Membaca Realitas

Pentingnya Kesadaran Sejarah dan Budaya oleh Generasi Milenial

Transformasi teknologi informasi dan teknologi (TIK) pada abad XXI sesungguhnya mendorong lahirnya Revolusi 3.0. Revolusi ini pada initinya adalah terciptanya sistem pertukaran informasi yang andal sebagai upaya mengarahkan proses mesin secara independen dari interaksi manusia secara terus-menerus (Wahab, 2017). Dampak daripada Revolusi 3.0 telah melahirkan berbagai tantangan perubahan yang semakin kompleks sehingga era ini juga disebut dengan era disrupsi. Untuk mengatasi era disruspi itu, maka dikembangkanlah sebuah sistem baru yang lebih dikenal dengan Revolusi 4.0.

Revolusi 4.0 adalah sebuah konsep atau sistem yang pada awalnya digunakan oleh dunia industri untuk mengembangkan properti manufaktur melalui layanan berbasis daring (online). Dengan layanan online tersebut, diharapkan gangguan-gangguan (disrupsi) iklim usaha yang dikembangkan melalui proses mesin dapat dikembangkan dan diinovasi melalui layanan yang baru (daring) yang lebih cepat dan terkoneksi secara tepat. Saat ini, Revolusi 4.0 juga telah dikembangkan bukan hanya berorientasi untuk kepentingan manufaktur, tetapi lebih luas lagi digunakan untuk kepentingan layanaan pada semua sektor kehidupan manusia.

Transformasi teknologi informasi dari Revolusi 3.0 ke Revolusi 4.0, sesungguhnya telah melahirkan revolusi kebudayaan global merembet menembus batas wilayah. Sebuah peluang dan tantangan anak zaman yang hadir di tengah-tengah masyarakat yang plural telah menimbulkan pergeseran nilai di sampaing perubahan yang positif. Salah satu wujud dari revolusi kebudayaan global adalah terciptanya generasi milenial pada abad XXI ini. Generasi milenial merupakan transformasi kelompok demografi dari generasi X ke generasi Y. Istilah milenial berasal dari kata ‘millenials’ yang diperkenalkan Sejarawan William Straus dan Penulis Neil Howe dari Amerika. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada tahun 1980-an, 1990- an, dan di atas tahun 2000 (http://www.kominfo.go.id). Karakteristik dari generasi milenial berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Namun, generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital (http://id.m.wikipedia.org).

Generasi milineal sebagai sebagai bagain dari kompnen bangsa, hendaknya dapat menjaga dan mempertahankan kepribadian dan nilai-nilai peradaban bangsa Indonesia. Secara realitas, generasi milenial sekarang diperhadapkan dengan dilema antara mempertahankan kejayaan masa lalu dengan sebuah gelombang besar revolusi kebudayaan yang menghantam tegaknya tongkat kebudayaan bangsa. Dilema ini menjadi fenomena yang penting dan menarik untuk disimak, karena berhubungan dengan nasib sejuta generasi yang secara sosiologis, dampak dan revolusi kebudayaan itu dialamatkan kepada mereka. Kondisi ini harus menjadi ikhtiar dalam menghadapi tantangan perubahan pada era Society 5.0. Era ini merupakan konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (teknology based) yang dikembangkan oleh Jepang. Konsep Society 5.0 diluncurkan oleh Pemerintah Jepang pada 21 Januari 2019 sebagai pengembangan dari Revolusi 4.0 yang dinilai mendegradasi peran manusia. Konsep Society 5.0 ini diyakini akan membantu manusia untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan memberikan kearifan baru.

Oleh karena itu, generasi milineal sebagai bagian dari stakeholder pembangunan bangsa, hendaknya mampu memainkan peran-perannya yang nyata dengan bersandar pada nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia. Dalam konteks inilah, sejarah dan kebudayaan menjadi penting sebagai pendekatan nilai-nilai kepribadian bangsa kita. Sejarah dan kebudayaan harus dipandangg secara konstruktif sehingga dapat membimbing tarikan globalisasi yang cenderung menghabiskan energy publik yang tidak strategis dan mubazir yang bermuara pada kerawanan publik yang kemelut, ketimbang kewarasan publik dalam menafsirkan makna sebuah perubahan. Hal ini bukanlah sesuatu tanpa sadar, karena kegemilangan masa lalu generasi muda sesungguhnya juga dapat meletakkan perangkat peradaban bangsa dalam konteks sosial-kultural masyarakat Indonesia.

