“dampaknya bagi Perempuan akibat ekspansi PT vale, bisa terjadi perekonomian sangat buruk di dalam rumah tangga dan kalau perekonomian kurang, pasti timbul KDRT,”ungkap Hasma akan kekhawatirannya.
Kalesang – Di Loeha Raya, merica bukan sekadar komoditas,ia adalah sumber kehidupan. Namun kini, aroma tanah basah yang biasa menyambut pagi para petani mulai tercampur dengan kekhawatiran, seiring langkah ekspansi PT Vale yang makin dekat ke jantung kebun-kebun mereka.
Loeha Raya, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, rempah-rempah tak sekadar komoditas. Ia adalah warisan, sumber penghidupan, dan ruang hidup masyarakat. Namun, sejak ekspansi pertambangan PT Vale mulai menjangkau wilayah ini, suara-suara perempuan petani mulai terdengar lebih lirih—terbebani oleh dampak yang mereka rasakan setiap hari.
Hasma Kaso, Ketua Pejuang Perempuan Loeha Raya, menggambarkan perubahan itu dengan sederhana tapi tajam. “Sungai masih jernih dulu, bersih. Tapi sesudah eksplorasi, sering ada perubahan. Air sungai sering keruh,” tuturnya.
Sebagai perempuan yang setiap hari bergantung pada air untuk urusan rumah tangga, kerusakan ini bukan hal kecil. “Kalau air sudah keruh, semua jadi susah. Masak, cuci, mandi. Dan perempuan paling merasakan itu,” ungkap hasma yang menggambarkan dampak dari rusaknya air di Loeha yang merambah tiap aktivitas perempuan.
Tak berhenti pada soal air, Hasma juga menyoroti dampak langsung terhadap tanaman lada (merica), tumpuan ekonomi masyarakat Loeha Raya. Ia menyebutkan kasus nyata yang terjadi di kebun petani lokal. “Pohon mericanya mati karena di atasnya ada eksplorasi. Ladahnya di bawah, tambang di atas—jadi mati. Itu seperti yang terjadi di kebunnya Pak Arya,” ujarnya.
Ali Kamri Nawir, Ketua Asosiasi Petani Lada Loeha Raya, menegaskan bahwa kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh satu-dua keluarga. Menurutnya, sejak PT Vale mulai beraktivitas di wilayah tersebut, penurunan produksi lada mulai terlihat. “Merica sudah ada yang terserang virus dan tidak tumbuh normal. Tanaman ini sangat sensitif terhadap bahan-bahan kimia, termasuk oli kendaraan tambang,” jelasnya.
Ali juga mencatat bahwa bukan hanya merica yang terdampak. Tanaman lain seperti durian, langsat, dan mangga menunjukkan gangguan pertumbuhan. “Buah langsat jadi keras dan tidak bisa dikonsumsi. Durian pun gagal berbuah. Itu artinya ada perubahan ekosistem,” katanya.
Lebih jauh, Ali menyuarakan sikap kolektif para petani terhadap ekspansi tambang: menolak. “Lada adalah satu-satunya sumber hidup warga di Loeha Raya. Kalau lahan pertanian ini ditambang, puluhan ribu orang kehilangan pekerjaan. Tidak ada yang bisa menggantikan itu”.
PT. Vale Memperluas Wilayahnya Hingga ke Loeha Raya

Kawasan Loeha Raya terdiri atas lima desa yaitu Desa Loeha, Ranteangin, Tokalimbo, Bantilang, dan Masiku. Dua desa yang menjadi titik konflik perusahaan dan petani adalah di Desa Loeha dan Rante Angin.
Kekhawatiran mulai tiba bagaikan sambaran petir terhadap para petani di Loeha raya saat munculnya berita masuknya PT.Vale Indonesia di lahan kebun merica Masyarakat, salah satunya di Rante angin yang mulai terdengar dari bulan Februari 2023. Meskipun pada tahun 2022 sudah ada pihak Perusahaan yang datang untuk melakukan pendataan. Hal tersebut membuat Masyarakat tertutup jika ada yang menanyakan perihal kebun lada (merica).
Salah seorang petani Perempuan di Rante angin Nurhasna atau biasa dipanggil Mama Upa yang mulai membuka lahan mericanya sendiri pada tahun 1987 sebelum ia menikah.
“kalau diambil Perusahaan kebun ta, Dimana ki lagi mau hidup? Nah itu ji yang bisa kasih sekolah anak dan bangun rumah,” ungkapnya dengan nada bicara yang terdengar sedikit lirih.
Rante Angin adalah salah satu dari lima desa hasil pemekaran Desa Loeha, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur. Desa Rante Angin memiliki penduduk berkisar 1.300 jiwa dengan Sebagian besar pekerjaan Masyarakat sebagai petani lada (merica).
Zulfaningsih HS, Kepala Divisi Perlindungan Ekosistem Hutan WALHI Sulsel juga memberikan data dari hasil riset yang dilakukan oleh Walhi bahwa lebih dari 90% Masyarakat disana mendapatkan penghasilan dari kebun merica, sisanya buruh bangunan. Luas lahan merica yang dikelola Masyarakat berkisar 3 juta pohon.
