Membaca Realitas

Di Tengah Gempuran AI, Media Tegaskan Verifikasi Tak Bisa Digantikan

JAKARTA, Kalesang – Pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) di ruang redaksi terus berkembang, termasuk di Kompas.com dan IDN Times. Meski demikian, kedua media menegaskan bahwa AI hanya berfungsi sebagai alat bantu, bukan sumber utama dalam kerja jurnalistik.

Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin, menyebut tantangan terbesar media saat ini bukan lagi sesama perusahaan pers, melainkan “blank space”, yakni ruang digital yang memungkinkan audiens mencari dan mengolah informasi secara mandiri.

“Kompetitor paling mengerikan adalah blank space. Di sana orang bisa bertanya dan riset apa saja,” ujarnya dalam kegiatan Showcasing Google AI Tools di Jakarta.

Menurut Amir, ketergantungan media terhadap infrastruktur digital seperti Google juga menghadirkan dilema, terutama ketika algoritma dan lanskap digital terus berubah. Meski demikian, Kompas.com tetap mengembangkan berbagai produk berbasis AI, mulai dari morning brief hingga konten audio dan visual.

Ia menjelaskan, AI dimanfaatkan untuk membantu proses riset, termasuk memahami dokumen kompleks seperti perjanjian bilateral. Namun, ia menegaskan batas penting dalam penggunaannya.

“AI adalah alat bantu, bukan sumber berita. Jika dijadikan sumber, itu berisiko dan berbahaya,” tegasnya.

Amir juga menekankan prinsip human in the loop, yakni setiap hasil yang dihasilkan AI wajib melalui proses verifikasi oleh jurnalis. Tanpa tahapan ini, risiko kesalahan hingga penalti dari platform digital bisa terjadi.

Senada dengan itu, Wakil Pemimpin Redaksi IDN Times, Umi Kalsum, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengintegrasikan AI ke dalam sistem manajemen konten (CMS). Teknologi ini digunakan, antara lain, untuk menyederhanakan bahasa berita agar lebih mudah dipahami pembaca.

Namun, Umi mengingatkan bahwa penggunaan AI tetap memerlukan kehati-hatian. Ia mencontohkan adanya potensi kesalahan informasi yang dihasilkan AI terkait tokoh tertentu jika tidak diverifikasi.

“Editor wajib membaca. Kalau jurnalis tidak teliti, bisa menyesatkan,” ujarnya.

Selain penulisan, AI di IDN Times juga dimanfaatkan untuk merekomendasikan visual yang relevan serta menganalisis data guna meningkatkan keterlibatan audiens. Bahkan, pemanfaatan AI telah menjadi bagian dari target kerja redaksi.

Meski begitu, keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi tantangan dalam proses integrasi teknologi, terutama dalam pengembangan sistem internal.

Wakil Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Pusat, Citra Dyah Prastuti, menekankan bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai “asisten intern” di newsroom.

“Dalam pekerjaan newsroom, manusianya tetap harus terlibat,” ujarnya. Ia menyebutkan, sebanyak 40 media telah mengikuti program fellowship sebagai bagian dari upaya transformasi industri.

Dari sisi teknologi, perwakilan Google, Yos Kusuma, menyatakan komitmen perusahaan dalam mendukung jurnalisme berkelanjutan di Indonesia melalui kolaborasi dengan Dewan Pers dan AMSI.

“Tujuan utama kami adalah membantu jurnalis dan profesional media,” katanya. Ia menambahkan bahwa inovasi AI yang dikembangkan Google dirancang untuk mendukung ekosistem berita yang lebih adaptif dan inklusif.

Sementara itu, Ketua Komisi Digital Dewan Pers, Dahlan Dahi, mengingatkan pentingnya menjaga esensi jurnalisme di tengah disrupsi teknologi.

“Tanpa pers, tidak ada kontrol sosial dan tidak ada mekanisme koreksi dalam masyarakat,” ujarnya.

Pada Oktober 2025, AMSI menggelar pelatihan Google AI Tools bagi 40 media, yang dilanjutkan dengan program fellowship pada November 2025 hingga Januari 2026. Program ini ditutup dengan pemaparan hasil implementasi AI di ruang redaksi, termasuk manfaatnya dalam meningkatkan efisiensi kerja.

Di tengah percepatan adopsi teknologi, para pelaku industri media sepakat bahwa AI dapat meningkatkan produktivitas. Namun, akurasi dan kredibilitas tetap bergantung pada peran manusia sebagai penjaga utama kualitas jurnalistik.