Ternate,Kalesang — Di tengah meningkatnya angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, diskusi daring bertajuk Perempuan Bacarita digelar baru-baru ini, dengan tema “Ruang Aman Bagi Kaum Perempuan dalam Sistem Patriarki, Bagaimana Jalan Keluarnya?”.
Diskusi ini menyoroti akar persoalan kekerasan berbasis gender serta menawarkan sejumlah gagasan radikal untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan, khususnya di Maluku Utara.
Data Komnas Perempuan mencatat sebanyak 445.502 kasus kekerasan terhadap perempuan terjadi di Indonesia. Angka ini dinilai mencerminkan kuatnya sistem patriarki yang masih mencengkeram kehidupan sosial, termasuk di Maluku Utara yang juga dihadapkan pada tingginya kasus kekerasan terhadap anak.
Perwakilan Jujaru.Site Manda,menegaskan bahwa patriarki telah mengakar kuat dan tidak sekadar membatasi ruang gerak perempuan, tetapi telah menghilangkan rasa aman mereka.
“Patriarki bukan hanya mengganggu ruang aman, melainkan menghilangkan keamanan perempuan,” tegasnya.
Ia juga menyebut patriarki sebagai “kaki tangan” kerja-kerja kapitalisme yang mengontrol tubuh dan kehidupan perempuan, mulai dari cara berpakaian hingga cara berbicara. Kontrol tersebut kerap dibungkus dalam sikap seksis yang dinormalisasi melalui candaan.
Sementara Aktivis Perempuan Maluku Utara Hartini Muhammad, menawarkan jalan keluar yang disebutnya sebagai solusi revolusioner, yakni melalui penghancuran sistemik terhadap patriarki. Menurutnya, kapitalisme dan patriarki adalah dua entitas berbeda yang saling menopang satu sama lain.
“Jalan keluar sistem terbaik kita adalah penghancuran. Jika kita tidak menentang patriarki dalam diri kita semua, maka revolusi akan gagal,” ujar Hartini.
Hartini menekankan pentingnya peran komunitas perempuan, seperti Jujaruh, dalam membangun kesadaran kolektif. Ia juga mengingatkan bahwa gerakan feminisme harus berani melawan legalisme gender dan stigma patriarkal yang mengakar dalam sistem sosial.
Sementara itu, Aktivis Perempuan Sinjai-Sulsel Jenni Aprella Andaresta, menilai terdapat kemajuan posisi perempuan di era Generasi Z dan Alfa, namun tantangan sosial, politik, dan budaya masih sangat tinggi. Menurutnya, meskipun tidak ada jaminan ruang aman yang mutlak, perempuan harus berupaya menciptakan ruang berbagi informasi terkait kekerasan yang dialami.
Jenni juga memaparkan sejumlah jalan keluar yang ditawarkan, antara lain meningkatkan kesadaran kolektif, memperkuat organisasi perempuan dengan memanfaatkan teknologi, serta memperluas akses dan kualitas pendidikan.
“Solidaritas harus bersifat inklusif dan berasaskan keadilan, bukan memisah-misahkan kelas. Kekerasan bukan terlahir dari laki-laki dan perempuan, melainkan dari lingkungan itu sendiri,” tegas Jenni.
Menanggapi tantangan di lingkungan kampus, Jenni menilai penghapusan tradisi patriarki membutuhkan waktu panjang dan kerja bersama antara struktur dan individu. Upaya yang didorong antara lain melalui penyusunan kebijakan kampus yang tegas, pengawasan budaya kampus, serta peningkatan partisipasi perempuan dan kesadaran dosen terhadap kesetaraan gender.
Salah satu peserta diskusi juga mengingatkan pentingnya aksi nyata di luar ruang diskusi.
“Memerangi hal yang besar bukan hanya menye-menye di diskusi saja, melainkan gerakan yang dimulai dari diri sendiri,” ujarnya.
Reporeter : Niar Naraya
Redaktur : Caca
