Membaca Realitas

Angka Kematian Bayi di Kepulauan Sula Tertinggi, Ini Penjelasan Kadis Kesehatan

Suryati: Kami akan Lakukan yang Terbaik untuk Masyarakat

 

SANANA (kalesang) – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara, angka kematian bayi di 10 kabupaten/kota, Kepulauan Sula berada di posisi pertama.

Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Kepulauan Sula, Suryati Abdullah. Menurutnya, dari tahun 2021-2022 angka kematian bayi di Kepulauan Sula alami penurunan, namun jika dilihat berdasarkan 10 kabupaten kota, maka Kepulauan Sula masih tertinggi.

“Ini karena letak geografi, sehingga mengakibatkan keterlambatan dalam hal penindakan, dengan jarak yang jauh, apalagi kalau dari Pulau Mangoli ke Kota Sanana butuh waktu berjam-jam.” Katanya, Rabu (1/2/2023).

Berita Terkair: Angka Kematian Bayi di Kepulauan Sula Tertinggi se Maluku Utara

Dengan adanya angka kematian bayi ini, lanjutnya, maka pemerintah telah menyiapkan sarana untuk memudahkan dalam penanganan, seperti rumah tunggu.

Setiap kecamatan di Kepulauan Sula, Suryati menambahkan, sudah memiliki rumah tunggu. Agar ibu hamil yang sudah terdeteksi memiliki risiko tinggi, bisa menggunakan tempat tersebut sebagai pusat pemantauan.

“Namun kadang masyarakat ini belum terlalu paham untuk menggunakan fasilitas yang telah dijelaskan oleh pemerintah.” Ucapnya.

Baca Juga: Maret 56 Mahasiswa Prodi Akuntansi UMMU Ternate Diwisuda

Untuk rumah tunggu sendiri, kata Suryati, telah tersedia di kecamatan Mangoli Tengah, Mangoli Barat, Kecamatan Sanana dan ada beberapa kecamatan lainnya.

“Kasus kematian bayi tertinggi ini jadi tantangan bagi pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan agar lebih giat lagi melakukan sosialisasi untuk pemanfaatan rumah singgah yang sudah disediakan.” Ujarnya.

Di tahun 2023 ini, Suryati menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula telah mendapatkan bantuan pembangunan rumah sakit di Dofa, Kecamatan Mangoli Barat. Semoga saja dapat terlaksana dengan baik.

“Jadi kalau ada masyarakat yang mengalami sakit dengan risiko tertentu, aksesnya menjadi lebih dekat ketimbang harus dirujuk ke Sanana yang membutuhkan waktu cukup lama. Yang jelas kita terus lakukan upaya terbaik dalam melakukan pelayanan di Kepulauan Sula.” Tandasnya.

 

Editor: Junaidi Drakel