Saya membayangkan netra Raja Charles I menatap tajam dua tamu yang berani menghadapnya tanpa diundang itu. Rautnya penuh tanda tanya. Dari singasananya yang mewah, sang Raja meminta mereka bicara. “Saya meminta dukungan Raja untuk berlayar menemukan tempat rempah”, ujar Fernando de Magelhaens – orang ramai menyapanya dengan Magellan. Belum sempat Raja menanggapi, Magellan buru-buru melanjutkan. “Ini orang asli dari tempat rempah itu, dia tahu jalur pelayaran ke sana”. Magellan menunjuk sosok berkulit gelap yang berdiri di belakangnya. Bayangan saya terkait dialog di hadapan Raja Spanyol ini merujuk pada novel “Clavis Mundi” yang ditulis secara bersama oleh Helmi Yahya, Utama Prastha, Donna Widjajanto dan Reinhard Tawas. Clavis Mundi yang bermakna “Kunci Dunia” adalah novel berlatar sejarah tentang sosok pengeliling pertama bumi melalui jalur laut.
Magellan menawarkan ekspedisi mencari tempat rempah ke penguasa Spanyol karena dirinya kecewa dengan sikap Raja Portugis, Manuel I yang menolak membiayai rencana ekspedisi ke Timur. Penolakan Raja didasari kekecewaan atas kegagalan Colombus, Bartholomew Diaz, Amerigo Vespucci, Vasco da Gama dan beberapa ekspedisi lainnya yang gagal menemukan tempat rempah. Padahal anggaran sangat besar dihabiskan. Belum lagi urusan perang di semenanjung Afrika yang tak tuntas. Magellan merasa penolakan Raja terlalu subyektif. Ia adalah bagian dari sukses armada D’ Albuquerque yang menaklukan Malaka tahun 1511. Magellan bahkan terlibat dalam perang di selat Hormuz, Goa di India dan Malaka. Rasa kecewa itu kian besar setelah tahu sepupunya Francisco Serrao telah menetap di Ternate dan membangun hubungan dagang antara Ternate dengan Portugis.
Selama menetap di Malaka, Magellan terus bertukar kabar dengan Serrao. Dari sana Ia dapat peta jalan laut menuju Ternate dan Tidore. Di Malaka juga, dirinya berkenalan dengan seorang anak muda berkulit gelap yang fasih berbahasa Melayu, Arab, Portugis dan Spanyol. Anak muda ini sempat menyelamatkan Magellan dan pasukan Portugis saat terjebak dalam perang Malaka. Keduanya makin dekat. Magellan memanggilnya dengan sapaan Enrique. Ketika hendak pulang ke Portugis, Enrique ikut diajak. Mereka berdua menurut sejarawan Syaiful Bahri Ruray juga ikut dalam perang di Maroko sebelum kembali ke Lisabon. Magellan terluka dalam perang itu. Di tanah kelahirannya nun jauh di Eropa, kontak dengan Serrao di Ternate tak pernah putus. Surat menyurat keduanya diselundupkan lewat kapal-kapal Portugis yang membawa rempah.
Spanyol yang melihat rempah-rempah dari Ternate merasa ditelikung Portugis. Perjanjian Tordesilla tahun 1494 memang memberi batas kuasa keduanya di Timur dan Barat tetapi Spanyol merasa dirugikan. Upaya menemukan jalur baru menuju tempat rempah berada mulai dipikirkan. Tetapi bagaimana caranya?. Jalur memutar mengikuti rute Colombus sebelumnya hanya berakhir di benua Amerika. Hingga Magellan datang memberi asa. Di Sevilla, Magellan bermitra dengan kosmografer Rui Faleiro. Keduanya yakin Maluku adalah milik Spanyol. Magellan juga membawa pribumi yang oleh banyak catatan Eropa menyebut sosok itu tak lebih dari seorang budak.
