Membaca Realitas

Kerinduan dan Tangisan

Oleh

Muhammad Asmar Joma

Setiap saat diri ini dihantui  dengan tangisan  pada semesta alam raya. Dingin dan hujan menerkam jiwaku Aku tak kuasa menahan perihnya penantian itu

Jangan sakit

Jangan pergi

Bagaimana aku bisa  pergi sementara  aku tidak memiliki kata yang cocok untuk meninggalkan mu. Aku tidak memiliki harapan untuk pergi bersama badai kebencian.

Aku takluk pada keputusan cinta ku. Sembari menanti mu adalah ikrar yang abadi bagi ku.

Aku takut diri ni akan asing selamanya. Rindu menjadikan ku hamba. Rindu menjadikan ku lupa pada yang tidak berkepastian. Rindu memilih kita untuk berjumpa kasih.

Yakinlah bahwa kau tak akan bahagia jika tidak bersama ku. Harta besar yang kau jaga dalam diri mu dengan ribuan hari, puluhan tahun, kini telah ku bawah. Jiwa yang suci itu, telah ku rebut.

Masihkah kau pergi menyebrangi gelombang kesedihan itu

Masihkah kau tidak rindu pada ku. Padahal setiap saat kau menangis dalam keramaian,kau berdoa dengan tangisan kerinduan dalam kesunyian, tapi malah kau rela pergi tampa membawa harta, yang telah dititipan Tuhan yang maha bijaksana pada mu.

Yaknilah kau tidak akan bahagia Wahay permata musaffir cinta. Harta mu adalah gengam ku. Pintu cahaya penuh makna terbuka lebar di hadapan mu. Cukupla sudah kau menangis. Aku ada di hadapan batin mu permata musaffir.