Pentingnya Memahami Sejarah dan Budaya

Sejarah dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena satu sama lain saling beriringan, keduanya muncul bersamaan seiring dengan keberlangsungan kehidupan. Sejarah merupakan pemandu bagi kita untuk melangkah ke masa depan, karena sejarah memberikan pengalaman dan mengajarkan kearifan serta kebijaksanaan. Sejarah adalah bentuk eksistensi keberadaan sebuah kebudayaan, suatu bangsa, dan negara.

Selain itu, sejarah juga diyakini memiliki nilai yang sangat penting, karena sejarah merupakan saksi sekaligus bukti yang tidak saja menggambarkan realitas, tetapi juga menyuguhkan kearifan dan kebenaran yang bisa dijadikan keberlangsungan hidup bangsa ini. Oleh karena itu kesadaran sejarah bagi generasi milineal Indonesia harus dibangun dalam upaya memperkuat jati diri bangsa.

Sebagai penghubung masa lalu, sejarah memperlihatkan sebuah represenatsi peradaban yang hadir dalam perkembangan masyarakat masa kini. Perkembangan masyarakat itu mencerminkan sejarah sebagai suatu dimensi nilai dalam kehidupan manusia. Dimensi nilai yang dimaksud ialah perubahan, perkembangan dan kesinambungan (kontinuitas). Dalam konteks ini Roeslan Abdulgani memandang sejarah ibarat penglihatan tiga dimensi, yaitu : Pertama, penglihatan ke masa lampa (the past), kedua, ke masa sekarang (the present) dan ketiga, kemasa depan (the future) (Tamburaka, 1999). Artinya masa depan harus ditentukan saat ini, dan sejarah adalah sebuah daya yang strategis dalam upaya merancang bangun masa depan. Setidaknya sebagai sebuah pengalaman. Masa lalu merupakan sebuah pengalaman, masa sekarang adalah perjuangan dan masa depan adalah cita-cita yang hendak dicapai.

Fakta menunjukkan bahwa perjalanan waktu yang panjang dari kehidupan manusia saat ini, cenderung secara alamiah maupun tindakan ketidaksadaran manusia melunturkan fakta-fakta sejarah. Oleh karena itu, kesadaran untuk menguak kembali fakta-fakta historis sebagai landasan berpijak ke depan yang lebih baik, adalah tindakan yang sangat bijaksana. Tindakan ini merupakan salah satu makna belajar sejarah, yakni menjadi manusia yang bijaksana dalam berpikir dan bertindak (Burdhan, 2002: 2).

Dengan mengacu pada pandangan bahwa manusia adalah makhluk sejarah, maka manusia adalah salah motor penggerak sejarah (Rochmat : 2009: 126). Sebagai motor penggerak sejarah, maka sejarah dibuat oleh manusia, dapat juga diubah oleh manusia.

Pada umumnya orang mengartikan “sejarah” sebagai perubahan, tetapi bukan sekedar perubahan dalam pengertian “change”, namun yang dimaksud sesungguhnya adalah ‘development’. Antara change dan development terdapat perbedaan yang besar. Sejarah sebagai “change” saja bisa bersifat siklis, seperti umumnya terdapat dalam masyarakat tradisional. Dalam masyarakat tradisonal, sejarah diartikan sebagai berulang-ulangnya struktur sosial-budaya tradisonal dari saat ke saat, sehingga nampak seolah-olah masyarakat yang bersangkutan tidak mengenal perubahan baru. Dalam masyarakat modern pun kini muncul dengan subur wawasan sejarah yang siklis itu karena orang merasa khawatir dengan perubahan-perubahan yang sangat cepat di masa kini sehingga seolah-olah masyarakat kehilangan pegangan. Masa lampau dalam hal terakhir itu, lalu dijadikan model untuk masa kini, atau dengan kata lain, keinginan untuk mewujudkan masa lampau di masa kini. (Rasyid Asba, 2009: 1).

