Membaca Realitas

Lantunan Sholawat

 

Azam adalah lelaki yang berusia 21 tahun, saat ini ia telah menikah dengan kekasihnya bernama Asrianti. Umur mereka tidak berbeda jauh, hanya berjarak satu tahun.

Mereka telah dikaruniai seorang anak. Sayangnya, Azam tidak berada di samping. Sebab lelaki itu harus menyelesaikan studinya di salah satu kota yang jauh dari tempat mereka tinggal.

Tiga tahun lamanya mereka telah terpisah. Tentu, rasa rindu itu terus membara di setiap nafas berhembus. Kadang melalui telepon mereka sering bertatapan manja. Rasanya ingin memeluk.

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba, Azam memutuskan untuk pulang menjenguk istri dan anak tercinta. Kesempatan itu digunakan sebaik mungkin karena bertepatan dengan libur panjang.

Jarak tempuh yang dilalui untuk sampai ke kampung sangat memakan waktu, apalagi transportasi yang digunakan hanya menggunakan kapal laut. Kurang lebih tiga hari dua malam baru bisa sampai.

Kapal yang Azam tumpangi itu adalah pilihan satu-satunya. Meski sedikit agak lambat, tetapi tidak menguras kantong. Padahal banyak kapal yang lebih cepat, tetapi dikondisikan dengan biaya.

Ia begitu gembira, penantian panjang akhirnya terkabulkan. Hari mulai malam, dengan menggunakan hamok, Azam mulai menaiki dek empat, dan mengambil tempat bagian kiri kapal.

Hamok berwarna hitam itu mulai dikaitkan pada sebuah besi di samping kapal. Dengan memakai kaos putih dan celana levis panjang, Azam perlahan membaringkan tubuhnya.

Di luar kapal, suara ombak terdengar begitu kencang. Tetapi kapal itu terus melaju membelah lautan. Malam semakin larut, tubuh Azam terasa menggigil dihantam angin. Ia mulai kembali ke ranjang tidur.

Tepat pukul 19:00 WIT, kapal telah tiba di pelabuhan pertama. Persinggahan itu tak berlangsung lama. Sebab, rutenya masih begitu panjang, sehingga dilanjutkan ke pelabuhan berikutnya.

Perjalanan terus berlanjut, memakan waktu hampir sehari. Kapal mulai tiba di pelabuhan kedua. Kali ini pihak kapal memberikan waktu kepada para penumpang agar membeli makanan siap saji selama 35 menit.

Azam mulai turun dan hendak membeli ketupat serta ikan bakar untuk disantap bersama sepupu perempuannya. Tak lupa juga mengisi air minum dengan tumbler yang dibawanya di suatu rumah.

Kapal mulai membunyikan ship whistle (stom), pertanda sebentar lagi bakal melakukan perjalanan ke rute selanjutnya. Terlihat crew kapal mulai sibuk mempersiapkan keberangkatan.

Tepatnya pukul 16:00 WIT, kapal mulai singgah di pelabuhan ketiga. Sore itu, senja cukup indah. Suasana laut begitu tenang. Azam kembali teringat istri dan anaknya. Dalam lamunan itu, ia seakan tak sabar bertemu.

Malam mulai tiba. Di anjungan kapal, Azam duduk dan menatap lautan. Kapal kembali berlayar menuju kota di mana menjadi tanah kelahirannya. Hati tak bisa menahan, berharap agar cepat sampai.

Usai makan malam, Azam sejenak menikmati sebatang rokok di luar kapal. Keadaan laut kali ini sedikit berbeda dengan malam pertama. Kapal yang dinaiki itu terombang-ambing dihantam arus laut.

Ombak begitu tinggi, membuat orang-orang menjadi tersungkur dari tempat duduk mereka sendiri. Kepanikan mulai mengahantui, diikuti dengan suara penumpang yang kian mengudara.

Tangisan terdengar di mana-mana. Anak-anak berteriak kepanikan. Ucapan sholawat dan minta tolong pada sang kuasa dilantunkan penuh harap. Orang-orang seketika mengingat Tuhan.

Tak lama kemudian, terdengar suara dari sound kapal, “disampaikan kepada seluruh penumpang bahwa kapal akan berlayar kembali ke pelabuhan karena cuaca begitu buruk sesuai informasi BMKG”.

Mendengar itu, hati Azam menjadi gunda gulana, sebab pertemuan bakal tertunda. Padahal, sebentar lagi enam mata akan bertatap penuh cinta. Rasanya ia ingin sekali memarahi cuaca buruk itu.

Seakan tak percaya, Azam kembali bertanya-tanya pada orang di sekitarnya, apakah betul informasi yang disampaikan oleh pihak kapal tadi. Sebab, ia telah dikuasi dengan rasa rindu.

Ternyata benar, kapal akhirnya kembali dan berlabuh di dekat pelabuhan. Hal itu demi menyelamatkan ratusan nyawa yang ada. Rupanya, niat baik nahkoda itu tidak diindahkan oleh sebagian para penumpang.

Sebab, mereka dinilai penakut, tidak berani melanjutkan pelayaran. Keluhan itu disampaikan lantaran sebagaian isi dompet penumpang sudah mulai kosong, termasuk Azam, sehingga harus menahan lapar nantinya.

Suasana di dalam kapal semakin panik. Orang-orang mulai sibuk menelepon sanak sudara agar mengirim uang untuk membeli tambahan stok makanan, karena kapal akan berlabuh selama tiga hari.

Azam harus terpaksa kembali menahan rindu. Belum lagi perut mulai keroncong. Tenggorokan semakin kering. Sementara isi dompet sudah kosong. Di sudut kapal, Azam terlihat lesu disiksa oleh rindu.***