Pada masa itu, cara pandang orang Eropa memang sangat diskriminatif terhadap mereka yang berbeda warna kulit. Eropa selalu memandang manusia dalam perspektif strukturalis yang didasari oleh pola hubungan antara tuan dan “slave”. Ini warisan dari peradaban Romawi yang mengagungkan tradisi penaklukan – exploitation I’homme par I’homme. Meski frasa budak juga merujuk pada panggilan untuk anak angkat. Kedekatan Magellan dan Enrique sejatinya melewati batas antara tuan dan budak. Magellan sangat menghormati Enrique karena anak muda ini selain pandai berbahasa asing, juga menguasai peta pelayaran dan navigasi. Ia juga jujur dan tak banyak tingkah. Loyalitasnya teruji.
Karena itu, setelah Magellan menjadikan Enrique sebagai “jaminan” ekspedisi, Raja Charles I langsung menyetujui proposal yang diajukan. Sebuah armada besar berkekuatan ratusan anak buah kapal disiapkan. Tanggal 8 September 1519, lima kapal yakni Trinidad berbobot mati 110 ton dengan 55 ABK, San Antonio (120 ton dengan 60 ABK), Conception (90 ton dengan 45 ABK), Victoria (85 ton dengan 42 ABK dan Santiago (75 ton dengan 32 ABK) melepas sauh dari Sevilla. Armada ini mengambil rute agak memutar melewati samudera Atlantik dan berujung di Pasific. Berbeda dengan rute biasanya yang menyisir samudera Hindia dan telah dikuasai oleh Portugis. Magellan jadi komandan ekspedisi. Ia berada di kapal utama bersama Enrique. Setelah melewati 23 kota di 12 negara, Magellan akhirnya tiba di Filipina.
Selangkah lagi mencapai Tidore – tempat cengkih menyebarkan aroma harum yang maskulin – garis kematian membatasi gerak pelaut tangguh ini. Magellan terbunuh dalam sebuah konflik di Mactan Filipina pada 27 April 1521. Armadanya tercerai-berai. Tersisa dua kapal yang utuh dan berhasil keluar dari sana. Kendali ekspedisi diambil alih Juan Sebastian del Cano. Lebih dari empat bulan berlayar dalam kondisi memprihatinkan dan nyaris tenggelam, kapal Trinidad dan Victoria akhirnya melempar sauh di Tidore pada 6 November 1521. Mereka disambut oleh Sultan Almasyur dengan upacara kehormatan. Trinidad yang rusak parah diperbaiki. Namun hanya Victoria yang berlayar kembali ke Spanyol dengan muatan penuh cengkih sebanyak 381 karung. Beratnya sekitar 27,3 ton. Tanggal 11 Desember 1521 – hari ketika Victoria melepas sauh dan berlayar meninggalkan Tidore telah ditetapkan sebagai Hari Rempah Nasional.
Jejak perjalanan Magellan ini memberi beberapa tafsir empirik yang menegasi keyakinan saya bahwa sejarah pelayaran dunia abad 16 sejatinya dikonstruksikan secara manipulatif oleh Eropa sebagai upaya untuk membuktikan pandangan “bumi bulat”. Bermula dari ekspedisi Colombus hingga Magellan. Semua itu sebenarnya bertujuan untuk mencari rempah-rempah. Pada abad 14, Eropa benar-benar terpuruk akibat “Black Death”. Lonceng kematian berdentang saban hari. Ketakutan tak lagi berbatas. Wabah pes membunuh hampir setengah penduduk benua itu. Asia dan Afrika juga menderita. Tak ada obat penangkal.
Di tengah pandemi yang mengancam populasi manusia, beredar kabar jika cengkih dan pala bisa digunakan untuk melawan wabah. Tapi darimana mendapatkannya. Pedagang-pedagang di Venezia Italia yang menjual dengan harga sangat mahal mengaku mendapatkan jenis rempah ini secara terbatas dari para pedagang Arab. Orang ramai mencari. Para Raja dan saudagar kaya menyembunyikan rempah karena persediaannya sangat terbatas. Rantai pencarian cengkih dan pala kian memanjang hingga berujung pada sebuah kawasan misterius di Timur. Tempat antah barantah di seberang lautan yang konon dihuni makhluk jahat.
