TERNATE, Kalesang – Ternate Heritage Society, Maluku Utara, memperkuat jejaring kolaborasi pelestarian sejarah dan budaya melalui pertemuan bersama Yayasan South East Asian Studies Regional Exchange Program (SEASREP) Foundation di George Town, Pulau Pinang, Malaysia, 3–4 Agustus 2026.
Pertemuan tersebut diikuti 35 organisasi atau afiliasi dari sejumlah negara di Asia Tenggara. Kegiatan ini menjadi ruang bagi para peserta untuk saling mengenal, mempelajari sejarah dan budaya kawasan, sekaligus membangun kerja sama dalam produksi dan penyebarluasan pengetahuan.
SEASREP Foundation merupakan yayasan yang menghimpun berbagai kajian, jurnal, dan hasil penelitian untuk kemudian disebarluaskan melalui platform digital.
Founder Ternate Heritage Society, Maulana Ibrahim, mengatakan organisasinya menjadi salah satu pihak yang diundang dalam pertemuan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini penting untuk memetakan keberadaan, fokus, dan tujuan masing-masing organisasi dalam jaringan SEASREP.
“Pada pertemuan perdana ini, selain peserta saling mengenal, kami juga merumuskan kegiatan bersama untuk keberlanjutan jejaring dan kolaborasi se-Asia Tenggara,” kata Maulana.
George Town dipilih sebagai lokasi pertemuan karena dinilai memiliki pengalaman dalam mengelola keberagaman masyarakat sekaligus menjaga warisan sejarah dan budaya. Kota tersebut juga telah ditetapkan UNESCO sebagai kota warisan dunia.
Dalam sesi perkenalan, kata Maulana, Ternate dan Kepulauan Maluku menjadi salah satu wilayah yang banyak dikaitkan dengan sejarah hubungan antarwilayah di Asia Tenggara, terutama melalui jalur perdagangan rempah.
Menurut dia, sejarah perdagangan Ternate memiliki hubungan dengan sejumlah bandar di kawasan Selat Malaka hingga Pulau Pinang dan George Town. Jejak hubungan tersebut juga terlihat dalam perpindahan masyarakat Ternate ke sejumlah wilayah di Asia Tenggara, termasuk komunitas Ternate Katolik di Filipina.
“Sebagai contoh, jalur perdagangan Ternate dengan bandar-bandar di Selat Malaka dan Pulau Pinang, termasuk George Town, Penang, serta migrasi penduduk Ternate Katolik ke Filipina,” ujarnya.
Maulana menilai posisi Ternate dalam sejarah perdagangan rempah dan hubungan antarwilayah di masa lalu tidak sekadar menjadi bagian dari catatan sejarah. Menurutnya, warisan tersebut dapat menjadi modal pengetahuan untuk merancang arah pembangunan Kota Ternate dan Kepulauan Maluku di masa mendatang.
Ternate Heritage Society berharap keterlibatan dalam jejaring SEASREP dapat membuka lebih banyak ruang pertukaran pengetahuan dan kolaborasi antarorganisasi di Asia Tenggara.
“Pertemuan lanjutan direncanakan kembali digelar tahun depan dengan pembahasan yang lebih spesifik mengenai berbagai persoalan perkotaan. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat melahirkan gagasan untuk mendorong keberlanjutan kota sekaligus menjaga sejarah, budaya, dan lingkungan alam di kawasan Asia Tenggara,” pungkasnya.
