Membaca Realitas

Pembangunan Pagar di Desa Maidi Dipersoalkan

TIDORE (kalesang) – Pembangunan pagar di 18 rumah yang menggunakan alokasi dana desa (ADD) Maidi, Kecamatan Oba Selatan, Kota Tidore Kepulauan (Tikep), Provinsi Maluku Utara (Malut), dipersoalkan.

Sebab, pekerjaan tahun 2021 dengan nilai anggaran sebesar Rp100 juta lebih itu sampai saat ini belum tuntas. Padahal pembangunan tersebut hanya sebatas rehab. Bukan bangun baru.

“Pagar itu hanya rehab, bukan bangun baru. Ditambah lagi dengan pekerjaan tersebut dikerjakan secara gotong royong.” Kata Bobato Adat Kesultanan Tidore, Fomanyira Nyili Seba-Seba, Hanafi Hasan kepada kalesang.id, Senin (1/8/2022).

Hanafi megatakan, tidak semua material dibeli gunakan uang tersebut. Tetapi sebagian menggunakan uang dari warga.

“Tapi sampai sekarang pekerjaan itu tidak tuntas.” Sesalnya.

Sementara itu, Kepala Desa Maidi, Abdullah Yakub mengatakan, pekerjaan ini awalnya direncanakan hanya 100 meter. Namun, berdasarkan kesepakatan bersama warga, dari Rp100 juta lebih ini diubah skemanya menjadi 600 meter.

“Karena itu, tidak sampai finishing. Saat rapat itu warga bersedia akan secara sukarela melakukan plesteran yang penting dibangun dengan panjang 600 meter, namun saya bilang jangan. Itu tanggung jawab saya.” Katanya.

Sebenarnya, Abdullah menambahkan, ADD ini tidak bisa dianggarkan untuk pembangunan pagar di desa. Tetapi pagar ini dibangun melalui koordinasi dengan Walikota Tikep, jadi diberi izin.

“Soal temuan Inspektorat, karena belum diminta keterangan pada saya. Jadi setelah dijelaskan, Inspektorat akhirnya terima.” Ungkap Abdullah.

Abdullah menegaku bahwa ada sebagian material yang diperoleh dari sumbangan warga. Akan tetapi material seperti pasir, semen, dan besi dibeli dengan pagu anggaran tersebut.

“Itu karena warga yang minta. Mereka bilang yang penting panjangnya 600 meter, pasir kerikil warga siap tanggung.” Bebernya.

Untuk batu bata, lanjut Abdullah, di anggaran tahap II itu dia beli 3 sak semen untuk dibagi ke 85 rumah di RT 01, RT 02, dan RT 04 untuk dicetak. Per sak bisa dapat 80 buah bata, jadi total per rumah bisa dapat 240 buah bata.

“Pagar desa ini ditargetkan dibangun pada 85 rumah, sementara yang sudah dilaksanakan itu 18 rumah dan tersisa 67 rumah, sekarang dilaksanakan tahun ini, yakni melengkapi rim balok dan penyusunan bata di 3 rumah.” Pungkasnya.(tr-04)

 

Reporter: M. Rahmat Syafruddin

Redaktur: Junaidi Drakel