WALHI Sulsel mendata dengan menggunakan citra satelit dan keterangan dari para petani merica di Loeha Raya menunjukkan bahwa saat ini luas areal perkebunan merica yang eksisting di daerah itu seluas 4.239,8 Ha dengan total produksi sebesar 24.544 ton tiap tahunnya.
Tahun 2022-2023 PT Vale mulai menggemborkan tanah demi tanah di Loeha Raya dengan melakukan eksplorasi dengan cara pengeboran. Akibatnya, di tahun 2023 sumber air yang terdapat di kampung Barung Leo tercemar. “Pengeborannya itu banyak menggunakan bensin dan solar juga alat berat,jalan dan kebun petani banyak yang mati itu baru tahap awal eksplorasi, bagaimana jika benar-benar melakukan eksplorasi?” ungkap zulfaningsih mengenai kondisi di barung leo.
Penulis telah mencoba menghubungi humas Pt.Vale Warni tetapi tidak mendapatkan respon.
Tambang Dan Ancaman Terhadap Kehidupan
Kehadiran perusahaan tambang seperti PT Vale tidak hanya membawa dampak lingkungan, tetapi juga memecah masyarakat. “Ada konflik horizontal antar warga. Ada yang menolak tambang, ada yang menerima, tapi yang terima itu biasanya karena ada kepentingan,” kata Zulfaningsi.
Menurutnya, perempuan menjadi ujung tombak dalam gerakan perlawanan. Mereka tidak hanya menjaga tanah dan tanaman, tetapi juga martabat komunitas mereka. Ketika perusahaan mencoba masuk lewat program sosial seperti buka puasa bersama, sosialisasi pendidikan, bantuan Ramadan—perempuan tetap bersikukuh menolak.
“Mereka kuat, semangatnya luar biasa. Bahkan sampai Vale itu tidak bisa masuk karena perempuan di sana konsisten mempertahankan wilayahnya,” ungakapnya.
Musim panen lada di Loeha biasanya datang dua kali setahun, Juni hingga September dan November hingga Januari. Meski saat ini bukan musim panen, kondisi pertanian disebut masih stabil. Namun, ketahanan ini jelas bukan tanpa risiko.
“Kesejahteraan mereka bukan cuma soal ekonomi. Ada tekanan mental juga. Stres karena beban ganda, ketidakpastian penghasilan, ancaman dari luar. Tapi mereka tetap bertahan,” ujar Zulfaningsi.
Lada di Loeha bukan hanya komoditas unggulan. Ia adalah simbol ketangguhan perempuan pedesaan, yang di tengah kerasnya hidup dan derasnya tekanan, tetap tegak berdiri menjaga tanah, budaya, dan masa depan anak-anaknya.
Bagi perempuan petani, kehilangan tanaman lada berarti kehilangan pendapatan harian, belanja dapur, bahkan masa depan anak-anak. “Anaknya tidak disekolahkan karena tidak ada uang. Belanja pun susah. Pokoknya sangat terdampak. Kalau ekonomi rumah tangga terganggu, KDRT bisa terjadi. Itu kenyataannya,” ungkap Hasma dengan nada prihatin.
Di tahun 2024, zulfaningsih mengatakan ada tujuh petani yang dikriminalisasi atas dugaan pencemaran nama baik oleh salah satu anggota DPRD di Luwu Timur, satu orang petani Perempuan dan enam lainnya petani laki-laki, “Masyarakat melihat bahwa ada dugaan itu salah satu cara Perusahaan dan melihat anggota DPRD ini punya kepentingan atas proyek tambang di Loeha Raya,” ungkapnya.
Tak hanya kriminalisasi yang di dapatkan,dampak Kesehatan pun menimpa para petani Perempuan di Loeha Raya. Adanya dampak Kesehatan yang secara tidak langsung menimpa para Perempuan petani dengan menyasar aspek psikologinya. Tindakan eksplorasi membuat banyak Perempuan-perempuan petani mengalami kecemasan kemudian stress memikirkan dampak yang akan teradi pada kebun-kebun mericanya.
“mereka memikirkan bahwa kalau ketidakstabilan ekonomi dan konflik sosial akibat tambang, dapat mengicu kehilangan sumber mata pencaharian dan kemudian akan berdampak pada kesehatan mental perempuan,” ungkap zulfaningsih tentang perempuan petani di Loeha sebagai pengambil Keputusan utama dalam pertanian lada.
Di Loeha Raya, perempuan yang mengelola sumber keuangannya, terus menerima gaji pekerja, kemudian menentukan dijual ke mana hasil pertanian lada mereka.
Perempuan, sebagai penjaga kehidupan rumah tangga dan tanah, berada di garis depan menghadapi dampak ini. Tapi suara mereka kerap terpinggirkan dalam percakapan besar soal investasi dan pembangunan. Padahal, sebagaimana ditunjukkan Hasma dan rekan-rekannya, mereka lah yang paling tahu bagaimana rasanya kehilangan kendali atas air, tanah, dan masa depan.
Penulis : Gayatri Gani
