Membaca Realitas

Ada 13 Jenis Burung Endemik Maluku Utara di Danau Tolire Besar

TERNATE (kalesang) – Komunitas Pemerhati Satwa Liar Maluku Utara, gelar kegiatan perdana bertajuk Malut Bird Walk (MBW), di Danau Tolire besar yang menemukan 13 jenis burung endemik Maluku Utara. Minggu (4/12/2022).

Dewi Ayu Anindita, Kordinator kegiatan perwakilan dari anggota Halmahera Widlife Photografi (HWP) menuturkan, kegiatan ini perdana yang diberi nama MBW atau pengamatan burung.

“Kegiatan yang kami buat sekarang merupakan adopsi dari kegiatan sebelumnya, yang dibuat oleh teman-teman yang berada di Jakarta dan Jogyakarta.” Ungkapnya.

“Jadi kita anak-anak muda Maluku Utara, berinisiatif untuk membuat kegiatan ini, yang dilakukan seminggu sekali.” Ungkapnya.

Yang menjadi tujuan dari kegiatan ini kata Dewi, merupakan Inventarisasi data-data jenis burung dan jumlah burung yang ada di titik pengamatan yang ada di Maluku Utara lebih khususnya di Kota Ternate.

Selain itu kata dia, dalam kegiatan ini juga, untuk menjalin silaturahmi antara pecinta satwa liar, pengamat burung, maupun mahasiswa dan masyarakat luas juga pemerintah.

Dalam pengamatan perdana ini kata Dewi mereka berhasil memotret 13 jenis burung endemik Maluku Utara juga salah satu burung Batu Turam yang merupakan migran namun setiap tahunnya pasti ada.

Yang terbagi atas, Julang Papua, Kipasan kebun, Elang bondol, Walet sapi, Elang Alap Kelabu, Kehincap kilat, Wiwik Rimba, Walik Kepala Kelabu, Gosong Kelam, Madu Sriganti, Madu hitam, Titihan talaga, dan ditemukan Murai Batu Tarum (Migran namun setiap tahun pasti ada).

“Hasil pengamatan ini, tujuan kami nantinya akan dibukukan ataupun dibentuk tulisan ilmiah semacam jurnal, leaflet, poster. Dan tempat yang sudah dilakukan pengamatan kami akan menaruh ditempat tersebut agar masyarakat juga tahu.” Katanya.

Salah satu alumni Universitas Nasional Jakarta mengatakan, hal ini dilakukan sebagai bentuk kampanye kepada anak-anak muda dan masyarakat luas agar mereka bisa mengetahui tentang jenis-jenis burung yang ada di Maluku Utara itu seperti apa dan tahu pentingnya keanekaragaman burung endemik di Maluku Utara.

“Ini juga sebagai bentuk kampanye untuk pencegahan perdagangan dan perburuan satwa liar.” Kata Dewi.

“Harapannya, semoga pemerintah peduli akan keberadaan satwa liar, mengadakan pariwisata yang berbasis ekowisata, saling berdampingan dengan lingkungan, jangan cuma merusak namun ada manfaatnya.” Harapnya.

Kata dia, kegiatan seperti ini seharusnya pemerintah juga mensupport karena ini bukan hanya kepentingan pribadi tapi kepentingan bersama.

“Semoga hal ini bisa berjalan terus-menerus, banyak anak muda maupun masyarakat luas juga ikut bersama agar kita mengenali burung-burung yang ada di Maluku Utara.” Pungkasnya.

Adim, salah satu anggota Komunitas Pelestarian Satwa Sibel (KPSL) Akejiri, mengaku, yang tergabung dalam kegiatan ini ada tiga komunitas, yaitu HWP, KPSL Akejiri, dan Kompas Sibela.

Ia menambahkan, kegiatan BWD ini merupakan kegiatan perdana, namun untuk pengamatan-pengamatan sebelumnya sudah banyak dilakukan dari komunitas masing-masing.

“Jadi ada satu manfaat dari kegiatan ini untuk mahasiswa yang dasarnya kehutanan, yang penelitian terkait dengan burung, konservasi dan lain-lain, jadi kegiatan ini sangat berguna bagi mahasiswa kehutanan maupun yang berbasis lingkungan.” Tutupnya. (tr-04)

 

 

Reporter: Siti Halima Duwila
Redaktur: Wawan Kurniawan