perampasan tanah, termasuk tanah ulayat.

Sebagai orang yang menyukai karya-karya sastra, lebih senang memakan buku-buku sastra, aku banyak mengumpul buku antalogi puisi, bahkan punya beberapa kumpulan cerpen, dua di antaranya adalah Cerpen Bukan Kabut karya M. Badri dan cerpen Sengketa Tanah Ulayat karya Sy Bahri Judin.

Yang aku tau dalam jurnal penelitian sastra Metasastra. Dua karya yang disimpulkan oleh Marlina kedua cerpen itu menggambarkan secara nyata kondisi hutan dan kondisi masyarakat. Masyarakat harus kehilangan hutan dan tanah ulayat. Seakan-akan membawah kita pada sebuah kritikam terhadap pemerintah dan perusahaan yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kebakaran hutan atau perampasan tanah.

”Ingat sumpah kalian! Jangan makan sumpah. Bertumpah darah satu, tanah air jangan jadi tuan tanah, rakus kepada tanah air.!” Sebelum hujan redah perempuan itu memilih diam. Perempuan itu Alsya namanya mahasiswi berparas khas Ambon yang aku kenal beberapa bulan lalu dalam malam keakraban yang dikirimkan Universitas Cenderawasih Papua menjadi peneliti burung bidadari di hutan tempat tanah-tanah ku dilirik.

”Ah sialan! Kenapa waktu tak selalu ramah dengan tanah orang-orang di pendalaman ini”, makiku bersembunyi ke dalam hati, sembari menyadarkan tubuh memandang ke langit berharap, bidadari Halmahera memberikan payung kepada tanah-tanah ini yang dipaksa selalu pergi menjadi emas.

 

Ternate, 15 Juli 2023