Tapi wabah terus mengancam. Akhirnya para Raja dan saudagar kaya berembuk mengumpulkan dana. Kapal-kapal besar dibuat. Lalu ekspedisi demi ekspedisi dikirim untuk menemukan tempat asal rempah itu. Tak ada peta penunjuk jalan yang pasti. Semuanya serba spekulatif. Perang juga berkecamuk berebut wilayah. Portugis dan Spanyol, juga Inggris dan belakangan Belanda saling berlomba. Magis rempah memacu hasrat untuk menguasai. Tome Pires, seorang penulis yang berlayar bersama armada Albuquerque dan menetap di Malaka menuliskan pesona rempah dengan ketakjuban yang guyub dalam bukunya : Suma Oriental. “Para pedagang Melayu berkata bahwa Tuhan telah menciptakan Timor untuk Kayu Cendana, Banda untuk Pala dan Maluku untuk Cengkih. Barang dagangan ini tidak dapat ditemukan di daerah lain di dunia kecuali di tiga tempat itu. Saya telah bertanya kepada banyak orang dengan cermat dan sabar mengenai apakah ketiga komoditas tersebut dapat ditemukan di tempat lain. Dan semua orang menjawab tidak”.
Selain hanya ada di kepulauan Maluku, pergerakan rempah ternyata melintas batas geografis yang jauh dan berliku. Jalurnya tersembunyi dan terbatas. Jack Turner dalam buku “Sejarah Rempah” mendiskripsikan perjalanan rempah yang panjang berkelok itu. Menurut Turner : tidak ada rempah-rempah yang menempuh perjalanan lebih jauh ataupun lebih eksotis daripada cengkih pala dan bunga pala Maluku. Setelah dipanen di hutan pala di Banda atau di bawah bayangan gunung api Ternate dan Tidore, rempah dibawa cadik atau perahu tradisional yang melintas pulau-pulau di Nusantara. Rempah juga dibawa pedagang China yang masuk ke Nusantara abad 13. Armada rempah ini bergerak ke Barat melewati Sulawesi dan Borneo terus hingga ke Jawa dan Selat Malaka. Rempah-rempah itu lalu dikapalkan menuju India dan pasar di Malabar. Dari situ, kapal-kapal Arab membawanya menyeberangi Samudera Hindia menuju Teluk Persia atau Laut Merah. Di salah satu dari sekian banyak pelabuhan di Basra, Jeddah, Muskat atau Aqaba, rempah dipindahkan ke dalam caravan-caravan besar yang menyusuri gurun pasir menuju pasar-pasar di Alexandaria dan Levant. Baru setelah mencapai laut Mediterania, rempah akhirnya tiba di tangan bangsa Eropa.
Jauh sebelum itu, rempah sudah sejak lama jadi idola. Para arkeolog misalnya menemukan sebuah tempat penyimpanan rempah berisi cengkih di gudang rumah warga di daerah Mesopotamia (sekarang Syiria) pada tahun 1721 SM. Anthony Reid dalam bukunya ‘”Southeast Asia in Age of Commerce” menyebut cengkih dan kadang-kadang pala dan bunganya disebut dalam catatan perdagangan di Kairo dan Alexandaria sejak abad 10. Komoditas ini sangat jarang dan mahal. Eropa baru mengenalnya pada abad 14. China telah menggunakannya pada masa dinasti Tang tetapi penggunannya sangat terbatas sebelum abad 15. Beberapa sumber menyebut penggunaan rempah telah ada sejak jaman Ratu Sheba yang kerap menjamu Raja Solomon. Rempah juga jadi “senjata rahasia” Cleopatra ketika menundukan Julius Cesar dari Romawi. Dalam liturgi Kristen, rempah jadi bagian yang tak terpisahkan. Begitu pula dalam tradisi Islam. Moksen Sirfefa, peminat sejarah dan peradaban kelahiran Papua menyebut rempah-rempah yang profan bisa membawa manusia pada spirit surgawi ketika Ia jadi senyawa dalam ritual-ritual ibadah yang kudus.
