Pick Up Dimodifikasi Jadi Angkutan Umum di Kepulauan Sula, Cek Tarifnya di Sini
Mukaram: Kebutuhan Sehari-hari Bisa Mencukupi
SANANA (Kalesang) – Para pecinta mobil di Provinsi Maluku Utara pasti akan kaget ketika melihat mobil pick up di Kabupaten Kepulauan Sula yang dimodifikasi menjadi angkutan umum.
Hal tersebut, bukan dilakukan tanpa alasan. Tetapi, dengan konidisi jalan yang terbilang cukup parah, dan jarak tempuh antar desa yang sangat jauh, sehingga mobil pick up dijadikan sebagai angkutan umum.
Meski begitu, banyak warga, khususnya di Kepulauan Sula yang sebagian besar belum tahu tarif dari mobil yang sering disebut dengan “Gem Kau Baren” itu.
Ada beberapa kecamatan di Kepulauan Sula yang memanfaatkan mobil pick up sebagai transportasi umum, salah satunya Kecamatan Sulabesi Selatan.
Baca Juga: Ini Tarif Longboat Dua Desa di Kepulauan Sula
Setiap penumpang yang naik mobil itu, tarif untuk per orang Rp25 ribu, itu untuk dewasa, sedangkan anak sekolah Rp15 ribu per orang.
Di Kecamatan Sulabesi Selatan sendiri, terdapat beberapa desa di dalamnya, di antaranya Desa Waigay, Fuata, Waitamua, Wainib dan Desa Sekom.

Mukaram Leko, salah satu supir angkut mengatakan, sebenarnya tarif yang ditetapkan Dinas Perhubungan Kepulauan Sula, untuk Desa Waigai-Sanana mestinya Rp30 ribu per orang dewasa.
“Tapi sekarang masyarakat masih tetap membayar Rp25 ribu. Mau tidak mau kami harus terima. Kalau dipaksakan, pasti orang tidak mau naik mobil saya lagi.” Katanya, Kamis (5/1/2023).
Baca Juga: Ratusan Calon Anggota PPS di Kepulauan Sula akan Tes Tertulis
Mukaram mengaku sudah beberapa tahun bawa mobil tersebut. Tentu, di balik perjalanan yang panjang, dia pernah alami kecalekaan di tahun 2022 lalu.
“Pada saat peristiwa itu, tidak ada penumpang yang luka-luka maupun korban jiwa. Waktu itu mobil sedang naik ke gunung terjal, tepat di belakang Desa Manaf, lalu mobil tak bisa naik, sehingga mobil berjalan mundur sekira beberapa meter.” Ucapnya.
Dengan kondisi jalan di sekitar Waikolbota yang sudah rusak ini, dia sangat khawatir. Jadi setiap kali lewat di jalan tersebut, harus lebih hati-hati.
Baca Juga: Wow! Sebanyak 9.868 Orang Tidore Terjangkit Penyakit ISPA
“Jika lewat di Waikolbota kemudian muatannya banyak, ditambah dengan penumpang, saya selalu perintah agar turun dari mobil. Ini demi keselamatan.” Bebernya.
Untuk penghasilan, kata Mukaram, yang didapatkan setiap hari Rp300 ribu. Itupun tergantung penumpang. Tapi kalau sepi, hanya bisa meraup Rp150 ribu per hari.
“Dengan pendapatan itu, Alhamdulillah kebutuhan untuk keluarga sehari-hari bisa mencukupi.” Pungkasnya.
Reporter: Karman Samuda
Redaktur: Junaidi Drakel
