Kalesang – Warga Maluku Utara berkesempatan menyaksikan fenomena alam langka, yakni Gerhana Bulan Total atau yang sering disebut blood moon, pada dini hari tadi. Fenomena ini berlangsung cukup lama, sejak pukul 02.30 WIT hingga 03.53 WIT, dengan puncak totalitas tepat pada pukul 03.11 WIT.
Gerhana bulan kali ini menjadi istimewa karena hampir seluruh wilayah Maluku Utara, mulai dari Ternate, Tidore, Halmahera, hingga Kepulauan Morotai, berada dalam posisi ideal untuk mengamati fenomena tersebut. Langit yang relatif cerah di beberapa wilayah juga memudahkan warga menikmati gerhana tanpa perlu alat bantu khusus.
“Durasi totalitas lebih dari satu jam memberi kesempatan luas bagi masyarakat untuk mengabadikan momen ini. Meski bisa disaksikan dengan mata telanjang, penggunaan teleskop atau binokular membuat detail gerhana terlihat lebih jelas,” ujar seorang pengamat dari BMKG Stasiun Geofisika Ternate.
Fenomena Blood Moon
Dalam fase totalitas, bulan tampak berwarna merah keemasan akibat pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi. Efek ini sering disebut sebagai blood moon. Warna merah muncul karena cahaya biru dengan panjang gelombang pendek terhambur lebih dulu, sementara cahaya merah masih mampu menembus atmosfer dan mengenai permukaan bulan.
Durasi Panjang
Secara keseluruhan, sejak bulan memasuki bayangan penumbra hingga keluar sepenuhnya, gerhana ini berlangsung sekitar 5 jam 26 menit 39 detik. Bagi pecinta astronomi, durasi ini termasuk panjang dan jarang terjadi.
Antusiasme Warga
Sejumlah komunitas astronomi di Maluku Utara menggelar pengamatan bersama di beberapa titik, seperti kawasan pantai Dufa-Dufa (Ternate) dan lapangan terbuka di Morotai. Warga yang hadir tampak antusias, banyak yang menggunakan kamera dan ponsel untuk merekam fenomena langit ini.
Edukasi Astronomi
BMKG juga memanfaatkan momen ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang perbedaan gerhana bulan dan gerhana matahari, serta pentingnya memahami siklus astronomi dalam kalender astronomi modern.
Editor: Wendi Wambes