Kelindan antara rempah dengan ekspedisi berebut jalur pelayaran ke Timur menempatkan Enrique sebagai sosok sentral yang sangat menentukan sukses ekspedisi Magellan. Ibarat mata uang koin, rempah dan Enrique adalah kepingan yang saling melengkapi. Karena itu, sosok Enrique yang disebut sebagai pengeliling pertama bumi ini diklaim oleh Malaysia dan Filipina sebagai warganya. Ia jadi rebutan karena kegemilangan masa lalu. Namun klaim-klaim itu terbantahkan jika kita membaca ulang beberapa manuskrip Eropa terkait ekspedisi Magellan. Catatan Antonio Pigaffeta – seorang sarjana kelahiran Italia yang ikut berlayar bersama Magellan dan bertugas sebagai penulis kronologi – menyebut banyak hal terkait peran penting Enrique. Menurut Pigafetta, Enrique adalah penerjemah dan pembantu utama Magellan. Karena itu, Ia digaji sangat mahal. Posisinya berada dibawah Magellan dan dibayar dengan mata uang Iberian yang dipakai abad ke 11 hingga 14. Namanya “Maravedi”. Bentuknya serupa koin emas dan perak. Magellan bergaji 12.166. Enrique mendapat bayaran sebesar 1.500 dan Antonio Pigafetta dibayar 1.000.
Selama pelayaran yang panjang itu, Pigafetta banyak belajar bahasa melayu. Dari 460 kosa kata yang ditulis, hanya 160 kata yang bukan berasal dari bahasa Melayu sebagaimana dikutip Pigafetta dalam bukunya “The First Voyage Round The World By Magellan”. Naskah asli buku ini terbit di Paris tahun 1525. Pigafetta juga menceritakan jika sosok Enrique memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat. Ia kerap mengkonsumsi ikan laut yang dimakan secara mentah dengan campuran cuka (gohu) dan juga mencelupkan biskuit keras – diasumsikan sebagai sagu karena setelah dicelup dapat membuat air di gelas menjadi keruh. Cerita tentang Enrique juga dapat dibaca dalam manuskrip Maximilianus Transylvanus berjudul “De Mollocis Insulis” yang ditulis tahun 1522 setelah dirinya mewawancarai 18 pelaut sisa armada Magellan yang baru tiba dari Tidore dengan membawa cengkih dan pala di pelabuhan Sanlucar de Barrameda di Sevilla.
Testimoni komandan kapal Victoria, Juan Sebastian del Cano mengungkap peran penting Enrique dalam menemukan Tidore. Ketika mereka menemukan pesisir Filipina, Magellan dan semua awak kapal semula yakin jika inilah Kepulauan Rempah-Rempah yang dicari dalam pelayaran selama lebih dari dua tahun itu. Namun ketika mendekat dan berinteraksi dengan penduduk lokal, Enrique ternyata tak mengenal bahasa mereka. Bahasa dari pulau yang puluhan tahun lalu Ia tinggalkan. Bukti jika Enrique berasal dari Maluku – kawasan ini diskripsikan sebagai bagian dari Maluku bagian Utara dengan dua Kesultanan besar, Ternate dan Tidore jauh sebelum bangsa Eropa datang dan dikenal dengan Jazirah Al-Mulk atau daerah para Sultan – juga disebut dalam buku “The Discovery And Conquest of The Molucco and Philippine Islands” yang ditulis oleh sejarawan Spanyol, Leonardo De Argensola. Dalam bukunya yang dipublikasikan pertama kali di London pada tahun 1708, Argensola secara tegas menyebut jika ekspedisi Magellan adalah “Armada de Maluku”. bukan Malaka atau Filipina.
Catatan yang sama disebut Martin Fernandez de Navarrete, sejarawan maritim Spanyol yang menulis rangkuman laporan dari Pigafetta, Transylvanus dan catatan pelayaran kapal Victoria berjudul “Coleccion De Los Viages Y Descrubrimientos” yang terbit tahun 1837. Navarrete menegaskan bahwa Enrique berasal dari kepulauan rempah-rempah yakni Maluku. Sekali lagi bukan dari Malaka atau Filipina.
