Membaca Realitas

Riset FAJARU Temukan 85 Persen Perempuan di Sekitar Industri Nikel Halteng Memiliki Kadar Arsenik Tinggi

HALTENG, Kalesang — Riset FAJARU Maluku Utara menemukan 17 dari 20 perempuan atau 85 persen responden yang tinggal di sekitar kawasan industri nikel dan PLTU captive di Halmahera Tengah memiliki kadar arsenik dalam urin di atas nilai rujukan yang digunakan dalam penelitian.

Kadar arsenik tertinggi yang ditemukan mencapai 650,34 mikrogram per liter (µg/L), atau hampir 19 kali lipat dari nilai rujukan 35 µg/L.

Temuan tersebut merupakan bagian dari riset berjudul Hak Kesehatan Seksual Reproduksi Perempuan Terdampak Industri Nikel dan PLTU Captive di Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. Penelitian dilakukan pada Maret hingga Agustus 2026 di Desa Woekob, Lelilef Sawai, Lelilef Waibulen, dan Gemaf.

Riset melibatkan 20 perempuan berusia 23 hingga 50 tahun. Pemeriksaan sampel darah dan urin dilakukan menggunakan metode ICP-MS di Laboratorium Prodia Ternate. Penelitian juga dilengkapi wawancara, diskusi kelompok terarah multipihak, serta telaah data agregat kesehatan ibu dan anak periode 2024–2026.

Selain arsenik, penelitian menemukan tiga responden atau 15 persen memiliki kadar merkuri dalam darah di atas nilai rujukan. Kadar tertinggi tercatat sebesar 15 µg/L.

Sementara itu, seluruh kadar timbal dalam darah responden masih berada di bawah nilai rujukan yang digunakan dalam penelitian.

FAJARU menyebut paparan arsenik ditemukan di seluruh lokasi penelitian, termasuk wilayah yang berjarak sekitar enam kilometer dari fasilitas industri.

Temuan tersebut dinilai menunjukkan kemungkinan adanya lebih dari satu jalur paparan, seperti debu dan udara, air yang digunakan untuk mandi dan mencuci, serta pangan yang berasal dari lingkungan sekitar.

Keluhan Kesehatan

Riset juga mencatat sejumlah keluhan kesehatan yang dilaporkan responden. Sebanyak 19 perempuan atau 95 persen mengaku mengalami batuk, 16 responden atau 80 persen mengalami keluhan kulit, dan 15 responden atau 75 persen mengalami pusing atau sakit kepala.

Pada aspek kesehatan reproduksi, 12 responden atau 60 persen melaporkan mengalami gangguan menstruasi. Sebanyak 11 responden atau 55 persen mengalami gatal pada area kewanitaan, sedangkan sembilan responden atau 45 persen melaporkan keputihan yang dinilai tidak normal.

Tim peneliti juga menelaah data agregat kesehatan ibu dan anak periode 2024–2026. Data tersebut menunjukkan sejumlah tren yang perlu mendapat perhatian, antara lain kasus keguguran dan kematian janin dalam kandungan di wilayah Lelilef, preeklamsia atau eklamsia, bayi berat lahir rendah, kelahiran prematur, kematian neonatal, serta peningkatan kasus ISPA, pneumonia dan diare pada balita di Halmahera Tengah.

Namun, FAJARU menegaskan temuan tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa aktivitas industri nikel dan PLTU captive secara langsung menyebabkan gangguan kesehatan reproduksi maupun penyakit tertentu.

Ketua FAJARU Maluku Utara, Hasmah Nento, mengatakan penelitian tersebut memiliki keterbatasan, terutama dari sisi jumlah responden. Karena itu, temuan yang diperoleh perlu dipandang sebagai sinyal awal yang membutuhkan penelitian dan pemantauan lebih lanjut.

“Temuan ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap perempuan tidak boleh dipisahkan dari pengawasan lingkungan. Air galon untuk minum saja tidak cukup apabila perempuan masih terpapar melalui debu, udara, serta air yang digunakan untuk mandi dan aktivitas sehari-hari,” kata Hasmah.

Menurut dia, pemerintah dan pelaku industri perlu memastikan pemantauan lingkungan dilakukan secara terbuka serta menyediakan akses air bersih dan layanan kesehatan reproduksi yang aman.

Minta Pemantauan Logam Berat

FAJARU merekomendasikan pemerintah pusat dan daerah menetapkan zona pemantauan berkala terhadap kadar logam berat pada manusia, air, tanah, dan pangan di desa-desa yang berada di sekitar kawasan industri.

Organisasi tersebut juga meminta kesehatan reproduksi perempuan menjadi salah satu indikator dalam pengawasan dampak lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Selain itu, sistem pencatatan di puskesmas dinilai perlu diperbaiki agar keluhan kesehatan yang berkaitan dengan lingkungan dan reproduksi dapat terdokumentasi dengan baik, dengan tetap melindungi privasi pasien.

FAJARU juga meminta pemerintah memastikan ketersediaan air bersih untuk seluruh kebutuhan sehari-hari, termasuk mandi dan mencuci, serta memastikan standar emisi dan limbah dipatuhi.

Sementara bagi perusahaan industri nikel dan PLTU captive, FAJARU mendorong pengurangan emisi debu, abu dan limbah, keterbukaan data pemantauan lingkungan, serta perluasan pemantauan kesehatan bagi masyarakat di sekitar kawasan industri.

FAJARU juga mendorong penelitian lanjutan dengan jumlah responden yang lebih besar dan mencakup kelompok rentan lainnya, termasuk anak-anak. Penelitian berikutnya dinilai perlu melakukan pengukuran secara bersamaan terhadap udara, air, debu, tanah, pangan dan biota laut.

“Transisi energi tidak boleh dibangun dengan mengorbankan kesehatan warga yang tinggal di sekitar rantai pasoknya. Perempuan harus ditempatkan sebagai subjek perlindungan dan pengambilan keputusan, bukan hanya sebagai penerima dampak,” demikian pesan utama dalam laporan riset tersebut.