TERNATE (kalesang) – Siang itu mendung, gerimis baru saja usai menyapu Kota Ternate, Maluku Utara. Seorang wanita paruh baya tampak sibuk membersihkan tanaman hias yang ditata berundak menggunakan papan, di salah satu lokasi penjualan tanaman hias di pelataran Benteng Oranje Ternate.
Warna-warni berbagai jenis bunga yang biasanya dipajang di dalam dan luar ruangan seperti Aglonema, Begonia, Pilo, Sensipera dan masih banyak lagi indah tertanggkap mata.
Wanita berumur 53 tahun itu bernama Nuryani, ia berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah dasar di Kota Ternate, namun sebagian besar waktunya ia gunakan untuk berdagang tanaman hias.
Saat bertemu kalesang, Nuryani sedang menunggu pelanggan datang membeli, sembari merawat kembang dagangannya. Kadang berhari-hari tak ada pembeli, namu jika nasib baik berpihak, berbagai jenis bunga akan laku diborong sekaligus. “Menjual tanaman hias tidak seperti jualan Sembako, butuh kesabaran yang tinggi.”Ungkap Nuryani tersenyum.
Aktifitas menjual tanaman hias, sudah Nuryani geluti sejak tahun 90an. Awalnya mulai dari depan teras rumahnya hingga punya tempat di pelataran bagian selatan Benteng Oranje bersama beberapa pedagang bunga hias lain.
Wanita Kelahiran Lampung ini mengaku, hanya dari hasil menjual tanaman hias ia berhasil menyekolahkan anak bungsunya hingga sarjana di salah satu universitas ternama di Yogyakarta.
“Saya punya anak yang bungsu bisa sarjana dengan hasil jualan tanaman hias. Jadi dia itu bisa dibilang sarjana bunga.”Ucapnya tertawa.
Tanaman hias yang ia datangkan dari Kota Manado dan Pulau Jawa dijual dengan harga bervariasi karena harus menyesuaikan dengan ongkos angkut ke Ternate. Namun ia menolak untuk menyebutkan ke publik harga pasti bunga yang ia jual, karena khawatir sewaktu-waktu harga berubah karena beberapa factor seperti cuaca dan ongkos kirim yang berubah.
“Disini kita jual dengan harganya yang beda semua. Tapi kita belum bisa kasi tahu. Takut nanti harga berubah.” Ucap ibu dari empat anak itu.
Para pedagang di lokasi itu sempat jualan di Pasar Gamalama, lantas dipindahkan ke bagian barat Benteng Oranje, lalu dipindahkan lagi ke belakang Rumah Sakit Darma Ibu yang lama dan sekarang ditempatkan di lokasi utara Benteng Oranje.
“Lapak tempat berjualan ini kita sendiri yang buat. Yang penting pemerintah menyediakan tempat, itu sudah bersyukur. Memang tidak terlalu besar. Tapi tidak masalah,”Ujar alumnus Ilmu Keguruan Universitas Khairun Ternate ini.(tr-01)
Reporter: Juanda Umaternate
Redaktur: Wawan Kurniawan