Sayangnya akhir perjalanan Enrique menyisakan kontraversi. Transylvanus dan Navarrete menyebut Enrique ditinggalkan di Filipina setelah Magellan terbunuh. Ada “tuduhan” jika Ia bersekongkol dengan Raja setempat untuk menghabisi sisa armada Magellan. Menurut saya, catatan yang “melenyapkan” peran Enrique di ujung ekspedisi adalah bagian dari ketidaksukaan terhadap Magellan yang asli Portugis. Juga karena justifikasi status “budak” yang sedikit banyak akan mencoreng hegemoni pelayaran keliling dunia bangsa Eropa.
Pendapat berbeda tentang akhir Enrique mencapai Tidore dituliskan oleh Jack Turner dalam bukunya “Sejarah Rempah”. Turner yang melakukan riset hingga ke Tidore menyebut jika Enrique lah yang meyakini sisa armada Magellan telah mecapai Tidore saat melihat dua kerucut kembar – gunung Gamalama dan Kie Matubu – di sebuah pagi yang cerah pada tanggal 8 November 1521. Dalam novel “Clavis Mundi” diceritakan jika Enrique ternyata memilih untuk tidak ikut berlayar. Konflik internal selama pelayaran dan kebencian awak Spanyol terhadap Magellan – yang berasal dari Portugis membuat Enrique merasa tak aman. Ia juga tak lagi punya pelindung setelah Magellan tewas. Seminggu setelah Trinidad dan Victoria berlayar, Enrique kemudian berlayar dengan cadik nelayan menuju Tidore.
Di kampung halamannya Enrique sempat bertemu dengan Pigaffeta yang mengajaknya berlayar pulang dengan Victoria tetapi Ia menolak. Selama di Tidore, Enrique mendapat kabar jika Serrao – sepupu Magellan yang Ia selamatkan dalam perang Malaka tahun 1509 telah meninggal di Ternate. Enrique kemudian bertemu Sultan Tidore dan meminta perahu bercadik ganda. Dirinya kemudian berlayar ke Demak, Malaka. Siam, India hingga Marsailles di Perancis. Pengetahuan tentang pelayaran dan ilmu bumi Enrique didapat dari ayah angkatnya, seorang Datuk asal Malaka bernama Harun Abas. Datuk ini lama menetap di Maluku dan membawa Enrique kecil ke Demak kemudian berpindah ke Palembang dan seterusnya menetap di Malaka.
Sebagian besar hidup Enrique bertaut erat dengan laut dan pulau-pulau. Ia mewakili daulat kuasa para pelaut tangguh dari Maluku. Kepiawaian pelaut-pelaut Maluku dalam membaca jalur pelayaran sejatinya telah ada jauh sebelum Portugis datang. Albuquerque semasa berada di Malaka, dua kali menulis surat kepada Raja Portugis yang menceritakan kekaguman dirinya atas hegemoni maritim pelaut Maluku yang telah memiliki peta dunia hingga Tanjung Harapan di ujung Afrika dan juga Brazil di kaki benua Amerika. Tak aneh jika dalam Suma Oriental, Tome Pires memuat peta pelayaran Fransisco Rodriques yang mengutip peta dunia dari pelaut-pelaut Maluku dan juga Demak.
Karena itu, upaya menyusuri jejak Enrique yang saya sebut Jojo – sapaan universal untuk laki-laki dewasa di Tidore – bukan semata glorifikasi masa lalu. Menuliskan ulang sejarah perjalanan Enrique kecil dari Tidore yang melayari belahan dunia dari sisi Timur dan kembali ke kampungnya dengan rute pelayaran di bagian Barat dengan riset yang serius berbasis data yang kredibel adalah bagian dari “Hystorical Neccesary”. Sebuah keharusan sejarah. Ia tak sekedar membantah klaim sejarah yang tak lurus tapi juga sebagai ikhtiar kolektif untuk mewariskan sebuah Identitas Nasional. Menegasi bahwa kita adalah bangsa maritim terbesar dengan jejak yang jelas terbaca dalam bingkai nilai “Toma Loa Se Banari”.
