Membaca Realitas

Miris, Dua Kus-Kus Mata Biru Ditemukan Tinggal Kulit dan Kepala di Ternate

TERNATE, Kalesang – Warga di Kelurahan Sasa, Kecamatan Ternate Selatan, dikejutkan dengan penemuan dua ekor kus-kus mata biru (Phalanger matabiru), satwa endemik Pulau Ternate yang dilindungi, dalam kondisi mengenaskan pada Rabu (8/7/2026).

Kedua satwa tersebut ditemukan tergantung di pohon ketapang yang berada di depan Sekretariat Independensia. Saat ditemukan, kondisi kus-kus sudah tidak utuh. Hanya bagian kulit dan kepala yang masih tersisa, sementara bagian tubuh lainnya diduga telah diambil.

Penghuni Sekretariat Independensia, Sofia Miranda, mengatakan keberadaan kus-kus itu pertama kali diketahui setelah mendapat informasi dari seorang rekannya. Setelah mendatangi lokasi, ia mendapati dua satwa endemik tersebut sudah dalam kondisi dikuliti.

“Saya mendapat telepon dari teman yang mengabarkan ada kus-kus di depan sekretariat. Setelah saya cek, ternyata benar. Yang tersisa hanya kulit dan kepalanya. Kemungkinan dagingnya sudah diambil,” ujar Sofia.

Ia mengaku tidak mengetahui siapa pelaku maupun alasan di balik dugaan perburuan terhadap satwa yang statusnya dilindungi tersebut.

Menanggapi temuan itu, Koordinator Perlindungan Tumbuhan dan Satwa Liar Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku Wilayah I Ternate, Yeni Purnamasari, mengatakan pihaknya baru menerima informasi mengenai kejadian tersebut setelah adanya konfirmasi dari sejumlah pihak.

Menurut Yeni, selama ini patroli serta kegiatan sosialisasi perlindungan kus-kus mata biru lebih banyak dilakukan di wilayah Ternate Barat, terutama di kawasan Kulaba dan Takome. Karena itu, dugaan aktivitas perburuan di wilayah lain belum terpantau.

“Informasi ini sebelumnya belum kami terima. Kami baru mengetahuinya setelah ada konfirmasi terkait kejadian tersebut,” katanya.

Sebagai tindak lanjut, BKSDA akan memperluas jangkauan patroli dan sosialisasi hingga ke wilayah Ternate Tengah dan Ternate Selatan untuk mencegah terulangnya kasus serupa.

“Kami akan memberikan perhatian lebih terhadap wilayah selatan dan tengah Pulau Ternate sebagai bagian dari upaya perlindungan satwa endemik ini,” ujarnya.

Sementara itu, dosen Program Studi Kehutanan Universitas Khairun, Much. Hidayah Marasabessy, menilai perburuan kus-kus mata biru dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah masih adanya permintaan terhadap daging kus-kus yang memicu praktik perburuan.

Selain itu, rendahnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga satwa endemik, ditambah kepercayaan yang berkembang bahwa daging kus-kus memiliki khasiat bagi kesehatan, turut memperbesar ancaman terhadap kelestarian spesies tersebut. Menurutnya, lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan satwa liar juga menjadi persoalan yang perlu dibenahi.

Hidayah juga menyoroti belum adanya langkah nyata dari Pemerintah Kota Ternate dalam memperkuat perlindungan kus-kus mata biru melalui kebijakan daerah maupun program konservasi yang berkelanjutan.

“Perburuan memberikan dampak serius terhadap kelestarian kus-kus mata biru. Satwa ini memiliki tingkat reproduksi yang lambat sehingga populasinya membutuhkan waktu lama untuk pulih,” katanya.

Ia mendorong pemerintah untuk memperkuat regulasi, meningkatkan penegakan hukum, serta menghadirkan kawasan konservasi, baik di habitat alaminya maupun melalui konservasi di luar habitat.

Menurutnya, upaya penyelamatan kus-kus mata biru juga harus melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas lingkungan, dan masyarakat melalui edukasi serta pengelolaan habitat secara berkelanjutan.

“Sudah saatnya Pulau Ternate memiliki suaka kus-kus mata biru, agar satwa endemik ini tidak hanya dikenang sebagai cerita bagi generasi mendatang,” tutupnya.