Membaca Realitas

Workshop Kursi Bambu Digelar di Tongole, Dorong Pelestarian Budaya dan Ekonomi Kreatif

TERNATE, Kalesang – Balai Pelestarian (BP) Kebudayaan Maluku Utara menggelar workshop dan diskusi pembuatan kursi bambu di Kelurahan Tongole, Kota Ternate, Senin (20/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari hingga 21 Juli ini bertujuan memperkuat pelestarian budaya sekaligus mengembangkan ekonomi kreatif berbasis potensi bambu.

Workshop mengangkat tema “Transformasi Bambu sebagai Warisan Budaya Menjadi Produk Kreatif Bernilai Ekonomi dan Berkelanjutan”. Puluhan warga Tongole mengikuti pelatihan yang menghadirkan akademisi ISDIK Taufik H. Taher, Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Ternate Rinto Taib, dan akademisi Universitas Khairun (Unkhair), Muktar Adam, sebagai narasumber.

Kegiatan dibuka secara resmi  oleh Kepala Subbagian Umum BP Kebudayaan Maluku Utara, Stenli R. Loupatty. Program ini merupakan bagian dari Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 yang didukung BP Kebudayaan Maluku Utara dan diinisiasi oleh Rasno Ahmad.

Dalam sambutannya, Rasno Ahmad menegaskan bahwa bambu memiliki nilai lebih dari sekadar bahan baku kerajinan. Bagi masyarakat Tongole, bambu merupakan bagian dari identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Menurutnya, keberadaan Tongole sebagai kampung bambu perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah, mulai dari tingkat kelurahan hingga kecamatan, agar pengembangan dan pelestariannya dapat dilakukan secara berkelanjutan.

“Bambu adalah jati diri yang harus dirawat dan dilestarikan. Tongole sebagai kampung bambu ke depan perlu mendapatkan perlindungan hukum, terutama melalui Hak Kekayaan Intelektual (HKI), agar tidak diklaim oleh daerah lain. Ini menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Stenli R. Loupatty menilai kerajinan kursi bambu memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai industri ekonomi kreatif berbasis budaya. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai warisan budaya, tetapi juga membuka peluang usaha yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga.

Ia mendorong para pelaku usaha kerajinan bambu untuk mulai memanfaatkan platform digital sebagai sarana pemasaran agar produk yang dihasilkan dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

“Melalui diskusi seperti ini, diharapkan pelaku usaha memanfaatkan pasar digital agar produk kursi bambu dapat dipasarkan hingga ke luar daerah. Dengan begitu, kerajinan bambu dapat menjadi sumber pendapatan ekonomi yang kuat,” kata Stenli.

Ia berharap workshop tersebut mampu memotivasi generasi muda untuk terus mengembangkan potensi bambu di Kelurahan Tongole. Selain menjaga kelestarian warisan budaya, pengembangan kerajinan bambu juga dinilai dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.