TERNATE (kalesang) – Coffe Sua, salah satu kedai kopi di berada Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara sejak tahun 2019 lalu.
Kedai ini milik pemuda yang bernama lengkap M.Fahreza Umahuk. Pria 29 tahun yang akrab disapa Ezza ini awalnya membuka kedai di Manado, Sulawesi Utara pada 2018 lalu.
Ia bercerita, bisnis ini berawal dari hobi minum kopi dan mengumpulkan anak-anak Maluku Utara yang berkuliah di Manado agar ada tempat berkumpul.
“Jadi, menyediakan ruang agar bisa menjalin sillahturahmin tetap erat. Tidak membedakan asal dari darah mana di Maluku Utara.” Ungkapnya. Jumat (30/12/2022).
Usai menyelesaikan sekolah, ditahun 2019 ia kembali ke Kota Ternate, dan membuka kedai Coffe Sua di Benteng Orange. Namun, baru beberapa bulan berjalan, kedai terpaksa berhenti akibat Covid-19.
Memutar otak, timbul inisiatif untuk menjual kopi keliling skaligus menyalurkan hobinya bermotor, Ezza lantas berdagang kopi keliling. Memodifikasi vespa tuannya menjadi caffee berjalan,Ezza melakukan tour kopi keliling Halmahera bersama tiga teman karibnya.
Sembari berdagang kopi keliling Ezza juga mngedukasi bagaimana meracik kopi enak secara gratis ke anakmua yang dijumpainya.
“Bahwa bukan hanya kopi hitam dan kopi susu saja. Namun, masih banyak kopi lagi racikan kopi lain”.Ungkapnya tersenyum.
Saat itu Lockdown akibat Covid terus diperpanjang pemerintah, Ezza mencari kesempatan agar tetap berjualan. Ia lantas menjual kopi metode give away langsung datang ke tempat pelanggan.
“Selain itu, saya berjualan di Taman Nukila bersama istri menggunakan vespa.” Katanya.
Menurut Ezza, ia memilih membuka kedai kopi, karena sangat menjanjikan secara finansial dimana setiap kalangan pasti menikmati kopi. Hingga saat ini ia sudah mempunyai empat orang pegawai yang bekerja secara shift.
Bahan mentah kopi, ia distribusi dari Bacan Halmahera Selatan dan Jailolo Halmahera Barat serta Kabupaten Kepulauan Sula.
Menurutnya, kopi Sula sangat khas dengan wangi dan sangat nikmat. Namun, sekarang kopi Sula sudah semakin susah untuk didapatkan, dikarenakan petani kopi yang sudah berkurang. Dan kopi hanya dibiarkan bertumbuh liar tanpa dirawat.
“seharusnya, kopi lokal ini harus dijaga agar tidak hilang. karena bisa menjadi pendapatan daerah.” Bebernya. (tr-04)
Reporter: Siti Halima Duwila
Redaktur: Wawan Kurniawan
