Membaca Realitas

Bahaya El Nino di Sektor Pertanian

Berapa tahun belakangan, kasus kerusakan sektor pertanian akibat El Nino semakin meningkat. Seperti pada laman CNBC INDONESIA yang bertajuk  20 Juli 2023, pada 2019 produksi padi menurun sekitar 7,7% ke 54,6 juta ton Kg dari tahun sebelumnya.

Penurunan terjadi di tengah cuaca ekstrim. Sawah menghadapi banjir pada awal tahun dan kekeringan selama paruh tahun kedua, fenomena ini terjadi ketika Indonesia menghadapi El Nino.

Malapetaka tersebut terjadi karena pemanasan suhu yang semakin meningkat. Namun  El Nino tidak terjadi setiap tahun. Berkaca dari kasus di atas, El Nino terjadi sekitar 2019 lalu, dan diperkirakan akan terjadi lagi di 2023 kini.

Seperti yang kita alami sendiri, di beberapa minggu ini, cuaca panas mengalami peningkatan yang luar biasa. Hal ini mungkin ditanggapi biasa saja, sebab kita beranggapan bahwa setiap tahun, bumi akan mengalami perubahan cuaca.

Ternyata sesuai dengan prediksi dari BMKG, 2023 ini akan mengalami kemarau dan puncaknya pada bulan Agustus sampai September. Hal ini tidak lain dipicu oleh fenomena El Nino. Fenomena dari El Nino ini menciptakan gelombang panas dan kekeringan terhadap kehidupan di bumi.

Dalam situs BMKG, El Nino diartikan sebagai fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur.

Pemanasan SML ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik Tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah sekitarnya, termasuk di Indonesia.

Beberapa negara di kawasan Amerika Latin seperti Peru, saat terjadi El Nino akan berdampak pada meningkatnya curah hujan di wilayah tersebut.

Sedangkan di Indonesia secara umum dampak dari El Nino adalah kondisi kering dan berkurangnya curah hujan.

Di Indonesia sendiri, sektor pertanian tentu menjadi sorotan. Sebab, Indonesia dikenal sebagai negara agraris—negara dengan perekonomian bergantung atau ditopang oleh sektor pertanian. Dengan sumber daya alam yang melimpah dapat dipercaya dapat mendorong perekonomian negeri.

Pada sektor pertanian, El Nino dapat menjadi tantangan besar karena dapat mengganggu pola cuaca yang berdampak pada produksi pertanian: kekeringan, penyakit tanaman, perubahan pola hama dan lain sebagainya sehingga mempengaruhi kesejahteraan petani.

Dengan ancaman ini, tentunya menjadi momok mengerikan bagi Indonesia. Ada banyak komoditas pertanian yang terdampak. Namun, makanan pokok seperti padi, jagung, umbi dan lainya, menjadi komoditas yang kerusakanya semakin mendominasi.

Mengingat pangan seperti padi, jagung, dan umbi menjadi makanan primer yang sangat penting yang banyak diproduksi oleh petani Indonesia serta menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia.

Di Maluku Utara misalnya, fenomena El Nino diperkirakan akan mempengaruhi produksi dan pasokan beras.

Hal ini sesuai dengan perkataan R.Eko Adi Irianto, Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Maluku Utara, bahwa “Risiko el nino itu risiko nasional, kalau padi dengan bibit tidak tahan panas maka produksi dan secara otomatis pasokannya pun kurang.

Selain itu, Maluku Utara hanya bisa produksi beras 16 persen dari kebutuhan masyarakat, ketergantungan pada daerah lain masih cukup besar,” Kalesang.id (14/06/2023).

Selain di Maluku Utara, ada juga peristiwa yang terjadi di Papua Tengah, yang diperkirakan dampak dari El Nino. Sekitar tiga hari yang lalu, masyarakat di Papua tengah mengalami kelaparan akibat bencana kekeringan.

Ada sekitar enam orang meninggal dan masih ada 7.500 jiwa yang terdampak. Mereka kelaparan, akibat tanaman pangan yang gagal panen.

Makanan pokok seperti umbi dan jagung menjadi layu dan busuk sehingga gagal panen, dan terjadilah kelaparan massal, Mongabay Indonesia (02/08/2023).

Kemungkinan yang akan terjadi dapat merugikan para petani maupun masyarakat dan bahkan bisa mengancam nyawa. Peluang kerusakan pangan akibat El Nino sangat besar, apalagi produksi tanaman pangan—padi, jagung, umbi dan lainya, sangat mudah terpengaruh oleh keadaan iklim.

Menurut Runtunuwu et al, perubahan iklim yang terjadi dapat berpengaruh pada produktivitas tanaman. Olehnya itu, pemerintah harus melakukan pemantauan dan pemahaman yang baik tentang El Nino, agar dapat mengambil langkah-langkah pencegahan dan penyesuaian yang tepat untuk mengurangi dampaknya.

Di samping itu, para petani juga harus siap siaga dalam mengambil langkah, seperti melakukan irigasi yang efisien, penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan, pengelolaan hama dan penyakit dan sebagainya. Agar penurunan produksi ini tidak terlalu bermuara kepada tekanan inflasi yang lebih tinggi.