“Change” dalam pengertian “development” adalah unsur budaya modern. Masyarakat modern mengalami perubahan yang terus-menerus tidak lagi mengarahkan pandangan ke masa lampau tetapi ke masa depan dan meninggalkan wawasan secara siklis. Perubahan-perubahan itu diakibatkan oleh munculnya kapitalisme, industrialisasi dan negara-bangsa, menyebabkan orang menjadi sangat sadar bahwa perubahan adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari dan masa depan tidak bisa lagi merupakan sekedar pengulangan dari masa lalu. (Rasyid Asba, 2009: 2).

Akan tetapi dalam pengertian sejarah tidak saja diartikan sebagai “development”, tetapi diyakini pula bahwa perubahan itu disebabkan oleh manusia, atau manusialah yang membuat sejarahnya sendiri. (Rasyid Asba, 2009: 2). Menurut Louis Gottschalk (1969:22) setiap manusia memilki sejarahnya sendiri (everymen his one hstorian).

Bagaimana Peran Generasi Milineal?

Mengandalkan sebuah desain peradaban dengan mengandalkan pemahaman yang baik dan benar terhadap sejarah dan budaya, bukan saja sebuah ikhtiar penegasan jati diri sebagai bagian dari generasi milineal, tetapi juga sebagai sebuah daya yang strtegis di dalam menempatkan posisi diri “generasi milineal” di tengah- tengah persainagn antar berbagai kekuatan.

Dalam menjadikan sejarah dan budaya sebagai sprit membangun peradaban di masa kini, maka diperlukan beberapa pendekatan:

1. Wawasan Strukturis

Dari segi metodologi sejarah, dikenal tiga wawasan, yaitu wawasan peristiwa, wawasan, strukrural, dan wawasan strukturis. Wawasan peristiwa dalam penelitian dan penulisan sejarah, lebih menekankan pada waktu dan pelaku, akhirnya hasilnya adalah subjektif. Dalam wawasan struktural, studi dan analisis problem sejarah lebih menekankan anlisis berbagai struktur (fisik, sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama) sehingga hasilnya merupakan sejarah objektif yang ilmiah. Akan tetapi dari kedua wawasan ini masih terdapat kesenjangan dalam studi sejarah, yaitu peran jiwa manusia dari waktu ke waktu dalam struktur yang ada untuk melakukan perubahan. Kesenjangan ini diatasi dengan pengembangan wawasan studi sejarah yang ketiga, yaitu ‘wawasan strukturis’ yang lebih menekankan pada unsur kejiwaan manusia sesuai perkembangan zaman, dalam berpikir dan bertindak (Christopher Lloyd dalam Burdhan, 2002: 11).

2. Kesadaran Kompetatif dan Humanistik

Kesadaran kompetatif hendaknya dapat mendorong generasi milineal menjadi lebih baik ketimbang masa lalu, sedangkan kesadaran humanistik sangat memungkinkan untuk diisi dengan kearifan tardisional generasi milenial tanpa harus terjebak pada romantisme masa lalu yang justru menghambat akselerasi peradaban ((Alkatuk, 2002: 8).

3. Pendekatan Elektis

Pendekatan elektis adalah apa yang diambil dari stok kekayaan sejarah dan budaya adalah semata-mata yang terbaik yang patut diambil (Alkatuk, 2002: 8). Dengan pendekatan elektis, generasi milineal dapat memanfaatkan kemampuan untuk memberikan makna terhadap stok kekayaan sejarah dan budaya dengan bentuk kreasi yang inovatif dan bertanggung jawab.

Penutup

Kenyataan sosial dari proses menyejarah dari kehidupan masyarakat di bangsa ini adalah fakta sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kekinian dan yang akan datang. Kontinuitas makna historis kolektivitas kehidupan masyarakat itu tersus diwariskan turun-temurun dalam pandangan dan jiwa para pewaris sejarah dan budaya yang di dalamnya termasuk generasi milenial.