AI Masuk Redaksi: Efisiensi Meningkat, Peran Jurnalis Tetap Tak Tergantikan
JAKARTA, Kalesang — Pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) di ruang redaksi kian meluas. Sejumlah media, termasuk di daerah, mulai mengintegrasikan teknologi ini dalam proses produksi konten, mulai dari penulisan hingga distribusi. Meski menawarkan efisiensi, pelaku industri menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran jurnalis.
General Manager Harapanrakyat.com, Subagja Humara, mengungkapkan bahwa redaksinya sempat bereksperimen dengan berbagai platform AI. Namun, hasilnya tidak selalu memuaskan, terutama dari sisi performa SEO hingga kualitas ilustrasi dan video yang dinilai belum ramah algoritma distribusi.
“Percuma cepat, tapi tidak ada distribusi,” ujarnya dalam kegiatan Showcasing Google AI Tools di Jakarta Selasa (31/3/2026).
Pengalaman tersebut sempat membuat timnya kembali ke metode manual. Namun, setelah mengikuti pelatihan AI dari Google, mereka menemukan pendekatan baru. AI kini dimanfaatkan tidak hanya di ruang redaksi, tetapi juga oleh wartawan di lapangan, dengan fokus pada penyesuaian konten terhadap algoritma platform seperti Google, TikTok, dan Instagram.
Pendekatan berbeda diterapkan Kalesang.id. Media ini awalnya menggunakan AI secara terbatas, hanya untuk verifikasi dan pengecekan kesalahan penulisan. Namun, menurut Media Director Wendi Wambes, pemanfaatan AI berkembang setelah mengenal berbagai alat seperti Google NotebookLM dan Google Pinpoint yang membantu pengolahan data untuk liputan mendalam.
Meski demikian, Wendi menegaskan batas yang tidak boleh dilanggar. “AI bukan pengganti jurnalis. Kerja lapangan tetap tidak tergantikan,” katanya.
Di Kalesang, AI diposisikan sebagai alat untuk mengurangi beban administratif, sehingga jurnalis dapat lebih fokus pada peliputan dan verifikasi fakta di lapangan.
Sementara itu, Langgam.id memanfaatkan AI untuk menjawab keterbatasan sumber daya manusia. Manager Mukhtar Syafi’i menjelaskan, sebelum menggunakan AI, proses produksi seperti transkrip, dubbing, hingga pembuatan skrip media sosial dilakukan secara manual dan memakan waktu.
Kini, berbagai alat berbasis AI membantu mempercepat alur kerja, termasuk dalam produksi podcast dan video. Meski demikian, setiap konten tetap melalui proses penyuntingan dan verifikasi oleh editor sebelum dipublikasikan.
“Dalam prosesnya tidak langsung diunggah. Tetap dengan proses jurnalisme,” ujar Mukhtar.
Langgam.id juga mulai menyusun standar operasional prosedur (SOP) penggunaan AI di redaksi, serta menggelar pelatihan internal untuk memastikan jurnalis memahami cara kerja dan batasan teknologi tersebut.
Kekhawatiran terkait potensi “halusinasi” AI pun diakui. Namun, penggunaan data berbasis hasil liputan lapangan dinilai mampu meminimalkan risiko kesalahan.
Di tengah tren adopsi teknologi ini, benang merah dari berbagai media tetap sama: AI dipandang sebagai asisten, bukan pengganti. Teknologi ini mempercepat kerja, merapikan proses, dan memperluas distribusi, namun akurasi, verifikasi, dan kerja lapangan tetap menjadi fondasi utama jurnalisme.
Wakil Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Pusat, Citra Dyah Prastuti, menegaskan bahwa AI seharusnya diperlakukan sebagai “asisten intern” di newsroom.
“Dalam pekerjaan newsroom, manusianya tetap harus terlibat,” ujarnya.
Ia menyebutkan, sebanyak 40 media telah mengikuti program fellowship sebagai bagian dari upaya transformasi industri agar tetap bertahan di tengah perubahan teknologi.
Dari sisi teknologi, Yos Kusuma menyampaikan komitmen Google dalam mendorong jurnalisme berkelanjutan di Indonesia melalui kolaborasi dengan Dewan Pers dan AMSI.
“Tujuan utama kami adalah membantu jurnalis dan profesional media,” katanya.
Sementara itu, Ketua Komisi Digital Dewan Pers, Dahlan Dahi, mengingatkan pentingnya menjaga esensi jurnalisme di tengah disrupsi teknologi.
“Tanpa pers, tidak ada kontrol sosial dan tidak ada mekanisme koreksi dalam masyarakat,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya adaptasi, AMSI telah menggelar pelatihan Google AI Tools bagi 40 media pada Oktober 2025, yang dilanjutkan dengan program fellowship pada November 2025 hingga Januari 2026.
