Membaca Realitas

Tiongkok Kuasai Impor Maluku Utara, Nilainya Capai Rp73 Triliun

Ternate,Kalesang – Aktivitas impor di Provinsi Maluku Utara melonjak signifikan sepanjang Januari hingga September 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara mencatat total nilai impor mencapai US$4.384,97 juta atau setara Rp73,36 triliun, meningkat 46,40 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BPS Maluku Utara, Simon Sapary, menjelaskan kenaikan ini terutama dipicu oleh meningkatnya kebutuhan barang modal untuk industri pengolahan, seiring ekspansi sektor pertambangan dan smelter di wilayah tersebut.

“Total nilai impor sepanjang Januari–September 2025 naik sebesar 46,40 persen dibanding tahun lalu. Kontributor utama berasal dari impor Mesin-mesin/Pesawat Mekanik (HS 84) yang mencapai 37,36 persen dari total impor,” ungkap Simon dalam rilis resminya Rabu (5/11/2025).

Berdasarkan data BPS, impor golongan Mesin-mesin/Pesawat Mekanik (HS 84) mengalami peningkatan nilai tertinggi, yakni mencapai US$767,10 juta. Sementara itu, golongan Garam, Belerang, dan Kapur (HS 25) mencatat lonjakan persentase terbesar hingga 157,13 persen.

Secara bulanan, nilai impor pada September 2025 saja tercatat US$531,24 juta, naik 30,52 persen dibanding September 2024.

Dari sisi negara asal, Tiongkok masih menjadi pemasok utama barang impor Maluku Utara dengan nilai US$3.221,15 juta atau sekitar 73,46 persen dari total impor. Disusul Filipina senilai US$357,29 juta, dan Arab Saudi sebesar US$173,93 juta.

Menariknya, meski impor meningkat tajam, neraca perdagangan Maluku Utara tetap surplus. Sepanjang Januari hingga September 2025, provinsi ini mencatat surplus perdagangan sebesar US$6.150,32 juta, naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu — menegaskan kuatnya kinerja ekspor sektor pertambangan dan industri pengolahan di wilayah tersebut.