Membaca Realitas

TNI Bubarkan Nobar “Pesta Babi” di Gedung UKM Unkhair, Mahasiswa Sebut Bentuk Intimidasi

Ternate, Kalesang – Ketua Umum KARFAPALA Unkhair, Asriati La Abu, menyampaikan kronologi pembubaran kegiatan nonton bareng (nobar) yang berlangsung di Gedung UKM Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Selasa (12/5/2026) malam.

Asriati menjelaskan, pembubaran terjadi saat kegiatan nobar masih berlangsung. Awalnya, pihak yang datang ke lokasi hanya petugas keamanan (security) kampus. Kedatangan security pada saat itu disebut hanya untuk mengambil dokumentasi kegiatan.

“Yang pertama kali datang hanya security dan mereka hanya mengambil dokumentasi,” ujar Asriati.

Namun, setelah kembali untuk kedua kalinya, security datang bersama seorang anggota TNI ke lokasi kegiatan. Kehadiran anggota TNI tersebut kemudian memicu perdebatan dengan peserta nobar.

Baca Juga: TNI Bubarkan Nobar Film Pesta Babi di Ternate, AJI Sebut Kebebasan Berekspresi Terancam

Menurut Asriati, perdebatan berlangsung cukup lama antara peserta kegiatan dengan pihak security kampus serta anggota TNI. Setelah perdebatan itu, kegiatan nobar akhirnya dihentikan pada pukul 22.56 WIT.

Meski demikian, Asriati menyebut tidak terjadi tindakan kekerasan dalam peristiwa tersebut. Ia mengatakan komunikasi dengan pihak security kampus masih berjalan baik, berbeda dengan komunikasi bersama anggota TNI yang disebut hanya diwarnai cekcok hingga yang bersangkutan meninggalkan lokasi.

“Kalau dengan security kami masih berkomunikasi dengan baik, tetapi dengan TNI hanya terjadi cekcok sampai dia pulang pun tidak ada komunikasi yang baik,” katanya.

Asriati menilai kehadiran anggota TNI dalam kegiatan di lingkungan kampus merupakan bentuk intimidasi terhadap kebebasan mahasiswa. Terlebih, kegiatan berlangsung di dalam area kampus dan di Gedung UKM Unkhair, bukan di luar lingkungan kampus.

Ia menegaskan kampus seharusnya menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan memperoleh ilmu pengetahuan tanpa adanya intimidasi dalam bentuk apa pun.

“Menurut saya, kampus seharusnya menjadi ruang yang aman untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan mendapatkan ilmu pengetahuan tanpa adanya intimidasi dari pihak TNI. Kehadiran TNI seperti semalam itu sudah termasuk intimidasi karena kampus adalah tempat bebas berekspresi,” ujarnya.

Sebagai Ketua Umum KAFRAPALA Unkhair, Asriati mengaku melihat kebebasan mahasiswa kini mulai dibatasi dengan adanya peristiwa tersebut.

“Saya melihat kebebasan itu sudah tidak ada lagi dengan hadirnya TNI seperti semalam,” pungkasnya.