Alarm Pangan: Produksi Padi Maluku Utara 2025 Merosot Tajam
Ternate,Kalesang – Produksi dan luas panen padi di Provinsi Maluku Utara sepanjang 2025 mengalami penurunan tajam. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), penurunan terjadi hampir sepertiga dibandingkan tahun sebelumnya, memicu kekhawatiran terhadap ketahanan pangan di wilayah tersebut.
Kepala BPS Provinsi Maluku Utara, Simon Sapary, Rabu (5/11/2025), menjelaskan bahwa realisasi panen padi dari Januari hingga September 2025 hanya mencapai 5.431 hektare, turun 35,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
“Secara total, luas panen padi sepanjang 2025 diperkirakan hanya mencapai 6.558 hektare, turun sekitar 29,99 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.
Penurunan luas panen tersebut berdampak langsung pada jumlah produksi. Total produksi padi (dalam bentuk Gabah Kering Giling/GKG) tahun 2025 diperkirakan hanya 21.866 ton, atau turun 9.367 ton (29,99 persen) dibandingkan produksi tahun 2024 yang mencapai 31.233 ton GKG.
Meski begitu, BPS mencatat masih ada potensi tambahan panen pada triwulan IV (Oktober–Desember 2025) berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA), yakni sekitar 3.545 ton GKG.
Dari sisi wilayah, tiga kabupaten menjadi penyumbang produksi padi tertinggi di Maluku Utara tahun ini, yakni Kabupaten Halmahera Timur, Halmahera Utara, dan Pulau Morotai. Sebaliknya, Kota Tidore Kepulauan, Kepulauan Sula, dan Halmahera Barat mencatat produksi terendah. Bahkan, Kabupaten Pulau Taliabu dan Kota Ternate dilaporkan tidak memiliki produksi padi sama sekali.
BPS mencatat penurunan paling signifikan terjadi di Halmahera Timur, Halmahera Utara, dan Halmahera Barat. Namun, sejumlah daerah seperti Pulau Morotai, Halmahera Selatan, dan Kota Tidore Kepulauan justru menunjukkan tren peningkatan produksi.
Simon menegaskan pentingnya langkah cepat pemerintah daerah untuk mengidentifikasi penyebab utama penurunan signifikan tersebut, apakah karena cuaca ekstrem, serangan hama, atau alih fungsi lahan pertanian.
“Analisis mendalam perlu segera dilakukan agar langkah mitigasi dan dukungan bagi petani bisa diberikan tepat waktu,” tandasnya.
