Membaca Realitas

Penulis dan Pegiat Literasi di Ternate Sepakati Festival “TEMU” untuk Hidupkan Kembali Gairah Literasi

TERNATE, Kalesang  – Sejumlah penulis dan pegiat literasi di Maluku Utara menyepakati penyelenggaraan sebuah event literasi yang diharapkan dapat menjadi ekosistem baru bagi perkembangan dunia literasi di daerah. Kesepakatan tersebut dicapai dalam kegiatan buka puasa bersama yang digelar di Kedai Kofia, Lingkungan Sabia, Kelurahan Sangaji, Kota Ternate, Sabtu (14/3/2026).

Dalam pertemuan tersebut, para penulis dan pegiat literasi sepakat menyelenggarakan sebuah festival bertajuk TEMU, yang merupakan akronim dari Ternate Menulis.

Salah satu inisiator kegiatan Bukber Penulis dan Pegiat Literasi, Rajif Duchlun, mengatakan festival ini bertujuan untuk menghidupkan kembali gairah literasi di Maluku Utara yang dinilai telah lama kehilangan ruang kegiatan bersama.

“Event ini bertujuan untuk mengembalikan gairah literasi di Maluku Utara. Kegiatan ini tidak mewakili tokoh politik maupun kepentingan lembaga tertentu. Ini murni independen untuk tujuan literasi, karena sudah bertahun-tahun Maluku Utara tidak memiliki event literasi,” ujar Rajif.

Ia menjelaskan, festival tersebut direncanakan digelar pada akhir tahun 2026, sekitar awal Desember. Untuk mendukung pelaksanaannya, panitia membuka peluang pendanaan dari berbagai sumber.

Menurut Rajif, pembiayaan kegiatan direncanakan berasal dari donasi publik, dukungan pemerintah, maupun pihak swasta yang memiliki visi yang sama dalam memajukan literasi di Maluku Utara.

Sementara itu, Koordinator Festival TEMU, Wahyudin Gafur, mengatakan inisiatif penyelenggaraan festival ini lahir dari keresahan sekaligus kerinduan para pegiat literasi terhadap kondisi literasi yang dinilai semakin sepi dari ruang-ruang percakapan publik.

Ia menuturkan, melalui pertemuan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama tersebut, para penulis dan pegiat literasi sepakat membentuk sebuah festival yang bersifat terbuka dan merangkul berbagai kalangan.

“Ini menjadi ruang bersama sekaligus forum konsolidasi bagi semua orang yang mencintai dan ingin menghidupkan kembali semangat literasi di Maluku Utara,” kata Wahyudin.

Ia menambahkan, Festival TEMU diharapkan dapat menghadirkan ruang bagi siapa saja yang ingin berkarya, sekaligus menjadi wadah untuk belajar, berdiskusi, dan bertukar gagasan demi memperkuat ekosistem literasi di Maluku Utara.